SUKABUMIUPDATE.com - Yanti (45), seorang janda beranak tiga mengalami penyakit aneh pada bagian kedua kakinya. Sudah selama enam tahun, warga Kampung Cibodas RT 01/02, Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi itu, menahan derita akibat sakit yang dialaminya.
Selama enam tahun pula ia tidak bisa bepergian atau beraktivitas. Sehari-hari ia hanya berdiam diri di rumahnya, bahkan untuk bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya, ia terpaksa harus menggunakan kedua lututnya untuk berjalan.
Janda ditinggal mati suami, Ujun (meninggal pada usia 63) ini, memiliki tiga orang anak, Yuliana Citra (26), Aang Subakti (18), dan Diana Sriwulan (14). Yulia sudah berkeluarga, sementara yang kedua dan ketiga masih duduk di bangku sekolah.
"Sejak ditinggal mati oleh suami, saya mulai sakit. Gak tahu kenapa badan menjadi terserang penyakit seperti ini," rintih Yanti di depan wartawan sukabumiupdate.com, Minggu (19/3).
Ditambahkannya, ia sangat ingin kembali sehat, mengingat masih harus mencari nafkah untuk membiayai anaknya sekolah. Sedangkan untuk saat ini, jangankan untuk membiayai anak sekolah, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, ia sudah kerepotan.
BACA JUGA:
Huni Gudang di Ciracap, Warga Kota Sukabumi Ingin Khitan Dua Anaknya
Puluhan Tahun Ngesot, Nasib Pepen Pemuda Cibadak Kabupaten Sukabumi
Bagi Bocah Lumpuh Cibadak Kabupaten Sukabumi Ini, Sekolah Adalah Mustahil
Diakuinya, untuk berobat ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) memang bisa gratis, tapi untuk ongkos pulang perginya pun, ia mengaku sudah kepayahan.
"Walaupun berobat gratis tapi, tapi kan untuk ongkos sekali jalan dari rumah ke Puskesmas Nagrak saja dua puluh ribu Rupiah. Biasanya untuk ongkos berobat saja, dikasih warga yang peduli sama saya," keluhnya.
Lebih jauh Yanti menceritakan, jika ia pernah berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekarwangi dengan menggunakan Kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. "Berobatnya memang gratis, tapi untuk ongkos dan kebutuhan sehari-hari selama berobat itu, memang saya tidak punya," imbuhnya.
Dikatakannya, menurut dokter, sakit yang dideritanya bukan diakibatkan diabetes. Hanya menurut pengakuan Yanti, jika rasa sakit sudah menyerangnya, seketika penglihatannya menjadi kabur.
"Kalau melihat orang itu jadi samar dan buram. Anak saya yang paling besar pernah membelikan kaca mata, tapi gak terpakai, mungkin karena memang mata saya tidak bermasalah," ujarnya sambil ditemani anak bungsunya.
Yanti mengaku merasa malu jika harus meminta belas kasihan. Jika pun ia menerima bantuan dari orang lain, semata karena keinginannya untuk mencari nafkah sendiri, agar bisa membiayai kedua anaknya yang masih bersekolah.
Editor : Administrator