Sukabumi Update

Raja Arab Datang, Kemana Partai-partai Islam?

SUKABUMIUPDATE.com -  Menjelang kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesi, Selasa (28/2), berbagai instansi dan tempat yang akan dikunjunginya sibuk berbenah, dari istana hingga Bali tempat liburan rombongan yang berjumlah 1.500 orang tersebut. Gedung DPR hingga pengamanan. Namun, beberapa hari belakangan, tak santer terdengar komentar partai-partai Islam di negeri ini menyangkut kunjungan Raja Arab itu.

Pengamat politik Adi Priyanto dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta,  berpendapat mengenai  sambutan sepi-sepi saja dari parta-partai Islam. Sejatinya, sebagai partai Islam, mereka juga menyiapkan karpet merah bagi sang Raja negara Islam itu. "Tapi, sekali lagi,  kehebohan itu tidak tampak, adem ayem, dan terkesan tak biasa-biasanya," ujar Adi.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah Fahri  pun menjawab singkat, mengenai rencana kedatangan Raja Arab ke Gedung DPR direncanakan pada 2 Maret sekitar pukul 13.00. "Kami jemput di sana (depan Gedung Nusantara III) lalu masuk ke holding room," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/2).

Saat berada di holding room, Ketua DPR Setya Novanto akan memberikan sambutan. Setelah pemberian kata sambutan, akan diputar film tentang hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi. "Lalu selesai," ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, singkat.

Ketidak antusiasan partai-partai Islam menanggapi kedatangan Raja Salman itu menurut Adi, bisa jadi  kedatangannya hanya dianggap sebagai kunjungan bilateral dua negara. "Bukan dengan sejumlah parpol maupun ormas tertentu. Jadi, protokolernya cukup jelas sesuai SOP dan Protap kenegaraan," katanya. Sebab itulah, nilai dan manfaatnya hanya milik negara, bukan milik partai Islam.  "Makanya, partai-partai Islam itu tak ikutan heboh menyambung Raja Salman," kata dia.

Hal lain, pendapat Adi,  hitung-hitungannya tak berdampak pada elektabilitas partai-partai Islam. "Meski orang nomor satu di Arab Saudi itu datang ke indonesia, namun partai-partai Islam menganggap tak memiliki korelasi positif bagi kenaikan suara partai-partai Islam di sini," ujarnya. Apalagi di tengah pragmatisme partai, kunjungan yang memiliki arti konkret, jelas tak dihiraukan. "Siapapun yang datang, partai-partai  itu biasanya berbuat hanya untuk insentif elektoral," katanya.

Asumsi Adi lainnya,  sepinya sambutan tersebut menegaskan bahwa partai-partai Islam di Indonesia tak memiliki ikatan ideologis-historis apapun dengan raja-raja Arab. “Sekalipun PKS yang kerap ditengarai sebagai partai tertutup hasil penetrasi ideologi Arab, wahabi, nyatanya tak beririsan dengan Raja Arab secara langsung,” katanya.

 

Sumber: TEMPO

Editor : Administrator

Tags :
BERITA TERPOPULER
BERITA TERKINI