Sukabumi Update

Biar Nggak Lupa! Hari ini 6 Tahun Lalu: Gempa Dangkal Sangat Merusak di Kabandungan Sukabumi

Salah satu bangunan rumah yang ambruk akibat gempa bumi di kecamatan Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu, 10 Maret 2020 (Sumber: dok daryono)

SUKABUMIUPDATE.com - ENAM tahun lalu, tepatnya pada Selasa 10 Maret 2020 sore hari pukul 17.18.04 WIB, wilayah Kalapanunggal di Kab. Sukabumi, Jawa Barat, diguncang gempa  berkekuatan M5,0. Secara angka, gempa ini tidak tergolong besar. Namun dampaknya tidak kecil. 

Data mencatat sedikitnya 9 orang mengalami luka-luka dan sekitar 1.782 bangunan mengalami kerusakan dgn berbagai tingkat. Peristiwa ini mjd pengingat bhw dlm bencana gempa bumi, yg menentukan besar kecilnya dampak bkn semata-mata magnitudo, melainkan kerentanan bangunan dan kesiapsiagaan masy.

Melihat lokasi episenternya, diduga gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yg memanjang dari kawasan Pelabuhan Ratu menuju wilayah Bogor dan sekitarnya. Gempa tjd pada kedalaman dangkal sekitar 10 km (dengan mekanisme geser/mendatar mengiri - sinistral strike-slip), sehingga energi getaran sampai ke permukaan tanpa bnyk teredam. Akibatnya, guncangan dirasakan cukup kuat oleh masy. di Kalapanunggal dan beberapa wilayah sekitar dgn intensitas mencapai sekitar V hingga VI pada skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI). Pada tingkat intensitas tersebut, bnyk orang berlarian keluar rumah, benda-benda jatuh dari rak, dan bangunan dgn konstruksinya lemah mulai mengalami kerusakan.

Baca Juga: Pesantren Kaligrafi Pertama di Indonesia Ada di Sukabumi, Karyanya Dilirik Sultan Brunei

Jika dicermati lebih jauh, kerusakan yg terjadi bukanlah semata-mata akibat kekuatan gempa, melainkan krn bnyk rumah yg dibangun tanpa kaidah konstruksi tahan gempa. Sebagian besar rumah mrpkn bangunan pasangan bata tanpa kolom praktis, tanpa ring balok, serta tdk memiliki pengikat struktur yg memadai. Kondisi spt ini membuat dinding mjd elemen paling rentan runtuh ketika menerima getaran horizontal dari gempa bumi.

Pelajaran yg sama sebenarnya sdh berulang kali terlihat dlm berbagai peristiwa gempa di Indonesia, mulai dari Gempa Padang Pariaman 2009, Gempa Pasaman 1977, hingga Gempa Cianjur 2022. Polanya selalu sama: korban muncul bkn krn gempa itu sendiri, tetapi krn bangunan  tidak cukup kuat menahan guncangan.

Oleh krn itu, gempa Kalapanunggal seharusnya tdk sekadar dikenang sbg peristiwa masa lalu, tetapi dijadikan momentum utk memperkuat mitigasi bencana di tingkat lokal. 

Baca Juga: 3 Jam Diperiksa, Pandji Pragiwaksono Dicecar 17 Pertanyaan soal Kasus Adat Toraja

Strategi yg paling mendasar adlh memastikan rumah-rumah masy. dibangun dgn prinsip konstruksi tahan gempa sederhana. Rumah tembok harus memiliki rangka beton bertulang yg terdiri dr pondasi yg baik, sloof, kolom praktis, serta ring balok yg mengikat seluruh dinding. Tanpa elemen-elemen tersebut, bangunan tembok pada dasarnya hanyalah dinding yg berdiri tanpa penopang yg memadai.

Selain itu, pemerintah daerah jg perlu mendorong program penguatan atau retrofit rumah-rumah yg sdh terlanjur dibangun tanpa standar ketahanan gempa. Program pelatihan tukang lokal, bantuan material struktural, serta penyebaran panduan rumah tahan gempa dpt mjd langkah nyata utk mengurangi risiko kerusakan pada gempa berikutnya. 

Di sisi lain, pemetaan jalur sesar aktif seperti Sesar Citarik jg penting utk memastikan bhw pembangunan infrastruktur vital tdk berada tepat di atas jalur sesar aktif.

Baca Juga: Jelang Newcastle vs Barcelona, Hansi Flick Sebut Liga Inggris Terbaik di Dunia

Hal yg tidak kalah penting adlh edukasi masy. Selama ini perhatian publik sering tertuju pd ancaman gempa besar dari zona megathrust di laut. Padahal, gempa yg paling sering menimbulkan kerusakan justru berasal dari sesar aktif di daratan yg lokasinya dekat permukiman. 

Oleh krn itu, pemahaman ttg langkah keselamatan seperti “drop, cover, and hold on” yg artinya jatuh diri kmd (merunduk), berlindung, dan berpegangan yg kuat, jalur evakuasi, serta titik kumpul aman perlu terus disosialisasikan secara berkelanjutan.

Gempa Kalapanunggal 2020 memberi pesan sederhana namun sangat penting: gempa mungkin tdk dapat dicegah, tetapi dampaknya dpt dikurangi. Kuncinya ada pada bangunan yg lebih kuat, masy. yang lebih siap, dan kebijakan pembangunan yg lebih sadar risiko dan berbasis risiko. 

Baca Juga: Resep Kue Putri Salju Lembut dan Renyah, Kue Kering Favorit Saat Lebaran

Melawan lupa terhadap peristiwa ini berarti memastikan bhw pelajaran yg diberikan oleh alam tidak terulang dalam bentuk korban pada masa yg akan datang.*

Penulis: Dr. DARYONO, wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT