SUKABUMIUPDATE.com - FIFA telah melakukan proses penyerangan terhadap pemain Argentina, Leandro Paredes dan Nahuel Molina serta asisten pelatih Roberto Ayala terkait kerusuhan dengan pemain Spanyol setelah berakhirnya laga final Piala Dunia 2026.
Sebelumnya FIFA telah melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut yang menodai perayaan setelah laga tersebut. FIFA juga telah memulai proses disipliner terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) terkait dugaan pelanggaran regulasi yang terjadi dalam sejumlah pertandingan sepanjang Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Argentina Resmi Lolos ke Piala Dunia 2030, FIFA Siapkan Format Baru 64 Tim
Selain itu, Thiago Almada dari Argentina dan gelandang Spanyol Gavi turut menjalani proses hukum atas dugaan tindakan tidak sportif selama turnamen berlangsung.
Meski demikian, kasus yang melibatkan Leandro Paredes, Nahuel Molina, dan Alejandro Garnacho Ayala menjadi sorotan utama karena dianggap paling serius. Ketiganya diduga terlibat bentrokan di lapangan dengan para pemain Spanyol, yakni Gavi, Rodri, dan Dani Olmo.
Apabila terbukti bersalah setelah proses disipliner selesai, Paredes, Molina, dan Ayala berpotensi menerima hukuman berat berupa larangan tampil dalam beberapa pertandingan resmi. "Sesuai dengan Kode Disiplin FIFA, para pihak yang bersangkutan kini telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan posisi mereka, setelah itu keputusan akan dikeluarkan oleh Komite Disiplin FIFA pada waktunya," ujar FIFA dilansir dari espn.
Proses hukum yang menjerat Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) berkaitan dengan dugaan penggunaan nyanyian serta pesan-pesan yang dianggap tidak pantas, termasuk muatan politik mengenai Kepulauan Falkland, yang diklaim Argentina sebagai Islas Malvinas, tetapi hingga kini masih berada di bawah administrasi Inggris.
Seusai menyingkirkan Inggris pada babak semifinal, para pemain Argentina sempat membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina". Spanduk tersebut kemudian ditinggalkan di lapangan setelah pertandingan berakhir.
Selain persoalan tersebut, AFA juga tengah menghadapi penyelidikan lain terkait dugaan tindakan bernuansa rasis yang terjadi selama turnamen berlangsung.
"Komite Disiplin FIFA telah membuka proses hukum terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina atas potensi pelanggaran pasal 13 ayat 2 c) (Menggunakan acara olahraga untuk demonstrasi yang bukan bersifat olahraga), pasal 14 ayat 5 (Perilaku buruk tim), pasal 15 (Diskriminasi dan pelecehan rasis) dan pasal 17 (Ketertiban dan keamanan di pertandingan) dari Kode Disiplin FIFA sehubungan dengan nyanyian dan gestur diskriminatif, keterlambatan kick-off, kegagalan untuk mematuhi protokol pertandingan dan keamanan, tampilan pesan yang tidak pantas oleh tim dan penonton serta pelemparan benda oleh penonton terkait dengan beberapa pertandingan tim perwakilan Argentina di Piala Dunia FIFA 2026." tulis pernyataan FIFA.
Argentina harus mengubur ambisinya mempertahankan gelar juara dunia setelah kalah tipis 0-1 dari Spanyol pada partai final Piala Dunia, 12 Juli lalu. Gol semata wayang yang dicetak Ferran Torres di babak perpanjangan waktu memastikan kemenangan La Furia Roja sekaligus menggagalkan upaya skuad asuhan Lionel Scaloni untuk menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu menjuarai Piala Dunia dalam dua edisi berturut-turut.
Sumber: espn.com
Editor : Muhammad Farhan Al Rasyid