SUKABUMIUPDATE.com - Di tengah tingginya biaya operasional, sebuah inovasi tak biasa muncul dari jalanan Kota Sukabumi. Jika umumnya kendaraan menggunakan bensin, sebuah angkutan kota (angkot) trayek 01 jurusan Terminal Sukaraja–Kota Sukabumi justru viral di media sosial karena menggunakan gas elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar alternatif.
Sosok di balik inovasi tersebut adalah Hendra Irawan (53), sopir angkot yang telah puluhan tahun menekuni profesinya. Ia mengaku, keputusan beralih ke elpiji berawal dari mengikuti rekan sesama sopir yang lebih dulu mencoba.
“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya-tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga,” ujar Hendra, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Debu Proyek Tol Bocimi Kepung Jalur Cibadak, Warga dan Pengendara Protes Penanganan Minim
Keputusan tersebut terbukti berdampak pada efisiensi biaya harian. Hendra menyebut penggunaan elpiji mampu menekan pengeluaran operasional hingga Rp40 ribu sampai Rp50 ribu per hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin.
Dalam sehari, ia rata-rata menghabiskan dua tabung gas. Satu tabung dapat digunakan hingga empat kali perjalanan (rit), sehingga selisih biaya dengan bensin cukup terasa.
“Kalau pakai bensin, empat rit bisa habis sekitar Rp50 ribu. Sekarang satu tabung gas hanya Rp19 ribu,” katanya.
Tampak depan angkot trayek Sukaraja-Kota Sukabumi yang viral ganti BBM pakai Gas LPG 3 Kg.
Sebelumnya, Hendra mengaku menghabiskan sekitar 9 liter bensin per hari dengan biaya mencapai Rp90 ribu. Kini, dengan dua tabung elpiji, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp38 ribu per hari.
“Alhamdulillah sangat terbantu, jadi ada sisa dari penghasilan,” ucapnya.
Baca Juga: Gedung MUI Sukabumi Disegel, Subkontraktor Tagih Sisa Rp165 Juta
Dari sisi teknis, selama kurang lebih tujuh bulan menggunakan elpiji, ia tidak menemukan kendala berarti pada mesin kendaraannya. Mesin tetap dalam kondisi standar tanpa memerlukan penyesuaian khusus, bahkan proses pembakaran dinilai lebih bersih.
“Karburator aman, tidak ada servis tambahan. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti sebelumnya,” jelas Hendra.
Meski demikian, ia mengakui tenaga kendaraan sedikit berkurang, terutama saat melintasi tanjakan. Namun, hal itu dapat diatasi dengan mengalihkan kembali penggunaan bahan bakar ke bensin dalam waktu singkat.
“Kalau nanjak memang agak kurang tenaganya, tapi bisa langsung pindah ke bensin, tinggal cabut selang saja,” tambahnya.
Baca Juga: Ancaman di Atas Kepala Siswa PAUD, Ortu Murid Cemas Atap Kelas Lapuk
Untuk menekan biaya lebih jauh, Hendra biasanya membeli gas langsung dari agen agar mendapatkan harga yang lebih murah.
Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun sebagai sopir angkot, Hendra menilai penggunaan elpiji menjadi solusi alternatif di tengah tekanan biaya operasional.
“Yang penting kendaraan tetap jalan dan ada sisa. Sekarang terasa lebih ringan di biaya,” pungkasnya.
Editor : Asep Awaludin