SUKABUMIUPDATE.com - Pertalite dan Pertamax adalah dua jenis bahan bakar yang sering digunakan di Indonesia. Kedua BBM yang diproduksi Pertamina ini memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal kualitas dan teknologi pengolahan.
Belakangan ramai dibahas tentang kasus SPBU curang di Sukabumi hingga narasi Pertamax dioplos menjadi Pertalite. Pasalnya usai kasus SPBU curang di Sukabumi diungkap, sosok Direktur Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, lantas ditangkap atas kasus Korupsi.
Namun terkait hal itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari memastikan tidak ada praktik pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax.
Seperti diketahui, Pertamax dikenal karena kualitasnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan Pertalite. Itulah mengapa, Pertamax biasanya dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan BBM seperti Pertalite, tetapi memberikan performa dan efisiensi yang lebih baik bagi kendaraan.
Baca Juga: Kasus SPBU Curang di Sukabumi Viral, Yuk Mengenal BBM Pertalite!
Lebih lengkap, berikut sederet Perbedaan Pertalite dan Pertamax yang diproduksi Pertamina, seperti dirangkum dari berbagai sumber:
Perbedaan Pertalite dan Pertamax
Angka Oktan Pertalite vs Pertamax
Pertalite memiliki angka oktan 90, sedangkan Pertamax memiliki angka oktan minimal 922. Angka oktan yang lebih tinggi pada Pertamax membuatnya lebih cocok untuk mesin dengan rasio kompresi yang lebih tinggi.
Teknologi Pengolahan Pertalite vs Pertamax
Pertamax diproduksi dengan teknologi yang lebih canggih dan proses pengolahan yang lebih rumit dibandingkan Pertalite.
Hal ini membuat Pertamax lebih mahal, tetapi juga menawarkan performa yang lebih baik dan efisiensi bahan bakar yang lebih tinggi.
Fitur Tambahan Pertalite vs Pertamax
Pertamax dilengkapi dengan teknologi ecosave yang membantu membersihkan bagian dalam mesin dan melindungi dari karat. Pertalite juga memiliki tambahan aditif yang membantu menjaga kualitas bahan bakar dan efisiensi jarak tempuh.
Harga Pertalite vs Pertamax
Karena proses pengolahan yang lebih kompleks dan teknologi yang lebih maju, Pertamax biasanya lebih mahal dibandingkan Pertalite.
Baca Juga: Damai di Kantor Polisi, 12 Pelajar Pelaku Penyerangan SMP di Kota Sukabumi Dibina
Direktur Pertamina Patra Niaga Ditangkap di Kasus Korupsi Rp193,7 Triliun
Direktur Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan di SPBU Baros Kota Sukabumi, Rabu (19/2/2025).
Sebelumnya diberitakan, Direktur Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan turut hadir di Kota Sukabumi pada Rabu (19/2/2025), dalam agenda membongkar dugaan praktik curang pengurangan takaran pengisian BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/SPBU 34.43.111 yang berlokasi di Kecamatan Baros. Kota Sukabumi. Hingga SPBU kemudian ditutup sementara serta diambil alih oleh Pertamina.
“Hal berikut perlu kami sampaikan SPBU ini akan kita tutup sementara, nantinya operasional dari SPBU ini akan diambil alih langsung oleh pertamina dengan standar yang termonitor langsung oleh Pertamina,” ujar Riva Siahaan kepada awak media.
Menurutnya, penutupan akan dilakukan sampai batas waktu yang tidak ditentukan atau berdasarkan proses penyelidikan pada kasus tersebut selesai dilaksanakan. “Seperti yang tadi pak Direktur Tipidter sampaikan penyidikan akan berjalan dengan proses yang khusus dengan cepat sehingga pelayanan masyarakat di wilayah sekitar itu tidak terkendala,” kata dia.
Baca Juga: Diduga Oplos Pertamax dengan Pertalite, BPKN: Konsumen Berhak Gugat Pertamina
Namun, selang empat hari sepulang dari Kota Sukabumi, Riva Siahaan ditetapkan oleh Kejaksaan Agung sebagai tersangka dugaan korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun.
Bahkan, penetapan tersangka dugaan korupsi tata kelola minyak dilakukan Senin malam, 24 Februari 2025, beberapa jam setelah Riva Siahaan menerima penghargaan berupa 12 medali emas Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) Tahun 2024 dan 61 PROPER Hijau, yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup.
Klaim Pertamina Soal Modus Korupsi Pertamax Dioplos Pertalite
PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), mengklaim tidak ada praktik pengoplosan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax dengan Pertalite. Perusahaan menjamin bahwa kualitas Pertamax tetap sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah, yakni dengan Research Octane Number (RON) 92.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari menegaskan bahwa seluruh produk BBM yang masuk ke terminal Pertamina telah memenuhi standar yang ditetapkan.
“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing. Pertalite memiliki RON 90, dan Pertamax memiliki RON 92. Spesifikasi yang disalurkan ke masyarakat dari awal penerimaan produk di terminal Pertamina telah sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujar Heppy dalam keterangan resminya, Rabu (26/2/2025).
Pernyataan Heppy tersebut merespons kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang yang kini tengah ditangani oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam kasus itu, Kejagung telah menetapkan empat petinggi Pertamina sebagai tersangka. Para tersangka berasal dari jajaran direksi anak usaha Pertamina serta pihak swasta yang diduga terlibat sejak 2018 hingga 2023.
Sumber: berbagai sumber.
Editor : Nida Salma