Oleh: Edhy Aruman, Wartawan Senior
Ekonomi tumbuh tinggi, tetapi mengapa pekerjaan layak justru semakin sulit ditemukan oleh masyarakat?
Pemerintah patut mengapresiasi ketika angka pengangguran menurun dan ekonomi tumbuh di atas lima persen. Namun, masyarakat berhak bertanya: jika kondisi benar-benar membaik, mengapa berita PHK terus bermunculan dan mencari pekerjaan dengan gaji layak terasa semakin sulit?
Jawabannya terletak pada kualitas pekerjaan, bukan sekadar jumlah pekerjaan. Data memang menunjukkan lebih banyak orang bekerja, tetapi tidak semuanya memperoleh pekerjaan formal dengan pendapatan stabil, jaminan sosial, dan kepastian karier.
Banyak yang bertahan hidup dengan berdagang kecil-kecilan, menjadi pengemudi ojek daring, atau pekerjaan informal lain setelah kehilangan pekerjaan tetap.
Baca Juga: Waspada Cuaca Panas! Kenali Gejala Heat Exhaustion Sebelum Berujung Heat Stroke
Di atas kertas, mereka tetap dihitung sebagai "bekerja". Dalam kehidupan nyata, penghasilan mereka sering kali lebih rendah, lebih tidak pasti, dan jauh lebih rentan terhadap guncangan ekonomi. Karena itu, turunnya angka pengangguran belum tentu berarti kualitas hidup masyarakat ikut membaik.
Fenomena ini dikenal sebagai low quality job growth—ekonomi memang menciptakan aktivitas kerja, tetapi tidak cukup banyak pekerjaan yang benar-benar layak. Pertumbuhan lebih banyak ditopang sektor padat modal, otomatisasi, dan teknologi yang meningkatkan produktivitas tanpa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak boleh berhenti pada berapa banyak orang yang bekerja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pekerjaan itu mampu membawa keluarga keluar dari ketidakpastian?
Baca Juga: 7 Kebiasaan Sederhana yang Membuat Tubuh Tetap Sehat hingga Usia Tua
Pertumbuhan ekonomi baru layak disebut berhasil ketika mampu menciptakan pekerjaan yang produktif, aman, bergaji layak, dan memberi harapan untuk masa depan. Tanpa itu, statistik memang terlihat indah, tetapi kenyataan yang dirasakan masyarakat bisa sangat berbeda.
Editor : Ikbal Juliansyah