Sukabumi Update

Kejurda Catur Jabar Jadi Panggung Mimpi Pecatur Cilik, Kenzo Ingin Jadi Grand Master Dunia

Momen pecatur cilik saat mengikuti Kejurda Catur Jabar 2026 Kota Sukabumi, Selasa (16/6/2026). (Sumber Foto: SU/Asep Awaludin)

SUKABUMIUPDATE.com – Di tengah ketatnya persaingan ratusan pecatur terbaik dari berbagai daerah di Jawa Barat dalam ajang Kejurda Catur Jabar 2026 Kota Sukabumi, terselip kisah inspiratif dari seorang bocah berusia 11 tahun asal Kota Bandung bernama Kenzo.

Peserta kategori junior ini menyimpan cita-cita besar untuk menyandang gelar tertinggi dalam dunia catur, yakni Grand Master (GM) dunia layaknya Magnus Carlsen, idolanya.

Meski baru pertama kali mencicipi atmosfer kompetisi tingkat Kejurda, Kenzo datang ke Sukabumi dengan persiapan yang tidak main-main. Ia mengaku memperdalam berbagai aspek permainan catur, mulai dari opening, middle game hingga end game agar mampu bersaing di kejuaraan tersebut.

“Banyak belajar opening, middle game sama end game. Banyak lah pokoknya persiapan yang dilakukan biar siap pas pertandingan di Kejurda ini,” kata Kenzo kepada sukabumiudate.com di salah satu hotel di Sukabumi pada Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Diikuti 344 Peserta, Kejurda Catur Jabar 2026 di Sukabumi Jadi Ajang Cari Bibit Grand Master

Kecintaannya terhadap catur bermula sekitar dua tahun lalu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia melihat teman-temannya bermain catur dan mencoba ikut bermain. Sejak saat itu, permainan yang mengandalkan strategi tersebut justru membuatnya jatuh hati.

“Pertama kali suka catur itu saya lihat teman main catur di sekolah, terus saya mau cobain jadi kesenangan saja sampai sekarang,” ujarnya.

Kenzo (kiri) bermimpi jadi grand master catur dunia seperti Magnus Carlsen.Kenzo (kiri) bermimpi jadi grand master catur dunia seperti Magnus Carlsen.

Dukungan keluarga turut menjadi penyemangat bagi Kenzo. Ia mengaku memiliki anggota keluarga yang piawai bermain catur sehingga membuatnya semakin tertarik mendalami olahraga tersebut.

Meski baru meraih prestasi di tingkat pertandingan antar sekolah, Kenzo memiliki target besar. Ia ingin mengharumkan nama kedua orang tuanya melalui prestasi di papan catur.

“Kalau saya bisa membanggakan orang tua dengan mencapai raihan juara catur,” ucapnya.

Tak berhenti di situ, Kenzo juga menatap masa depan yang lebih tinggi. Dengan penuh keyakinan, ia berharap suatu hari dapat menyandang gelar Grand Master, gelar tertinggi dalam dunia catur.

“Tentu saja saya pengen menjadi Grand Master ke depannya. Atlet idola saya Magnus Carlsen,” ungkapnya.

Baca Juga: Motor Raisa Dicuri di Nagrak Sukabumi, Pelaku Tertangkap Warga Usai Tabrak Tembok Masjid

Semangat serupa juga ditunjukkan Ayesha Kirani Rovihansyah (6), peserta asal Kabupaten Bogor. Meski baru mulai belajar catur sejak Januari 2026 dan baru dua kali mengikuti perlombaan, Ayesha sudah memiliki cita-cita menjadi atlet catur.

“Karena pas waktu itu saya melihat catur di Ragunan jadi ketagihan, saya pengen jadi atlet catur,” kata Ayesha.

Sementara itu, Ketua Harian Percasi Kota Sukabumi, Erwin, mengatakan Kejurda Catur Jawa Barat tahun ini mempertandingkan 17 kelompok, terdiri dari 14 kelompok junior serta kelompok senior putra, senior putri dan veteran.

Sebanyak 344 peserta dari 24 kota dan kabupaten di Jawa Barat ambil bagian dalam kejuaraan yang berlangsung selama empat hari, mulai Selasa hingga Jumat. Sejumlah atlet nasional juga turut ambil bagian dalam ajang tersebut.

Menurut Erwin, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara kuat di dunia. Jika India telah memiliki sekitar 98 Grand Master, Indonesia saat ini baru memiliki empat GM.

“Kalau posisi Indonesia di dunia tentunya masih tertinggal sangat jauh. India saja sudah punya 98 GM, kalau kita hanya punya empat GM saja. Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini bisa melahirkan talenta baru yang bisa menjadi GM yang dikenal dunia,” katanya.

Plt Ketua Umum Pengda Percasi Jawa Barat M. Ridlo Eisy menambahkan, Kejurda ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mempersiapkan diri menghadapi Kejuaraan Nasional di Banten sekaligus memetakan kekuatan lawan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

Ia menegaskan, pembinaan catur sejak usia dini memiliki manfaat besar, tidak hanya untuk mencetak pecatur berprestasi, tetapi juga membentuk karakter anak menjadi pribadi yang tekun dan mampu berpikir strategis.

“Kalaupun dia nantinya tidak jadi pecatur, setidaknya dia sudah terlatih menjadi anak yang tekun seperti pion, atau anak yang pandai berstrategi,” ujarnya.

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT