SUKABUMIUPDATE.com - Pelaksanaan pendidikan dasar The Great Camping XXXVII Mapala Unisi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta telah mengakibatkan tiga peserta meninggal dunia. Ada sejumlah luka ditemukan di tubuh korban.
Sejumlah peserta membantah ada tindakan kekerasan yang mereka alami selama mengikuti diksar. Kegiatan fisik seperti merayap di tanah mereka nilai wajar meskipun ada luka-luka pada punggung kedua tangan mereka.
“Luka-luka itu karena saat merayap kena duri-duri,†kata peserta diksar berinisial F yang saat dihubungi suaranya terdengar ragu-ragu menjawab, Rabu, 25 Januari 2017.
F mengaku tidak mengalami luka-luka parah. Saat hujan turun, apabila tengah menjalankan materi diksar, peserta tetap kehujanan. Namun apabila tidak sedang menjalankan materi, mereka diperbolehkan berteduh.
F adalah salah satu dari peserta diksar yang tidak diopname di rumah sakit Jogja International Hospital (JIH). Dari 37 peserta, sebanyak 3 orang meninggal dunia, 10 orang dirawat di JIH, dan sisanya rawat jalan.
“Sudah dua kali saya menjalani pemeriksaan kesehatan di JIH. Kalau sakit diminta kontrol,†kata F yang buru-buru mematikan telepon dengan alasan sedang ada kegiatan.
Sementara itu, peserta dengan inisial R menjelaskan memang ada tindakan berupa menampar atau pun menyabet badan dengan ranting. Namun tindakan tersebut, menurut R bukan untuk menyakiti.
“Tapi biar peserta fokus. Jadi ada tamparan dan pukulan dengan ranting,†kata R yang juga dihubungi melalui telepon.
Tindakan tersebut juga untuk mencegah peserta mengalami hipotermia mengingat mereka kehujanan dan hawa di lokasi dingin.
“Jadi tujuan kontak fisik itu ya begitu filosofinya,†kata R yang juga peserta yang tidak diopname.
Sedangkan kegiatan selama diksar, menurut R antara lain ada rock climbing atau panjat tebing, juga survival untuk melatih bertahan hidup di alam dengan makan tumbuh-tumbuhan di sana.
Almarhum Syaits Asyam, 20 tahun, mahasiswa Teknik Industri dari Sleman mengaku kepada ibunya, Sri Handayani telah disabet punggungnya dengan rotan, diinjak kakinya, juga menenteng air dengan menggunakan leher. Sedangkan almarhum Ilham Nurpadmy Listia Adi (20 tahun) mahasiswa Fakultas Hukum juga mengaku kepada ayahnya, Syafii melalui telepon telah mendapat pukulan.
“Tapi saya tidak tahu, dipukul pada bagian mana,†kata Syafii saat ditemui di Rumah Duka Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, Selasa, 24 Januari 2017 lalu.
Keduanya yang sempat dirawat di Bethesda juga mengalami luka serius. Berdasarkan catatan medis yang disampaikan Kepala Bagian Humas dan Marketing Bethesda Nur Sukawati yang biasa dipanggil Nuri, Asyam mengalami patah tulang multiple trauma berdasarkan hasil foto thorax.
“Jadi hampir semua tulang rusak. Bagian kedua kaki, tangan, pantat, dan punggung. Juga diare dan gagal nafas,†kata Nuri saat ditemui di ruang pertemuan Bethesda, Selasa, 24 Januari 2017.
Sedangkan Ilham mengalami berak darah segar (hematotisia) dan ada trauma pada abdomen atau sekitar perut, juga mengalami berak darah hitam (millennia). Untuk menambah darah yang terus keluar, Ilham pun menjalani tranfusi hingga menghabiskan satu kantong darah.
“Kondisinya kritis karena berak darah terus,†kata Nuri.
Sumber: TEMPO
Editor : Administrator