SUKABUMIUPDATE.com - Peristiwa dentuman bola api di langit selatan Cianjur dan Sukabumi Jawa Barat, pada Kamis malam 22 Januari 2026, mengejutkan publik. Fenomena astronomi yang diduga terkait perjalanan meteorid ini disaksikan banyak warga di Cianjur maupun Sukabumi.
Belum ada keterangan resmi dari pemerintah soal peristiwa alam di langit Cianjur dan Sukabumi ini, namun ahli astronomi menduga luncuran bola api sertai suara dentuman tersebut sebagai fenomena bolide atau bola api. Dan ini bukan kali pertama, peristiwa yang sama juga diduga terjadi dan dilihat warga Cipanas Kabupaten Cianjur pada 6 Januari 2026.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis data cuaca, fenomena tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas thunderstorm. Selain itu, pemantauan seismograf juga tidak menemukan adanya aktivitas seismik maupun vulkanik.
Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Mengakibatkan TPT Ambruk, Pangkalan Ojek di Warudoyong Ikut Tergerus
Ia menambahkan, dengan kondisi cuaca dan seismik yang terpantau normal, fenomena tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik, seismik, maupun badai petir. Meski demikian, secara ilmiah masih terdapat kemungkinan lain yang dapat menjelaskan kemunculan dentuman dan kilatan cahaya tersebut.
“Salah satu fenomena alam yang paling mungkin adalah bolide atau bola api,” jelasnya dilansir dari portal resmi IPB.
Bolide merupakan peristiwa masuknya meteoroid berukuran relatif besar ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan meteoroid terbakar cepat dan menghasilkan kilatan cahaya terang seperti meteor.
Baca Juga: KDM Beri Sinyal "Lampu Hijau" Perizinan Perumahan Jabar, Ini Syarat Ketatnya!
“Jika ukurannya cukup besar, asteroid dapat meledak di atmosfer dan menimbulkan gelombang kejut sonik yang terdengar sebagai dentuman keras oleh warga di permukaan,” paparnya.
Kilatan cahaya yang teramati juga dapat terjadi akibat proses ablasi dan ionisasi atmosfer yang memicu pelepasan energi elektromagnetik, sebagaimana dijelaskan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Fenomena serupa sebelumnya juga pernah terjadi di wilayah Cirebon beberapa bulan lalu, ketika sebuah meteor dilaporkan mencapai permukaan Bumi dan menyebabkan kerusakan pada sebagian atap rumah warga.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dugaan fenomena bolide tersebut masih memerlukan klarifikasi lanjutan. “Untuk memastikan penyebab pastinya, diperlukan pengamatan langsung serta temuan lapangan di lokasi kejadian, termasuk kemungkinan adanya jejak material meteorit,” pungkasnya.
4 Fenomena Langit di Bulan Januari 2026
Komunitas astronomi langit selatan merilis daftar 4 peristiwa langit yang hadir sepanjang bulan Januari 2026.
Pertama, Planet
Merkurius, Venus, Mars. Tiga planet batuan ini tidak akan bisa diamati di sepanjang Januari 2026. Secara berurutan ketiga planet ini akan menghilang di balik cahaya Matahari saat konjungsi superior, dimulai dengan Venus dan Mars di awal Januari dan Merkurius jelang akhir bulan. Di penghujung Januari, Merkurius dan Venus sudah tampak setelah Matahari terbenam meski masih terlalu rendah untuk bisa diamati
Jupiter. Planet terbesar di Tata Surya ini bisa diamati sampai jelang fajar. Di awal Januari, planet Jupiter mencapai oposisi dan berada pada perigee atau jarak terdekat dari Bumi. Pada saat oposisi, Jupiter bisa diamati sepanjang malam karena planet ini terbit dan terbenam beriringan dengan Matahari. Planet ini bisa diamati di rasi Gemini.
Baca Juga: Diguyur Sejak Pagi, Sukabumi Potensi Hujan Relatif Lama Jumat 23 Januari 2026
Saturnus. Planet yang terkenal karena cincinnya ini bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai jelang tengah malam di rasi Aquarius. Saturnus berpapasan dengan Bulan di akhir Januari.
Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut.
Selama bulan Januari, kedua planet bisa diamati setelah Matahari terbenam. Uranus di rasi Taurus bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai lewat tengah malam. Sementara itu, Neptunus bisa diamati di rasi Pisces setelah Matahari terbenam sampai jelang tengah malam.
Baca Juga: Berpisah dengan Buriram United, Shayne Pattynama Gabung Persija?
Kedua, Bulan
2 Januari. Bulan di perige. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 360.348 km.
3 Januari. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.
10 Januari. Bulan Separuh Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari dan bisa diamati dari tengah malam sampai jelang fajar.
14 Januari. Bulan di titik apoge. Bulan di titik terjauh dari Bumi dengan jarak 405.438 km
Baca Juga: Diduga Tersengat Listrik, Warga Nagrak Temukan Mayat Pria Tergeletak di Kebun
19 Januari. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.
26 Januari. Bulan Separuh Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.
30 Januari. Bulan di perige. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 365.871 km.
Ketiga, Hujan Meteor
3-4 Januari– Hujan Meteor Quadrantid
Hujan meteor Quadrantid saat maksimum pada 4 Januari 2026 pukul 04:00 WIB. Berbeda dengan hujan meteor lainnya, intensitas maksimum hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam. Quadrantid berasal dari puing asteroid 2003 EH1 saat mengelilingi Matahari setiap 5,52 tahun.
Saat maksimum, pengamat bisa menikmati setidaknya 120 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 41 km/detik. Untuk pengamat di belahan Bumi Selatan, hujan meteor Quadrantid tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati juga lebih sedikit.
Baca Juga: Casemiro Pergi, Manchester United Buka Negosiasi Kontrak Baru untuk Kobbie Mainoo
Keempat, Peristiwa
4 Januari — Perihelion
Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 3 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,9833 SA atau 147.105.052 km dari Matahari.
4 Januari — Bulan — Jupiter
Bulan berpapasan dengan planet Jupiter dan bisa diamati sejak keduanya terbit beriringan setelah Matahari terbenam. Bulan terbit pukul 18:14 WIB disusul Jupiter pada pukul 18:38 WIB.
6 Januari — Bulan — Regulus
Bulan berpapasan dekat dengan bintang Regulus, bintang paling terang di rasi Leo. Keduanya berpapasan sangat dekat hanya 0,8º. Bulan terbit pukul 20:55 WIB disusul bintang Regulus 3 menit kemudian.
10 Januari –- Oposisi Jupiter
Jupiter saat oposisi, terbit saat Matahari terbenam dan bisa dimaati sepanjang malam. Planet terbesar di Tata Surya akan berada pada posisi terdekat dengan Bumi dan tampak sangat terang di langit malam. Saat oposisi, Jupiter akan berada pada jarak 4,23 SA dengan diameter piringan 45,6 detik busur. Para pengamat bisa menikmati kehadiran Jupiter di rasi Gemini dengan kecerlangan -2,7 magnitudo sejak Matahari terbenam sampai jelang fajar. Pengamat juga bisa mengamati satelit-satelit galilean yang mengitari planet raksasa tersebut. Jupiter bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai jelang fajar.
Baca Juga: 10 Jamu Tradisional Paling Populer dan Manfaatnya, Kamu Suka yang Mana?
15 Januari — Bulan — Antares
Bulan berpapasan dekat dengan bintang Antares, bintang paling terang di rasi Scorpius. Keduanya berpapasan sangat dekat hanya 1º. Antares terbit pukul 02:27 WIB disusul Bulan satu menit kemudian.
23 Januari — Bulan — Saturnus
Bulan setengah berpapasan dengan Saturnus dan hanya terpisah 4º. Keduanya bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai kisaran 3 jam kemudian. Bulan terbenam 21:36 WIB dan disusul Saturnus satu menit kemudian.
29 Januari — Okultasi Beta Tauri oleh Bulan
Bulan berpapasan dekat dan bahkan meng okultasi bintang beta Tauri. Bintang Beta Tauri atau Elnath akan tampak menghilang di balik Bulan dan kemudian melintasi Bulan sampai keluar dari balik Bulan. Bintang Beta Tauri menghilang di balik Bulan alias diokultasi mulai pukul 15:52 WIB dan tidak bisa diamati dari Indonesia. Akan tetapi setelah Matahari terbenam, pengamat di Indonesia bagian tengah dan timur berkesempatan menyaksikan bintang Beta tauri muncul dari balik Bulan.
Untuk pengamat di Indonesia bagian barat hanya bisa mengamati papasan dekat Bulan dan Elnath setelah matahari terbenam. Elnath terbenam pukul 02:29 WIB dan disusul Bulan pukul 02:50 WIB.
31 Januari — Bulan — Jupiter
Bulan berpapasan dengan planet Jupiter dan bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai jelang fajar. Jupiter terbenam pukul 04:12 WIB disusul Bulan pada pukul 04:58 WIB.
Editor : Fitriansyah