SUKABUMIUPDATE.com – Usianya sudah 50 tahun. 20 tahun ia habiskan waktunya menarik rakit di muara Cimandala, Minajaya Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi dari pagi hingga petang. Dari aktivitas itu, Haji Husen bisa berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji dua tahun silam bersama istrinya Hajjah Lilis. Padahal tak ada tarif resmi bagi yang ingin menyeberang menggunakan rakit.
Bagi Husen, warga Kampung Sukamulya RT 12/14 Desa Buniwangi, Kecamatan Surade ini, profesi menarik rakit ia lakoni sebagai ibadah. Kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (4/3), mengungkapkan, ia ingin berbuat baik sebelum kembali ke pangkuan Sang Khalik. Rakit ini, merupakan satu-satunya akses transportasi bagi warga dua desa yang dipisahkan muara Cipamarangan, yakni Desa Buniwangi dan Desa Cipendeuey, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.
Aktivitas menyeberangkan rakit dilakoni bapak enam orang anak ini mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Ia dengan sabar menunggu warga yang hendak menyeberang. Namun, shalat lima waktu tak pernah ia tinggalkan.
“Kebanyakan gratis. Terkadang ada yang memberi dua ribu Rupiah atau lima ribu Rupiah. Kalau lagi sepi bisa dapat 50 ribu Rupiah, namun kalau lagi ramai, sehari bisa mengantongi 100 ribu Rupiah,†terang Husen, saat beristirahat karena warga belum terlihat hendak menyeberang.
 BACA JUGA:
Kuota Haji RI 2017 Naik Sebesar 52.000 Orang Â
Musim Haji 2017 Pemkot Sukabumi Siapkan 15 Puskesmas dan Tiga Rumah Sakit
Jemaah Haji Kabupaten Sukabumi Berdesakan Dalam Tenda Kecil, PPIH Janji Lakukan Kordinasi
Dari hasil menarik rakit ini, dan tambahan hasil panen serta menjual sedikit lahan, ujar dia, dirinya bersama istri bisa berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji segai rukun Islam kelima. “Alhamdulillah. Hasil yang saya kumpulkan dari menarik rakit dan bertani, bisa memberangkatkan saya dan istri menunaikan rukun islam kelima. Walau harus menjual sedikit lahan,†paparnya.
Dua puluh tahun silam, kata dia, menyeberangkan rakit dengan jarak muara Cipamarangan sepanjang 20 meter dan kedalaman tiga hingga empat meter itu, ia bisa lakukan dalam hitungan lima menit. Namun kini lelaki itu tak sekuat dulu. Ia setia menekuni proses itu, karena tidak adanya akses jalan penghubung kedua desa itu.
Rakit sepanjang tiga meter dan lebar lima meter itu, terbuat dari bambu dan papan. Di bawahnya delapan drum kosong sebagai penahan dan sekaligus berfungsi sebagai pelampung. Di sisi rakit, seutas tali menjadi tumpuan untuk menggerakkan rakit.
Dari sisi kehidupan, ujar dia, sudah berkecukupan karena memiliki lahan produktif seluas satu hektar. “Alhamdullah, anak-anak saya sudah hidup berkecukupan. Pekerjaan ini sangat mereka dukung. Walau mereka terkadang khawatir, karena saya sudah tua,†pungkas kakek yang sudah memiliki sepuluh cucu ini.
Editor : Administrator