Oleh: Nasyith Majidi (Social Business Activist)
Kwartal pertama tahun 2026 sudah mau selesai. Angka-angka APBN di atas kertas mulai menari lebih lincah daripada realitas di lapangan. Kita semua tahu, Pak Menko Airlangga adalah kolektor skenario yang handal. Ia menyodorkan tiga pilihan "kiamat kecil" bagi anggaran kita, mulai dari defisit yang sedikit "offside" (3,18%) hingga yang benar-benar melakukan "slam dunk" ke angka 4,06%.
Tapi tenang, Presiden Prabowo tetap tenang. Dia punya jurus ampuh: Hemat Pangkal Kaya, tapi dengan satu catatan kecil: Makan Bergizi Gratis (MBG) jangan diganggu gugat. Karena, ya, siapa yang butuh defisit rendah kalau perut rakyat (dan janji politik) belum kenyang?
Windfall dan Matematika Ajaib
Pemerintah sedang berharap pada keajaiban harga batu bara atau windfall. Ibarat menunggu durian runtuh saat pohonnya saja belum tentu berbuah. Meskipun target pendapatan dipasang setinggi langit, Rp3.154 triliun, realitasnya kita tetap butuh memangkas belanja sekitar Rp300 triliun agar tidak dicatat sejarah sebagai negara dengan defisit "kebobolan".
Cara paling kreatif yang sejauh ini muncul dari pemerintah adalah jurus WFH (Work From Home). Luar biasa. Ternyata, menyuruh ASN bekerja dari kamar sambil memakai sarung adalah strategi makroekonomi mutakhir untuk menyelamatkan triliunan rupiah. Siapa sangka, kuota internet pribadi para ASN adalah kunci ketahanan fiskal bangsa?
Baca Juga: Lampu dan AC Dibatasi hingga Pukul 8 Malam, DPR Ikut Hemat Anggaran
Siapa yang Harus Berkorban?
Mari kita lihat daftar "korban" yang paling mungkin dalam upacara penghematan ini:
- Pemerintah Daerah: Dana Transfer Ke Daerah (TKD) sudah dipotong hampir 25%. Pesannya jelas: "Wahai Gubernur dan Bupati, silakan berkreasi. Kalau tidak ada uang, pakailah doa, berpencak-silat, atau kreativitas tanpa batas."
- Belanja Barang: Perjalanan dinas dan rapat di hotel mulai disisir. Tapi jangan salah fokus, belanja barang ini melonjak drastis bukan karena ASN hobi jajan, tapi karena ada "penumpang agung" bernama Badan Gizi Nasional (BGN) yang memakan porsi Rp259 triliun sendiri. Memotong belanja barang tanpa menyentuh BGN itu seperti mencoba diet tapi tetap makan martabak manis setiap malam.
Dilema Besi Tua dan Aspal Panas
Jika kita benar-benar ingin berhemat, pilihannya hanya dua: Berhenti membangun jalan atau berhenti membeli alat-alat perang.
- Kementerian PU: Mau potong anggaran irigasi dan jalan? Silakan saja, asal Anda siap melihat rakyat menanam padi di atas aspal yang berlubang atau mandi dengan air doa. Susah kan?
- Kemenhan & POLRI: Di sinilah letak seni yang sesungguhnya. Kemenhan punya "dana cadangan" yang disembunyikan di saku celana bernama Bendahara Umum Negara (BUN) sebesar Rp150 triliun. Secara ajaib, anggaran mereka bisa membengkak tiba-tiba di tengah tahun seperti perut setelah Lebaran.
Menu Diet APBN 2026
Kalau pemerintah memang serius ingin defisitnya tidak "meledak", resepnya sebenarnya sederhana tapi pahit:
- Pangkas anggaran Makan Bergizi Gratis sekitar Rp150 triliun (tapi siapa yang berani?).
- Lupakan belanja Alutsista tambahan senilai Rp150 triliun (tapi nanti kita tidak punya mainan baru?).
- Sisanya, biarlah kementerian lain gigit jari dengan potongan Rp100 triliun lagi.
Namun, sepertinya kita akan lebih memilih skenario keempat: Berdoa agar harga minyak turun dan rupiah menguat secara ajaib. Karena di negeri ini, optimisme seringkali lebih murah daripada kalkulator.
Mari berandai-andai kita bedah secara kontras antara skenario yang "tidur nyenyak" (Aman) dengan skenario "yang penting yakin" (Optimisme Buta) untuk postur APBN 2026.
Tabel ini disusun untuk melihat sejauh mana elastisitas angka-angka tersebut sebelum akhirnya "jebol" oleh realitas makroekonomi.
Perbandingan Skenario Anggaran 2026: Realita vs. Halusinasi
Skenario Anggaran 2026.
Dengan melirik table di atas, kita punya dua pilihan: Pertama, Skenario Aman. Skenario ini membutuhkan nyali keberanian politik yang luar biasa besar karena harus "mengecewakan" banyak pihak (termasuk janji kampanye pemerintah dan alutsista). Kedua, Skenario Optimisme Buta. Skenario ini jauh lebih populer secara politik di awal, namun berisiko meninggalkan "bom waktu" finansial bagi anak cucu di akhir tahun anggaran. Kamu pilih scenario mana? Jangan terlalu bingung, ambil kopi pahit kamu dulu biar dunia lebih terang!
Editor : Ikbal Juliansyah