Sukabumi Update

Alarm dari Slamet: Ketergantungan Impor Bisa Picu Krisis Pangan

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS drh Slamet saat mengikuti pertemuan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (6/11/2025). | Foto: Ulfi/vel

SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, drh Slamet, mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan sikap optimisme berlebihan terkait kondisi pangan nasional. Meski dalam rapat kerja bersama Kementerian Pertanian, KKP, Bapanas, Bulog, dan ID FOOD, disampaikan kondisi pangan relatif aman, fakta di lapangan justru menunjukkan tingkat kerentanan yang cukup tinggi, terutama akibat ketergantungan impor pada sejumlah komoditas strategis.

Dalam keterangan Slamet pada Sabtu (11/4/2026), data menunjukkan beberapa komoditas utama masih sangat bergantung pada impor dalam jumlah besar. Kedelai, misalnya, ditargetkan impor mencapai 2,57 juta ton pada 2026, jauh di atas target produksi domestik yang hanya sekitar 311 ribu ton. Gandum bahkan 100 persen masih impor dengan volume mencapai 11,7 juta ton. Sementara kebutuhan susu nasional juga mengalami defisit hingga 3,5–4 juta ton per tahun yang harus ditutup dari impor.

"Ketergantungan ini menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap gangguan pasokan global, baik akibat konflik geopolitik, gangguan logistik, maupun pelemahan nilai tukar rupiah," kata legislator Senayan asal daerah pemilihan Sukabumi itu.

Baca Juga: Konflik Global Picu Lonjakan Harga, Slamet: Indonesia Harus Percepat Kemandirian Pangan

Slamet pun menyoroti potensi tekanan tambahan dari kenaikan harga energi global yang berdampak langsung pada harga pupuk. Kenaikan harga gas sebagai bahan baku pupuk berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian, yang pada akhirnya menekan produktivitas dan meningkatkan harga pangan domestik. Dalam kondisi bersamaan, ancaman kemarau panjang akibat El Nino juga berpotensi menurunkan produksi dalam negeri, sebagaimana risiko pada komoditas kedelai dan jagung yang sangat sensitif terhadap ketersediaan air dan input produksi.

Oleh karena itu, Slamet menegaskan sikap optimis harus tetap diiringi dengan kewaspadaan dan langkah mitigasi yang konkret. Pemerintah perlu segera memperkuat strategi ketahanan pangan melalui percepatan substitusi impor, penguatan cadangan pangan nasional, diversifikasi sumber bahan baku, serta stabilisasi harga pupuk dan energi bagi petani.

"Selain itu, diperlukan skenario kontinjensi menghadapi “double shock” berupa konflik global dan El Nino agar Indonesia tidak terjebak pada krisis pangan yang berdampak luas terhadap inflasi dan stabilitas sosial-ekonomi," ujar dia.

Editor : Oksa Bachtiar Camsyah

Tags :
BERITA TERKAIT