SUKABUMIUPDATE.com - Salah seorang pionir arum jeram di Indonesia, sekaligus pendiri, dan Direktur Arus Liar, Lody Korua (60 tahun) yang hadir dalam perkumpulan para perintis dan senior pecinta alam dari berbagai kampus serta perhimpunan prihatin terhadap kondisi aliran Sungai Citarik, yang kini semakin surut diduga akibat penanaman pohon Sawit di hulu sungai.
Lody bercerita, Sungai Citarik, sejak 20 tahun lalu menjadi primadona pariwisata Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pasalnya, selain mempunyai arus yang bagus, kata Lody, pemandangan menarik, juga banyak lahir atlet yang menjadi juara di tingkat nasional.
BACA JUGA:Â Setengah Abad Bergelut dengan Alam, Pegiat Pecinta Alam Berkumpul di Situgunung Kabupaten Sukabumi
"Dulu, Citarik menjadi tolok ukur di Indonesia, karena banyak atlet yang lahir di sana. Selain itu, juga warga sekitar yang dibina, dilatih, dan memanfaatkan dengan cara bekerja atau membuka dagangan," sampainya kepada sukabumiupdate.com, sewaktu ditemui di Situgunung Kabupaten Sukabumi, Jumat (25/8/2017).
Menurut Lody, perubahan tersebut terjadi setelah tanaman pohon Teh, dan Coklat, diganti tanaman Sawit di hulu sungai, sehingga debit air semakin surut dan pengunjung pun menjadi sepi.
BACA JUGA:Â Sukabumi Cat Lovers, Pecinta Kucing Jalanan Tak Bertuan hingga Berharga Belasan Juta
"Ini tahun ketujuh kelapa Sawit ditanam, dan aliran Sungai Citarik semakin surut. Bahkan, jika hujan pun tidak mempengaruhi debit air. Kalau faktor lain, mungkin dari akses jalan yang sering macet. Tapi, kalau jalan tol selesai, mungkin akan teratasi," tuturnya.
Dampak dari itu, tambah dirinya, para pekerja di arum jeram dari warga setempat yang telah dididik dan dilatih kembali menjalani hidupnya menjadi petani dan lain-lain.
"Sayang, warga yang sudah dibina termasuk atlet yang sudah menoreh prestasi, kembali menjadi petani," sesalnya.
BACA JUGA:Â Ini Komunitas Mancing Tanpa Batas, dari Sukabumi Hingga Alaska
Kini, Cicatih yang dulunya pernah dijadikan ajang Piala Dunia pun sepi, paling banyak hanya dua orang pengunjung yang bisa ditarik para gaet, karena debit air tidak memungkinkan untuk memuat bangak orang.
"Entah, Sungai Citarik saat ini apakah masih bisa dipertahankan menjadi tolok ukur se Indonesia, apa tidak?," tukasnya.
Editor : Administrator