Sukabumi Update

Ketika Tanah Kami Kaya, Tapi Kami Tetap Miskin

Gunung Salak di Cidahu Kabupaten Sukabumi | Foto : dok.wikipedia

Oleh: Azis Adiwijaya, Pendiri Komunitas Paguyuban Warga Sukabumi (PAGARBUMI)

Di kaki Gunung Salak, bumi kami mengandung panas yang bernilai miliaran.

Energi yang katanya menjadi harapan masa depan bangsa. Listrik mengalir ke kota-kota besar, industri bergerak, ekonomi nasional berdenyut.

Namun di sini, di tanah tempat energi itu diambil—kami masih bergulat dengan kemiskinan.
Ini bukan sekadar ironi. Ini luka.

Media seperti Sukabumi Update telah menampilkan potret nyata: rumah-rumah sederhana berdiri di sekitar proyek panas bumi, masyarakat hidup dalam keterbatasan, akses ekonomi yang sempit, dan harapan yang sering kali terasa jauh.

Baca Juga: Dikebut Pemkot Sukabumi! Jalan Gudang Dibeton dengan Anggaran Rp1,22 Miliar

Kami bertanya dengan suara yang mungkin selama ini teredam:
Untuk siapa kekayaan ini dikelola?
Apakah negeri ini sedang membangun kesejahteraan, atau justru sedang menyuburkan ketimpangan?

Kami tidak anti pembangunan. Kami tidak menolak kemajuan. Kami paham bahwa energi panas bumi adalah bagian dari kebutuhan masa depan.

Namun kami menolak jika pembangunan hanya menjadi milik segelintir orang—pengusaha besar yang berkolaborasi dengan penguasa, sementara rakyat hanya kebagian debu dari proyek yang berdiri di tanahnya sendiri.

Kongkalikong itu nyata.
Ia tidak selalu terlihat dalam bentuk terang. Tapi dampaknya terasa: kebijakan yang tidak berpihak, kompensasi yang tidak adil, dan masyarakat yang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Kami hidup di sekitar proyek.
Kami yang merasakan dampaknya.
Namun kami bukan bagian dari manfaatnya.

Lebih menyakitkan lagi, ruang hidup kami perlahan menyempit. Lahan berkurang, akses terbatas, dan peluang ekonomi tidak berkembang.

Kami seperti tamu di tanah sendiri.
Apakah ini yang disebut kemajuan?

Dalam nilai-nilai yang kami yakini, kekuasaan adalah amanah. Kekayaan adalah titipan. Ketika amanah itu dikhianati, maka yang lahir bukan keberkahan, melainkan ketidakadilan yang berkepanjangan.

Kami dari PAGARBUMI menyampaikan dengan tegas:
Libatkan masyarakat lokal sebagai subjek, bukan objek

Pastikan distribusi manfaat yang adil dan transparan
Hentikan praktik kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir pihak
Kembalikan hak masyarakat atas ruang hidup dan masa depan mereka

Kami tidak meminta belas kasihan.
Kami menuntut keadilan.
Karena sejatinya, bumi ini bukan hanya milik mereka yang berkuasa dan bermodal.
Bumi ini adalah milik kita bersama—dan setiap tetes kekayaannya harus membawa manfaat bagi seluruh rakyat, bukan hanya segelintir elite.

Jika suara kami dianggap kecil, ingatlah:
Dari suara-suara kecil yang terabaikan, sering lahir gelombang besar perubahan.

Editor : Syamsul Hidayat

Tags :
BERITA TERKAIT