SUKABUMIUPDATE.com – Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil singkong jenis manggu di kawasan Pajampangan. Bagi petani setempat, singkong menjadi komoditas sampingan setelah padi yang tetap menjadi prioritas utama.
Singkong manggu tersebut banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gaplek. Gaplek merupakan bahan pangan tradisional yang berasal dari ubi kayu (singkong) yang dikupas, dicacah, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Karena daya simpannya yang lama, gaplek kerap digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif maupun bahan baku pakan ternak.
Sebagian besar hasil panen singkong petani di Waluran langsung dijual kepada pengepul. Penjualannya dilakukan dengan dua cara, yakni diantar ke lokasi pengolahan atau dijual langsung di kebun. Selanjutnya, singkong tersebut diolah menjadi gaplek yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan hewan ternak, seperti sapi.
Baca Juga: Motor Berpenumpang Lansia Diserempet di Sukaraja Sukabumi, Pelaku Kabur
Salah satu pengolah gaplek, Andi (45), warga Kampung Samelang, Desa Mekarmukti, Kecamatan Waluran, mengatakan bahwa bahan baku singkong diperoleh langsung dari para petani sekitar.
“Singkong ini berasal dari petani. Ada yang diantar ke lokasi pembuatan gaplek, ada juga yang kami beli langsung di lokasi tanam,” ujar Andi, Rabu (28/1/2026).
Menurut Andi, harga beli singkong bervariasi tergantung sistem pengambilannya. Jika singkong diantar ke lokasi pengolahan, harganya mencapai Rp700 per kilogram. Sementara itu, jika dibeli langsung di kebun, harganya Rp400 per kilogram karena biaya panen dan transportasi ditanggung oleh pihak pengolah.
“Selain membeli dari petani, bahan baku juga berasal dari kebun singkong milik sendiri untuk memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.
Proses pengolahan gaplek diawali dengan pencacahan singkong menggunakan mesin, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan. Pengeringan dilakukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau menggunakan oven jika kondisi cuaca tidak mendukung.
“Kalau cuaca bagus dan dijemur, biasanya dua hari sudah kering. Kalau menggunakan oven berkapasitas lima ton, bisa kering dalam waktu dua hari satu malam,” jelasnya.
Dalam kondisi cuaca normal, produksi gaplek di tempat tersebut bisa mencapai 10 ton dalam kurun waktu 10 hari. Hasil produksi kemudian dikirim ke sejumlah kota untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan ternak.
“Produksi sangat bergantung pada cuaca. Untuk operasional, ada tujuh orang pekerja yang terlibat, termasuk saya,” pungkas Andi.
Editor : Asep Awaludin