SUKABUMIUPDATE.com – Pada sebuah angkotan perkotaan (angkot), dua bocah bergaya dengan ekspresi serius bak artis terkenal. Sesekali dua pengamen cilik itu menghentak dengan suara seraknya menyanyikan lagu Iwan Fals berjudul Bento, dengan iringan alat musik tutup botol yang didisain sedemikian rupa disertai tepukan tangan sang kawan.
Pengamen cilik itu bergelantungan menutupi pintu angkot tanpa mempedulikan risiko bahaya mengancam jiwa setiap saat.
Setelah menyanyikan lagu yang tidak sampai tuntas, kedua pengamen ini menengadahkan plastik bekas bungkus permen kepada para penumpang mengharapkan recehan. Ada yang memberi ada pula yang tidak. Begitu seterusnya dari angkot ke angkot.
Ya. Mereka adalah pengamen cilik yang sering beraksi di angkot jurusan Cibadak-Benda. Mereka memanfaatkan kemcaten dalam aksinya. Usia mereka sekira 12Â hingga 14 tahun. Kehadiran pengamen yang seharusnya menikmati bangku sekolah ini, menimbulkan pro kontra bagi penumpang angkot. Ada yang menilai sangat meresahkan, ada pula yang merasa kasihan.
Melihat kondisi ini, negara tampaknya belum berpihak kepada para pengamen cilik ini. Apalagi dari penuturan mereka kepada sukabumiupdate.com, Senin (13/2), mereka sebenarnya masih ingin bersekolah.
BACA JUGA:
Anak Jalanan di Kabupaten Sukabumi Makin Liar
Selalu Ada Alasan Orang Tua Bawa Anak ke Jalanan Kota Sukabumi
Kota Sukabumi Belum Punya Rumah Singgah untuk Warga Jalanan
“Saya anak orang miskin. Orang tua saya kerja serabutan. Untuk makan saja susah. Terpaksa berhenti sekolah untuk mencari uang membantu orang tua,†ujar Irwansyah (13) yang mengaku sudah mengamen selama dua tahun.
Ia mengatakan, khusus di wilayah Kecamatan Cibadak, ada sekitar 30 orang anak yang mengamen. Menurutnya, semua pengamen tersebut, anak putus sekolah. “Saya sempat sekolah menengah pertama (SMP). Tapi hanya beberapa bulan. Berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya sehari-hari,†tutur Irwansyah, yang megaku berdomisili di sekitar Kelurahan/Kecamatan Cibadak.
Senada dengan Irwansyah, Fikriandi alias Jampang (11), mengaku terpaksa mengamen karena desakan ekonomi. Bocah asal Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi ini terpaksa berhenti sekolah saat duduk di kelas VI sekolah dasar (SD), karena tak ingin menyusahkan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani.
“Saya kasihan kepada orang tua. Dari pada membebani orang tua, saya memilih mengamen,†tandas Fitriandi, yang mengaku sering tidur di emperan toko.
Terpisah, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Cibadak, Yudha Harsa (50) mengaku sangat risih akan kehadiran para pengamen itu. Apalagi, kata dia, para anak jalanan ini sering dalam keadaan mabuk akibat menghisap lem saat mengamen.
Ia berharap, Dinas Sosial sebagai lembaga pemerintah yang menangani persoalan sosial, segera bertindak. “Mereka perlu dibina. Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya masa depan saja yang rusak. Saya rasa, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi harus mencari solusi terbaik bagi para anak jalanan itu,†tandas Yudha.Â
Editor : Administrator