Sukabumi Update

Siap-siap Musim Kemarau 2026 Lebih Kering, BMKG: Rata-rata Selama 30 Tahun

Ilustrasi - Musim kemarau 2026 di Indonesia lebih kering. (Sumber : Freepik.com/@wirestock).

SUKABUMIUPDATE.com - Musim kemarau 2026 di prediksi akan lebih kering dan waktunya lebih panjang dibandingkan pada kondisi normal. Dimana Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengatakan bahwa tahun ini lebih kering apabila dibandingkan rata-rata selama 30 tahun.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perubahan Iklim Dr. A. Fachri Radjab, S.Si., M.Si, dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76, BMKG Jawa Barat dengan Tema Observing today, protecting tomorrow, pada Selasa (14/04/2026).

“Analisi terakhir yang dilakukan oleh BMKG memang, musim kemarau tahun 2026 ini akan datang lebih awal durasinya akan lebih Panjang, dan apabila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun musim kemarau tahun ini relatif lebih kering dibanding rata-ratanya selama 30 tahun,” ujar Fachri, dikutip dalam keterangan.

Baca Juga: Logo Jadi Kunci, Dugaan Operasi Siber Ilegal WNA di Cimaja yang Berkedok Agen Wisata

Namun, Fachri juga menegaskan dalam hal ini musim kemarau 2026 bukan paling kering maupun terparah selama 30 terakhir, melainkan rata-ratanya.

“Bukan paling kering selama 30 tahun, apabila ada informasi rata-rata musim kemarau tahun ini terparah sepanjang 30 tahun itu tidak tepat,” tegasnya.

Terkait El Nino, dalam diskusi tersebut ia juga mengatakan jika kemarau dan El Nino adalah dua fenomena yang berbeda yang datangnya tidak selalu bersamaan.

“Musim kemarau di Indonesia sudah pasti ada setiap tahunnya, tapi El Nino yang datangnya berbarengan dengan musim kemarau, kemaraunya akan lebih kering, ujarnya.

Ilustrasi Musim Kemarau 2026. | Freepik.com/@sergeycauseloveIlustrasi Musim Kemarau 2026. | Freepik.com/@sergeycauselove.

Fachri menambahkan, bahwa berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Nino diperkirakan mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei 2026 dengan intensitas awal yang masih berada pada kategori lemah.

Intensitas tersebut kemudian diproyeksikan meningkat secara bertahap menjadi kategori moderat, terutama pada periode Agustus hingga Oktober 2026.

“El nino mulai aktif di akhir April dan awal mei 2026, dan intensitas antara lemah dan moderat, namun saat ini masih lemah dan moderat nanti di agustus, September oktober, mulai meningkat jadi kategori moderat,” katanya.

Sementara itu dikutip dari laman BMKG, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi iklim global saat ini masih berada pada fase netral, dengan indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) sekitar +0,28. Namun demikian, pada semester kedua 2026 kondisi tersebut diprakirakan berkembang menuju fase El Nino lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 persen.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis, antara lain respons antisipatif pada wilayah dengan potensi curah hujan rendah, penguatan manajemen waduk dan irigasi berbasis data, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, serta kampanye efisiensi penggunaan air dan energi.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT