Essay oleh : Ade Rohmat, Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Managemen Universitas Terbuka
“Il faut imaginer Sisyphe heureux.”
Albert Camus, Le Mythe de Sisyphe (1942)
Pembuka: Ketika Batu Mulai Terasa Berat
Ada sebuah gambar yang sulit lepas dari ingatan siapapun yang pernah melihatnya: lukisan Edward Hopper berjudul Nighthawks (1942). Sebuah kafe berdinding kaca di sudut jalan kota yang sepi, tengah malam. Tiga orang duduk di dalam, seorang lagi melayani mereka. Mereka berada di ruang yang sama, tetapi tidak benar-benar bersama. Masing-masing terperangkap dalam gelembung keterasingannya sendiri, dikelilingi oleh keheningan yang tidak dipilih. Di luar, jalanan kosong. Lampu-lampu kota memancarkan cahaya yang dingin.
Hopper tidak sedang melukis suasana. Ia sedang melukis diagnosis. Gambar itu adalah potret masyarakat modern yang lebih tepat dari kebanyakan tulisan sosiologi: manusia-manusia yang secara fisik berdekatan namun secara eksistensial terasing satu sama lain, terjebak di bawah cahaya kapitalisme urban yang terang benderang namun tak menghangatkan apa pun.
Essay ini ditulis dari kegelisahan yang sama dengan yang menggerakkan Hopper memegang kuasnya. Kita hidup di era di mana semuanya tampak tersedia informasi, koneksi, hiburan, produk namun krisis makna justru semakin dalam. Orang bekerja lebih keras dari sebelumnya, namun semakin sedikit yang tahu untuk apa. Ini bukan paradoks baru. Ini adalah kondisi yang sudah dianalisis, difilosofikkan, dan dinarasikan sejak abad ke-19. Dan kita, dengan segala kemajuan teknologi kita, belum benar-benar menemukan jalan keluarnya.
Essay ini akan menelusuri dua konsep yang saling menopang dalam memahami kondisi ini: alienasi dan absurditas. Dari Karl Marx hingga Albert Camus, dari Franz Kafka hingga Friedrich Nietzsche, kita akan melihat bagaimana para pemikir terbaik umat manusia mencoba merumuskan dan merespons pengalaman kehilangan makna yang menjadi ciri khas modernitas.
Marx dan Anatomi Keterasingan
Kisah ini dimulai dengan seorang pemuda Jerman berusia 26 tahun yang sedang marah. Pada tahun 1844, Karl Marx menulis serangkaian catatan filsafat yang tidak ia sempurnakan untuk diterbitkan, dan baru ditemukan kembali hampir satu abad kemudian tentang apa yang ia sebut sebagai Entfremdung: keterasingan.
Konteks tulisannya adalah Revolusi Industri yang sedang memuncak di Eropa Barat. Pabrik-pabrik bermunculan. Jutaan orang bermigrasi dari desa ke kota, meninggalkan kehidupan agraris yang meski berat masih memiliki ritme dan makna organiknya sendiri, menuju kehidupan urban yang asing dan impersonal. Mereka bekerja di hadapan mesin-mesin yang tidak mereka pahami, menghasilkan produk yang tidak mereka miliki, untuk tujuan yang tidak mereka tentukan.
Marx melihat ini bukan sebagai tragedi kebetulan, melainkan sebagai konsekuensi struktural dari kapitalisme. Ia mengidentifikasi empat lapisan keterasingan yang saling mengunci satu sama lain seperti pintu di dalam labirin (Marx, 1844/1988).
Empat Wajah Keterasingan
Yang pertama adalah keterasingan dari hasil kerja. Bayangkan seorang pekerja yang delapan jam sehari merakit komponen mesin motor. Ia mengenal setiap mur dan baut. Tangannya yang mengencangkan setiap sambungan. Namun begitu motor itu selesai, ia tidak lagi punya hubungan apapun dengannya. Motor itu milik pabrik, dijual ke dealer, dibeli oleh orang asing. Suatu hari mungkin ia melihatnya di jalanan, tapi ia melihatnya seperti melihat benda asing. Padahal itu adalah hasil tangannya sendiri.
Yang kedua adalah keterasingan dari aktivitas kerja itu sendiri. Kerja, bagi Marx, seharusnya adalah ekspresi kebebasan manusia cara manusia memasukkan dirinya ke dalam dunia, mengubah bahan mentah menjadi sesuatu yang bermakna. Tetapi ketika kerja dilakukan bukan dari keinginan bebas melainkan karena terpaksa, ketika setiap gerakannya ditentukan oleh ritme mesin dan target produksi, kerja itu kehilangan dimensi humanistiknya. Pekerja tidak merasa dirinya hadir saat bekerja; ia baru merasa hidup ketika pulang dari kerja (Marx, 1844/1988, hlm. 74).
Yang ketiga adalah keterasingan dari hakikat spesies dari apa yang membuat manusia menjadi manusia. Marx punya konsep yang ia sebut Gattungswesen, makhluk spesies: manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menjadikan aktivitas hidupnya sendiri sebagai objek refleksi dan kehendak. Hewan memproduksi karena dorongan insting; manusia memproduksi juga karena imajinasi dan nilai estetika. Namun kapitalisme mereduksi kapasitas ini: pekerja memproduksi bukan untuk mengekspresikan dirinya, melainkan untuk sekadar bertahan hidup.
Dan yang keempat adalah keterasingan dari sesama manusia. Ini adalah konsekuensi yang tidak terhindarkan dari ketiga lapisan sebelumnya. Jika manusia terasing dari hasil kerjanya, dari aktivitas kerjanya, dan dari hakikat spesiesnya, maka ia pasti terasing dari sesamanya. Orang lain hadir bukan sebagai saudara, melainkan sebagai pesaing di pasar tenaga kerja, atau sebagai pemodal yang mengeksploitasi. Solidaritas digantikan kompetisi.
Manusia Satu Dimensi
Satu abad setelah Marx, Herbert Marcuse melanjutkan diagnosis ini dalam era kapitalisme konsumen. Dalam One-Dimensional Man (1964), ia berargumen bahwa masyarakat industri maju tidak hanya mengeksploitasi secara ekonomi ia lebih berbahaya dari itu: ia menghapus kapasitas manusia untuk membayangkan alternatif. Sistem menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu yang mengintegrasikan individu ke dalamnya, sehingga pemberontakan pun terasa tidak mungkin, bahkan tidak terpikirkan.
Inilah yang Marcuse sebut sebagai manusia satu dimensi: manusia yang telah kehilangan dimensi negatifnya kemampuan untuk menolak, mengkritik, membayangkan yang lain (Marcuse, 1964). Jika Marx melihat pekerja pabrik abad ke-19 yang terasing dari hasil kerjanya, Marcuse melihat konsumen abad ke-20 yang terasing dari keinginannya sendiri: ia menginginkan apa yang sistem minta ia inginkan, dan merasa puas dengan itu.
Di era digital hari ini, kondisi ini mencapai presisi yang bahkan Marcuse tidak bisa bayangkan. Algoritma yang mengetahui selera kita lebih baik dari diri kita sendiri, yang mendesain ulang realitas informasi yang kita konsumsi, yang memastikan kita tidak pernah keluar dari gelembung preferensi yang sudah ada ini adalah mesin produksi manusia satu dimensi yang paling canggih yang pernah ada.
III. Nietzsche: Ketika Langit Runtuh
Marx menganalisis keterasingan dari bawah dari relasi produksi dan struktur ekonomi. Nietzsche datang dari arah yang berlawanan, menyerang dari atas: dari langit metafisika dan moralitas.
Pada 1882, dalam Die fröhliche Wissenschaft, Nietzsche menulis salah satu adegan paling dramatis dalam sejarah filsafat: seorang gila berlari ke alun-alun di siang hari bolong, membawa lentera yang menyala, berteriak mencari Tuhan. Orang-orang yang berdiri di sana yang tidak percaya Tuhan menertawakannya. Tetapi orang gila itu berbalik kepada mereka dan berkata:
“Ke mana Tuhan pergi? Aku akan memberitahumu. Kita telah membunuhnya kamu dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Tetapi bagaimana kita melakukan ini? Bagaimana kita bisa minum lautan kering? Siapa yang memberikan kita spons untuk menghapus seluruh cakrawala?” Nietzsche, Die fröhliche Wissenschaft (1882/1974, § 125)
Deklarasi bahwa “Tuhan telah mati” (Gott ist tot) bukan pernyataan ateisme naif. Nietzsche sendiri tidak menyangkal atau mengafirmasi eksistensi Tuhan dalam pengertian teologis. Yang ia maksudkan adalah sesuatu yang jauh lebih mengguncang: fondasi nilai-nilai transenden yang selama berabad-abad menjadi penopang peradaban Barat telah hancur. Sains telah menggerus otoritas agama. Rasionalisme telah mendemistifikasi alam semesta. Dan kita kini berdiri di atas reruntuhan sistem makna yang sudah tidak bisa lagi kita percaya, tetapi belum menemukan penggantinya (Nietzsche, 1882/1974).
Ini yang ia sebut nihilisme: kondisi di mana nilai-nilai tertinggi telah kehilangan nilainya (Nietzsche, 1901/1968). Dan bagi Nietzsche, nihilisme bukan sekadar masalah intelektual ia adalah krisis eksistensial yang paling dalam. Tanpa referensi transenden, bagaimana kita tahu apa yang baik dan buruk? Bagaimana kita memutuskan apa yang layak diperjuangkan?
Mentalitas Budak dan Afirmasi Radikal
Nietzsche melihat bahwa sebagian besar manusia merespons krisis ini dengan apa yang ia sebut sebagai Sklavenmoral moralitas budak. Alih-alih menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak menjamin keadilan atau makna, mereka membangun narasi tentang diri sebagai korban: bahwa mereka lemah bukan karena kegagalan mereka sendiri, melainkan karena ketidakadilan sistem. Bahwa yang kuat adalah yang jahat, dan yang lemah adalah yang mulia. Ini bukan hanya sikap individu Nietzsche melihatnya sebagai struktur mendalam dari kebudayaan Eropa yang telah diwariskan melalui tradisi Kristen (Nietzsche, 1887/1967).
Solusi Nietzsche bukan menjadi brutal atau tidak peduli pada orang lain. Solusinya adalah apa yang ia sebut Ja-sagen: mengatakan “ya” pada kehidupan secara radikal, bahkan pada penderitaan dan absurditasnya. Dan ujian tertinggi dari kemampuan ini adalah konsep yang ia sebut ewige Wiederkehr pengulangan abadi yang sama.
Bayangkan bahwa hidupmu dengan segala kebahagiaan, penderitaan, kegagalan, dan pencapaiannya, hingga momen paling sepele sekalipun akan berulang persis sama, selamanya, tanpa akhir, tanpa tujuan, tanpa surga yang menanti di ujung perjalanan. Bisakah kamu mengatakan ya? Bisakah kamu menginginkan pengulangan itu? Bagi Nietzsche, hanya mereka yang bisa menjawab ya yang benar-benar telah melampaui nihilisme, yang benar-benar hidup dari kekuatan afirmatif, bukan dari rasa takut akan ketiadaan makna (Nietzsche, 1882/1974).
Kafka: Labirin Tanpa Pusat
Jika Nietzsche beroperasi di ranah metafisika yang sublim, Franz Kafka menurunkan absurditas ke lantai dasar kehidupan sehari-hari. Kafka seorang pegawai perusahaan asuransi di Praha yang menulis fiksi di tengah malam adalah seorang phenomenologist intuitif yang brilian. Ia tidak menulis tentang absurditas sebagai konsep; ia menulis tentang rasanya hidup di dalamnya.
Der Prozeß (The Trial), yang ditulis sekitar 1914-1915 dan diterbitkan postumus pada 1925, adalah dokumen paling akurat yang pernah ditulis tentang birokrasi modern dalam dimensi absurdnya yang paling dalam. Josef K. seorang pegawai bank yang hidupnya teratur dan tidak dramatis suatu pagi dikejutkan oleh kedatangan dua polisi. Ia ditangkap. Tidak ada penjelasan. Ia tidak tahu kesalahannya apa (Kafka, 1925/2009).
Yang terjadi selanjutnya adalah penurunan yang semakin dalam ke dalam labirin prosedural yang tidak pernah bisa ditembus. Setiap pintu yang berhasil ia buka ternyata hanya mengantar ke pintu berikutnya. Setiap pengacara yang ia temui mengakui keterbatasannya. Setiap otoritas yang ditemuinya mengaku hanya menjalankan prosedur, tidak berwenang membuat keputusan, tidak tahu siapa yang berwenang. Sistem itu ada dan berfungsi; hanya tujuannya yang tidak bisa dipahami.
Sebelum Hukum
Namun parabola yang paling berkesan dari Kafka adalah cerpen pendek yang juga muncul di dalam The Trial: Vor dem Gesetz, atau “Sebelum Hukum.”
Seorang lelaki dari desa datang ke gerbang Hukum dan meminta izin masuk. Penjaga mengatakan ia tidak bisa masuk sekarang. Lelaki itu menunggu satu hari, satu tahun, satu dekade, seumur hidupnya. Ia menghabiskan segala hartanya untuk menyogok penjaga, yang menerima sogokan itu tetapi tidak memberikan izin, sambil mengatakan bahwa ia menerimanya hanya agar lelaki itu tidak berpikir ia telah mengabaikan setiap kemungkinan.
Menjelang ajalnya, lelaki itu bertanya: mengapa selama bertahun-tahun itu, tidak ada orang lain yang datang mencari masuk ke gerbang ini? Penjaga menjawab:
“Tidak ada orang lain yang bisa diterima di sini karena pintu ini hanya diperuntukkan bagimu. Sekarang aku akan pergi dan menutupnya.” Kafka, Vor dem Gesetz (dalam: Der Prozeß, 1925/2009, hlm. 215)
Parabola ini memiliki kedalaman yang semakin terasa setiap kali dibaca ulang. Sistem hukum atau sistem apapun yang mengklaim mewakili keadilan, kebenaran, atau makna tampil sebagai sesuatu yang tersedia secara universal, namun dalam kenyataannya tidak pernah dapat diakses oleh siapapun. Gerbang itu dibuat khusus untuk satu orang, tetapi tidak pernah dibuka untuknya. Dan ketika ia sudah tidak ada, gerbang itu ditutup. Seolah-olah prosedur itu ada bukan untuk memberikan akses, melainkan untuk memastikan tidak ada yang pernah masuk.
Ini adalah diagnosis tentang birokrasi modern yang lebih tajam dari seribu laporan sosiologis. Birokrasi bukan sekedar tidak efisien ia secara inheren absurd, karena tujuannya yang sesungguhnya bukan penyelesaian masalah melainkan keberlangsungan dirinya sendiri. Prosedur ada bukan untuk mengabdi pada tujuan; tujuan ada untuk membenarkan prosedur.
Camus: Batu, Bukit, dan Satu-satunya Pertanyaan Filsafat yang Penting
Albert Camus adalah pemikir yang paling berani menghadapi absurditas secara langsung, tanpa berpaling, tanpa bersembunyi di balik optimisme atau kepasrahan.
Dalam Le Mythe de Sisyphe (1942), ia menyatakan bahwa hanya ada satu pertanyaan filsafat yang sungguh-sungguh serius: apakah hidup layak untuk dijalani? Semua pertanyaan lain tentang kebenaran, keadilan, keindahan, Tuhan adalah sekunder. Jika hidup tidak layak untuk dijalani, tidak ada gunanya berdebat tentang yang lainnya (Camus, 1942/1991).
Absurd bagi Camus bukan kata sifat untuk hal-hal yang lucu atau tidak logis. Absurd adalah kondisi fundamental yang muncul dari benturan antara dua kenyataan yang tidak bisa didamaikan: di satu sisi, kerinduan manusia yang mendasar akan makna, kejelasan, dan kesatuan; di sisi lain, keheningan dunia yang tidak menjawab kerinduan itu. Absurd bukan ada pada manusia, bukan ada pada dunia, melainkan pada tegangan di antara keduanya.
Mitos Sisifus tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak bukit selamanya, hanya untuk menyaksikannya menggelinding kembali ke bawah menjadi metafora paling tepat untuk kondisi manusia modern. Kita berangkat kerja setiap pagi, bekerja seharian, pulang malam hari, tidur, dan memulai segalanya lagi esok hari. Batu kita mungkin berbeda laporan yang harus diselesaikan, target yang harus dicapai, konten yang harus diproduksi tetapi strukturnya sama: mendorong ke atas, menggelinding ke bawah, mendorong lagi.
Tiga Respons atas Absurditas
Menghadapi absurditas ini, Camus mengidentifikasi tiga respons yang mungkin. Respons pertama adalah apa yang ia sebut “bunuh diri filosofis”: lompatan iman ke dalam sistem kepercayaan yang menawarkan makna yang sudah jadi agama, ideologi, nasionalisme, atau kepercayaan apa pun yang membebaskan kita dari beban memutuskan makna sendiri. Ini bukan solusi bagi Camus, karena ia merupakan pelarian, bukan konfrontasi.
Respons kedua adalah bunuh diri fisik: mengakhiri hidup sebagai solusi atas ketidakbermaknaan. Camus memahami logikanya, tetapi menolaknya. Bunuh diri tidak merespons absurditas; ia menghindarinya. Dan menghindari suatu masalah tidak pernah merupakan solusi.
Respons ketiga satu-satunya yang Camus setujui adalah pemberontakan: menolak baik kepasrahan maupun kematian, dan memilih untuk tetap hidup dengan mata terbuka penuh, sadar akan absurditas namun menolak membiarkan kesadaran itu menjadi alasan untuk menyerah. Ini bukan kepahlawanan yang dramatis; ini adalah pilihan harian yang sederhana dan berat (Camus, 1942/1991).
Dan dari sinilah muncul kalimat yang mungkin adalah momen paling berani dalam sejarah filsafat kontemporer:
“Il faut imaginer Sisyphe heureux Kita harus membayangkan Sisifus bahagia.” Camus, Le Mythe de Sisyphe (1942/1991, hlm. 123)
Ini bukan optimisme palsu. Ini bukan pengingkaran atas beratnya batu atau kecuraman bukit. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih radikal: afirmasi bahwa kebahagiaan mungkin terjadi justru dalam penerimaan penuh atas kondisi yang tidak bisa diubah. Ketika Sisifus turun dari puncak bukit setelah batu menggelinding kembali dalam perjalanan turun yang singkat, sebelum mulai mendorong lagi ada ruang untuk sesuatu yang menyerupai kegembiraan. Bukan karena batunya ringan, bukan karena puncaknya dekat, melainkan karena ia, Sisifus, adalah majikan atas batunya sendiri.
Paradoks Moral: Saat Etika Menjadi Estetika
Semua analisis di atas mengarah pada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: jika dunia ini memang absurd, jika makna itu memang konstruksi yang tidak memiliki jaminan kosmis, jika tidak ada referensi transenden yang menjamin kebaikan atau kejahatan maka untuk apa kita berbuat baik?
Ini bukan pertanyaan retoris. Ini adalah pertanyaan yang dijawab Nietzsche dengan kalimat yang terkenal: “Nichts ist wahr, alles ist erlaubt” tidak ada yang benar, segalanya diperbolehkan (Nietzsche, 1882/1974, hlm. 270). Kalimat ini sering disalahmengerti sebagai undangan untuk amoralitas. Padahal Nietzsche tidak sedang mengundang kita untuk berperilaku sesuka hati ia sedang mencatat konsekuensi logis dari nihilisme dan mengundang kita untuk menghadapinya jujur.
Di sini muncul sebuah paradoks yang saya pikir adalah salah satu insight terdalam dari seluruh tradisi ini. Ketika tindakan moral diwajibkan oleh hukum, agama, atau norma sosial, nilai moralnya menjadi minimal. Seseorang yang membantu orang lain karena takut dihukum, atau karena menginginkan pahala surga, tidak benar-benar berbuat baik dalam pengertian yang paling dalam ia hanya patuh. Kant sudah menyatakan ini dua abad lalu: nilai moral sejati hanya ada ketika tindakan dilakukan semata-mata karena kewajiban, bukan karena konsekuensi (Kant, 1785/1998).
Namun tradisi absurdis membawa argumen ini lebih jauh: nilai moral yang paling otentik muncul justru ketika tidak ada jaminan apapun tidak ada Tuhan yang mencatat, tidak ada karma yang membalas, tidak ada surga yang menunggu, tidak ada masyarakat yang menjamin keadilan. Ketika seseorang memilih berbuat baik dalam kondisi itu dengan kesadaran penuh bahwa kebaikan itu tidak memiliki landasan kosmis, bahwa dunia mungkin acuh tak acuh terhadapnya barulah tindakan itu memperoleh nilai yang paling otentik.
Ini yang bisa disebut sebagai “lompatan dalam kegelapan”: tindakan moral yang dilakukan tanpa jaminan, tanpa peta, tanpa cahaya. Seperti seseorang yang melompat ke dalam kolam yang gelap bukan karena ia tahu airnya ada di sana, melainkan karena ia memutuskan untuk melompat. Di sini etika bertemu estetika: berbuat baik bukan karena wajib, melainkan karena indah. Bukan karena ada aturannya, melainkan karena ada keindahan yang kita pilih untuk dijaga.
Paradoks yang lebih dalam lagi: hanya di dunia tanpa moral yang dijamin, tindakan moral menjadi benar-benar berharga. Sartre menangkap ini dengan caranya sendiri: manusia dikutuk untuk bebas (Sartre, 1945/1989). Dalam kebebasan itulah tanggung jawab yang paling berat lahir. Tanpa Tuhan, tanpa takdir, tanpa esensi yang telah ditentukan sebelumnya, setiap pilihan adalah sepenuhnya milik kita dan oleh karenanya, sepenuhnya bertanggung jawab.
VII. Sisifus di Era Algoritma
Semua yang dianalisis di atas alienasi, absurditas, krisis makna hadir dalam kondisi yang lebih ekstrem di era digital-kapitalisme hari ini. Para pemikir abad ke-19 dan ke-20 tidak bisa membayangkan seberapa dalam kondisi yang mereka diagnosa akan berkembang.
Alienasi dari hasil kerja kini beroperasi pada level yang lebih abstrak dan lebih dalam. Di ekonomi gig, jutaan orang menjual waktu dan perhatian mereka melalui antarmuka digital yang tidak mereka pahami, kepada perusahaan yang tidak mereka miliki, untuk menghasilkan nilai yang sebagian besar mengalir ke pemegang saham yang tidak pernah mereka temui. Uber driver mendorong batu berbentuk rating; content creator mendorong batu berbentuk engagement; remote worker mendorong batu berbentuk produktivitas yang dipantau software. Batu-batu itu modern, tetapi sifatnya sama: selalu menggelinding kembali ke bawah.
Birokrasi Kafkian kini hadir dalam wujud antarmuka digital yang, di balik kepolosannya, menyembunyikan labirin prosedural yang tidak kalah absurdnya. Siapapun yang pernah mencoba mengajukan komplain kepada layanan pelanggan otomatis yang setelah tiga puluh menit navigasi menu akhirnya menjawab dengan template yang tidak relevan memahami secara intuitif dunia yang Kafka gambarkan. Gerbangnya ada. Penjaganya ada. Tetapi izin masuk tidak pernah datang.
Dan krisis makna yang digambarkan Camus kini diperparah oleh apa yang sosiolog Hartmut Rosa (2013) sebut sebagai akselerasi sosial: percepatan ritme kehidupan yang membuat kita selalu merasa tertinggal, selalu berlari, selalu mendorong batu ke atas bukit tanpa pernah sempat berhenti untuk bertanya ke mana bukit itu menuju. Scrolling media sosial adalah bentuk Sisifus yang paling sempurna: kita terus bergerak ke atas timeline yang tidak pernah berakhir, untuk menemukan bahwa timeline itu sudah penuh dengan konten baru yang harus dikonsumsi.
VIII. Penutup: Memilih untuk Mendorong
Kembali ke lukisan Hopper. Tiga orang di dalam kafe kaca itu bisa saja bangkit dan pergi. Atau mereka bisa mulai berbicara satu sama lain. Atau mereka bisa memilih untuk duduk di sana seumur malam, masing-masing dalam keheningannya sendiri, namun dengan kesadaran bahwa mereka tidak sendirian dalam keheningan itu.
Tidak ada dari para pemikir yang kita telusuri dalam essay ini Marx, Nietzsche, Kafka, Camus yang menawarkan solusi teknis atas alienasi dan absurditas. Yang mereka tawarkan adalah sesuatu yang lebih berharga dan lebih sulit: kejernihan tentang kondisi kita yang sesungguhnya, dan keberanian untuk menghadapinya dengan mata terbuka.
Marx mengajarkan kita bahwa keterasingan bukan kondisi alami manusia ia adalah produk dari relasi sosial yang historis dan dapat diubah. Nietzsche mengajarkan kita untuk tidak bersembunyi di balik fiksi penghiburan, melainkan berani mengatakan ya pada kehidupan dalam totalitasnya. Kafka mengajarkan kita untuk tidak mempercayai bahwa prosedur adalah kebenaran, bahwa sistem adalah makna. Dan Camus mengajarkan kita hal yang paling sulit dan paling indah: bahwa kita bisa, dan bahkan harus, tetap tersenyum dalam menghadapi absurditas total.
Membayangkan Sisifus bahagia bukan berarti mengingkari beratnya batu. Sisifus yang bahagia adalah Sisifus yang sepenuhnya sadar akan absurditas kondisinya batu itu berat, bukit itu curam, puncak itu tidak pernah menjadi final namun memilih dengan bebas dan sadar untuk mendorong lagi. Kesadarannya itulah yang menjadi kemenangan atas batu, bukan oleh batu.
Di era ini, ketika alienasi telah mencapai kedalaman strukturalnya yang paling ekstrem, ketika absurditas hadir tidak hanya sebagai konsep filosofis tetapi sebagai pengalaman sehari-hari yang terasa di setiap scroll dan setiap antrian layanan digital para pemikir ini tidak kurang relevan dari sebelumnya. Justru sebaliknya.
Kita membutuhkan mereka bukan sebagai hiasan intelektual, bukan sebagai bahan kutipan untuk caption Instagram. Kita membutuhkan mereka sebagai alat berpikir yang tajam untuk menghadapi kenyataan yang, tanpa mereka, akan terlalu mudah kita terima begitu saja.
Dan mungkin, di tengah semua itu, ada sesuatu yang menyerupai kegembiraan yang menunggu bukan di puncak bukit, bukan setelah batu berhenti menggelinding, melainkan dalam perjalanan mendorong itu sendiri. Dalam pilihan untuk mendorong lagi.
Referensi
Camus, A. (1991). The myth of Sisyphus and other essays (J. O’Brien, Trans.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan 1942)
Hopper, E. (1942). Nighthawks [Lukisan]. Art Institute of Chicago, Chicago, IL.
Kafka, F. (2009). The trial (M. Mitchell, Trans.). Oxford University Press. (Karya asli diterbitkan 1925)
Kant, I. (1998). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1785)
Marcuse, H. (1964). One-dimensional man: Studies in the ideology of advanced industrial society. Beacon Press.
Marx, K. (1988). Economic and philosophic manuscripts of 1844 (M. Milligan, Trans.). Prometheus Books. (Karya asli ditulis 1844)
Nietzsche, F. (1967). On the genealogy of morals (W. Kaufmann & R. J. Hollingdale, Trans.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan 1887)
Nietzsche, F. (1968). The will to power (W. Kaufmann & R. J. Hollingdale, Trans.). Vintage Books. (Karya asli disusun 1901)
Nietzsche, F. (1974). The gay science (W. Kaufmann, Trans.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan 1882)
Rosa, H. (2013). Social acceleration: A new theory of modernity (J. Trejo-Mathys, Trans.). Columbia University Press.
Sartre, J.-P. (1989). Existentialism is a humanism (P. Mairet, Trans.). Methuen. (Karya asli diterbitkan 1945)
Editor : Syamsul Hidayat