SUKABUMIUPDATE.com – Tak putus dirundung malang. Sebuah kalimat yang populer sebagai judul sebuah karya sastra milik Sutan Takdir Alisjahbana, menjadi kalimat tepat untuk menggambarkan kisah Rohayati (62). Bagaimana tidak, setelah ditinggal mati sang suami, dalam kondisi miskin pula.
Warga Kampung Nangkawangi RT 04/06, Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi itu, seorang janda tua yang sehari-hari disapa wak Eroh. Sejak ditinggal mati suami 18 tahun silam, Eroh berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Â
Untuk bertahan hidup, ia hanya berharap dari upah sebagai buruh tani sekitar Rp25 ribu per hari, itu pun jika ada. “Eta oge mun aya anu nitah. Kadang sok nginjem pare ka anu boga sawah. Ngke dibayarna mun aya padamelan,†tuturnya getir.
Eroh berusaha mandiri, dan tidak mau merepotkan tiga anaknya yang saat ini sudah memiliki keluarga dan tinggal sendiri-sendiri. Saat ini, ia diberi tumpangan gubuk 2,5x5 meter persegi dari saudaranya, untuk ia tinggali.
“Sok aya tatangga anu mere sangu jeung lauk, alhamdulilah. Mun teu, nya tos we mamam sangu jeung uyah sareng lalapan. Da di dieu mah teu hese,†jelasnya lebih jauh kepada sukabumiupdate.com, yang mengungjungi gubuknya, Jumat (10/3).
“Abdi mah teu hoyong gering. Dina geringna ge ngan panas tiris. Disarekeun we sapoe sapeting, alhmadulilah isukanna sehat deui bisa ngarit deui,†ujar Eroh lagi.
BACA JUGA:
Asa Robia, Bocah Miskin Warungkiara Kabupaten Sukabumi yang Terancam Buta
Di Gubuk Kecil, Pasangan Lansia Miskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan
Nenek 90 Tahun Warga Cikidang Kabupaten Sukabumi Ini Lupa Fungsi Uang
Uniknya, diakui Eroh, rasa takut sakit itulah yang membuatnya selalu sehat. Hal itu semata karena karena rasa takut jika harus berobat ke dokter, Puskesmas, apalagi rumah sakit.Â
“Boga acis ti mana keur berobat. Acis dina upah ngarit ngan saukur bisa keur emam. Wak embung sakit, jadi kumaha we, nu penting hayang sehat,†lanjutnya.
Eroh memang tidak memiliki fasilitas jaminan kesehatan sebagai warga miskin, baik Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau pun Kartu Indonesia Sehat (KIS).Â
Sebagai warga miskin, Eroh pernah merasakan bantuan hanya sekali dalam seumur hidupnya, yakni pada 2014 silam, saat mendapat uang BLT (bantuan langsung tunai).
“Mun beas miskin mah sok dibere ku pak erte. Wak mah teu boga acis keur meli beas raskin,†ungkap Eroh.
Juanda (55), tokoh masyarakat di Kampung Nangkawangi mengakui jika Eroh memang jarang tersentuh bantuan. “Warga sih berharapnya untuk kesehatan wak Eroh dapat jaminan dari pemerintah. Kadang kasihan kalau melihat dia lagi sakit, nekat sendirian di rumah. Alhamdulilan anak-anaknya masih sering berkunjung, tapi mereka sendiri juga hidup pas-pasan.â€
Editor : Administrator