SUKABUMIUPDATE.com – Persib Bandung sukses mengukuhkan diri sebagai juara paruh musim Super League 2025/2026 setelah menumbangkan rival abadi, Persija Jakarta. Namun, kemenangan tipis 1-0 dalam laga bertajuk "Derby Indonesia" di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (11/1/2026), ini menyisakan cerita kelam bagi gelandang Maung Bandung, Thom Haye.
Pertandingan berlangsung dengan tensi tinggi sejak peluit pertama dibunyikan. Gol semata wayang kemenangan Persib tercipta kilat pada menit ke-5. Berawal dari skema serangan balik cepat, Berguinho melakukan aksi individu menawan di sisi kanan sebelum mengirimkan umpan matang yang diselesaikan dengan tenang oleh Beckham Putra.
Di balik euforia kemenangan, sorot kamera sempat menangkap momen emosional Thom Haye yang tampak geram di lapangan hingga harus ditenangkan oleh pelatih Bojan Hodak. Melalui unggahan story di Instagram pribadinya usai laga, gelandang Timnas Indonesia itu akhirnya buka suara sekaligus curhat mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Baca Juga: Menang 1-0 atas Persija, Persib Bandung Pastikan jadi Juara Paruh Musim Super League
Dalam curhatannya, pemain berdarah Belanda yang dijuluki "The Professor" ini mengaku bangga dengan perjuangan tim dan atmosfer luar biasa dari Bobotoh. Namun, ia menyayangkan banyaknya insiden tidak terpuji yang menodai kualitas pertandingan.
Lebih jauh, Haye mengungkap fakta mengejutkan. Ia mengaku menerima ancaman kematian serta pesan-pesan mengerikan yang ditujukan kepada keluarganya.
Berikut pernyataan lengkap Thom Haye usai laga Persib Bandung vs Persija Jakarta, yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia:
"Kami memenangkan derby hari ini dan saya bangga dengan tim kami dan Bobotoh.
Saya benar-benar percaya sepak bola Indonesia memiliki potensi. Semangat dan atmosfernya istimewa.
Pada saat yang sama, saya merasa sedih, sangat disayangkan terlalu banyak pertandingan yang dibayangi oleh perilaku tidak hormat dan pelanggaran yang tidak perlu.
Sangat menyedihkan melihat pemain berkontribusi pada hal ini dan merusak kualitas permainan. Yang gila adalah jika Anda menyuarakan pendapat tentang hal itu, mereka malah ingin berkelahi lebih banyak. Rasa hormat sangat penting untuk pertumbuhan permainan.
Dan satu hal terakhir... Saya bisa menerima banyak hal sebagai seorang profesional, tetapi saya ingin dengan hormat meminta orang-orang yang mengirimkan harapan kematian dan pesan-pesan mengerikan kepada keluarga saya untuk berhenti. Sepak bola seharusnya tidak pernah sampai sejauh itu.
Mari kita bangun lingkungan sepak bola yang lebih baik bersama-sama untuk para pemain, untuk para penggemar, dan untuk masa depan sepak bola Indonesia."
Editor : Denis Febrian