SUKABUMIUPDATE.com - Social Awareness bakal digalakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).
"Anak merupakan produk keluarga. Artinya, apapun yang dilakukan oleh anak di dalam rumah tangga, tidak lepas dari pola pengasuhan, interaksi, dan komunikasi yang dilakukan oleh orang tua," ungkap Ketua P2TP2A, Netty Prasetyani Heryawan, usai membuka acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-24 dan Hari Anak Nasional tingkat Provinsi Jawa Barat 2017 di SOR Arcamanik, Bandung, Minggu (30/7/2017).
Seperti dilansir jabarprov.go.id, komunikasi di dalam keluarga harus dibangun dengan baik, dengan menciptakan suasana kehangatan, keterbukaan, dan kebersamaan. Maka setiap masalah yang dihadapi anak pasti diketahui orang tua.
"Setiap masalah anak pasti bisa didiskusikan, apa yang menjadi solusi dan jalan keluarnya," tutur Netty.
Menurutnya, ada dua jenis orang tua yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pola pengasuhan benar dan baik. Begitu pun lanjutnya, ada jenis anak yang sebagian memiliki karakter introvert.
"Sebetulnya anak yang introvert dengan keluarga tidak boleh ada sekat," tuturnya.
Persoalannya kata Netty, ketika anak-anak memiliki karekter tersebut mendapatkan pola pengasuhan dari keluarga maupun orang tua yang tidak peduli dan berempati terhadap permasalahan yang dihadapi anak.
"Sehingga, ketika anak menghadapi permasalahan, dia merasa tidak punya jalan keluar. Anak-anak ini merasa sendirian, akhirnya memilih solusi yang gampang bahkan merugikan diri sendiri," ucapnya.
Selain pengasuhan, solusi bagi penanggulangan kepribadian anak yang introvert, perilaku yang dibangun adalah sosial awareness. Ketika anak berada di lingkungan masyarakat, maka indikator tekanan atau depresi ini harus dibaca lingkungan sekitarnya.
"Misalnya anak dari asalnya ceria menjadi pendiam, dari gembira menjadi sedih. Ini kemudian harus diidentifikasi oleh lingkungan sosial," imbuhnya.
Dengan momentum hari keluarga dan anak ini, sambung Netty, harus menjadi momentum bersama. "Anakku adalah anakmu, anakmu adalah anakku dalam konteks perlindungan," tegasnya.
Lebih jauh Netty menjelaskan, siapapun yang menemukan anak Indonesia bermasalah, baik mendapatkan permasalahan fisik maupun psikologis harus memiliki kepedulian bersama untuk mengentaskan permasalahan anak.
"Kita berharap, mudah-mudahan berkumpulnya para orang tua maupun pejabat struktural, baik tingkat Provinsi atau Pusat, akan semakin memperkuat komitmen kita terhadap tumbuh kembang anak," pungkasnya.
Editor : Administrator