Sukabumi Update

HG: Pemerintah Jangan Hanya Kejar Pertumbuhan, Ingat Pemerataan

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi XI DPR Heri Gunawan menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di level 4-5%. Pertumbuhan ekonomi terbilang kurang membahagiakan juga disebabkan karena pelemahan ekonomi dunia. Namun, ada beberapa kalangan yang menuturkan resep agar ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 6%.

"Saya mengapresiasi seluruh saran dari publik sepanjang hal tersebut logis, valid dan realistis. Dan pemerintah seharusnya menampung seluruh saran-saran tersebut sebagai input pada setiap pengambilan kebijakan," kata HG, sapaan akrab Heri Gunawan kepada sukabumiupdate.com, Jumat (27/1).

Terkait rasio investasi terhadap PDB, menurut HG, harus diakui bahwa rasio investasi domestik masih berada di kisaran 32% terhadap PDB. Selama ini, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh konsumsi domestik yang berkontribusi sebesar 56% dari total PDB. Tapi, tidak cukup menaikkan rasio investasi saja, distibusinya juga sangat menentukan.

Dari data yang ada, pada tahun 2016, realisasi investasi asing secara sektoral masih dominasi oleh Sektor Perindustrian (78,97 persen), kemudian diikuti oleh Sektor Keuangan (5,50 persen). Sedangkan untuk sektor produktif seperti pertanian-perkebunan-kelautan, masih sangat rendah, yaitu di bawah 5%.

"Yang tidak kalah penting adalah perhatian serius pemerintah pada soal ketimpangan wilayah investasi antara Jawa dan Luar Jawa. Data per September 2016, realisasi investasi masih terpusat di Jawa meskipun investasi di luar Pulau Jawa sedikit meningkat yaitu menjadi sebesar Rp203,2 triliun," ungkap politikus Partai Gerindra ini.

Terkait rasio tabungan terhadap PDB yang berada di level 34%, itu adalah salah satu cara untuk menopang kebutuhan investasi. Tapi, yang diperlukan sekarang adalah bukan sekadar angka-angka di kertas. Tapi eksekusi, Bagaimana mungkin orang bisa nabung sedang untuk belanja saja sulit.

Menyoroti defisit transaksi berjalan yang berada di level 3%, HG melihat bahwa saat ini pemerintah sedang berupaya untuk menurunkan defisit tersebut. Dari laporan BI tercatat bahwa defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) turun menjadi 1,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau 4,5 miliar dollar AS pada kuartal III 2016.

Angka ini membaik dibandingkan 2,2 persen dari PDB atau 5 miliar dollar AS pada kuartal II 2016. Penurunan itu ditopang oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas sejalan dengan meningkatnya harga ekspor komoditas primer dan menurunnya impor nonmigas, serta menyempitnya defisit neraca perdagangan migas seiring dengan meningkatnya ekspor gas.

Namun, pemerintah tetap musti melihat bahwa penyebab necara perdagangan membaik bukan karena terjadi kenaikan ekspor yang signifikan, tapi karena adanya penurunan impor.

Dalam soal mencapai pertumbuhan ekonomi ke depan, HG menyimpulkan: pertama, pemerintah jangan hanya mengejar pertunbuhan yang tinggi. Tapi, juga harus melihat dampak pertumbuhan tersebut terhadap pengangguran, kemiskinan, dan peningkatan kebutuhan dasar. Tidak ada gunanya tumbuh 6% jika hanya menciptakan ketimpangan.

Kedua, pemerintah tetap musti realistis dalam mematok pertumbuhan ekonomi. Hingga saat ini dengan melihat kecenderungan perekonomian global, ke depan ekonomi nasional diperkirakan hanya bisa tumbuh di kisaran 5,1% -  5,3%.

Ketiga, masalah investasi harus seperti penyederhanaan izin dan fasilitasi penyelesaian permasalahan yang dihadapi investor harus menjadi fokus pemerintah baik di pusat dan di daerah. Koordinasi dan sinergi yang baik antara pusat dan daerah harus terbangun dengan baik. Masih banyak daerah-daerah yang belum mengadopsi langkah-langkah debirokratisasi di pusat.

"Keempat, kalau program amnesty pajak dapat berjalan dengan baik, seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan itu sebagai kebutuhan investasi, terutama untuk sektor-sektor produktif khususnya di luar Jawa," tandasnya.

Editor : Administrator

Tags :
BERITA TERPOPULER
BERITA TERKINI