SUKABUMIUPDATE.com - Upaya pelestarian ikan Torsoro atau yang dikenal sebagai ikan Dewa mulai menunjukkan hasil menggembirakan di Kabupaten Sukabumi. Kelompok Hikamuci (Himpunan Kawula Muda Cipanas) di Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, berhasil menghasilkan sekitar 3.000 ekor anakan ikan Torsoro melalui teknik pemijahan buatan atau stripping.
Keberhasilan tersebut menjadi angin segar bagi upaya penyelamatan ikan air tawar endemik yang populasinya terus mengalami penurunan akibat kerusakan habitat, pertumbuhan yang lambat, serta jumlah telur yang relatif sedikit.
Ketua Kelompok Hikamuci, Ujang Dimyati, mengatakan metode stripping diterapkan terhadap enam indukan betina ikan Torsoro. Dari setiap indukan, mampu dihasilkan sekitar 400 hingga 500 ekor anakan.
Baca Juga: Libur Sekolah, Dalam 2 hari: Curug Sodong Geopark Ciletuh Sukabumi Dikunjungi 673 Wisatawan
"Kelompok telah berhasil melakukan metode stripping terhadap enam indukan betina Torsoro. Setiap indukan menghasilkan sekitar 400 hingga 500 ekor anakan," kata Ujang, Minggu (5/7/2026).
Menurut Ujang, keberhasilan tersebut menjadi kemajuan penting dalam upaya konservasi ikan Torsoro yang selama ini masih mengandalkan pemijahan alami sehingga pertumbuhan populasinya berlangsung lambat.
"Melalui metode stripping, proses pemijahan bisa dilakukan lebih terkontrol. Ini menjadi harapan baru agar populasi ikan Torsoro bisa berkembang lebih cepat dibandingkan hanya mengandalkan pemijahan alami," ujarnya.
Baca Juga: Irjen Pol Pipit Rismanto Resmi Jabat Kapolda Jabar Gantikan Komjen Pol Rudi Setiawan
Ikan Torsoro merupakan salah satu spesies ikan air tawar endemik yang hidup di perairan berarus deras di kawasan pegunungan. Di Jawa Barat, ikan ini juga dikenal sebagai ikan Dewa atau mahseer. Populasinya terus mengalami penurunan akibat kerusakan habitat, laju pertumbuhan yang lambat, serta jumlah telur yang relatif sedikit.
Hasil penerapan metode stripping pada tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Dari tiga kali percobaan pemijahan, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) anakan ikan selama tiga minggu pertama mencapai sekitar 65 persen.
Saat ini ribuan anakan ikan masih dipelihara di akuarium pembesaran sebelum dipindahkan ke kolam budidaya. Sebagian di antaranya direncanakan akan dilepasliarkan kembali ke habitat asal melalui program restocking sebagai upaya memulihkan populasi ikan Torsoro di alam sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Pusat konservasi ikan tor soro di Cipanas Kabandungan Sukabumi
"Kami berencana menerapkan metode stripping secara rutin setiap bulan. Harapannya populasi ikan Torsoro terus bertambah sehingga selain untuk pengembangan budidaya, sebagian anakan juga bisa dikembalikan ke habitat alaminya," tutur Ujang.
Kelompok Hikamuci yang beranggotakan tujuh petani lokal dibentuk pada 2017 untuk mendukung upaya konservasi ikan Torsoro di Kampung Cipanas, Desa Kabandungan. Aktivitas kelompok sempat terhenti saat pandemi COVID-19 sebelum kembali aktif melalui berbagai program penguatan kapasitas.
Sejak 2023, kelompok tersebut mendapat pendampingan dari Star Energy Geothermal Salak Ltd melalui program pemberdayaan masyarakat. Pendampingan dilakukan secara bertahap mulai dari forum diskusi dan pemetaan potensi, perbaikan infrastruktur kolam, penambahan bibit ikan Torsoro, pelatihan teknik stripping, pengembangan pakan berbasis maggot, hingga studi banding untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok.
Baca Juga: Gempa M3,7 Guncang Sukabumi Dini Hari, BMKG: Aktivitas Sesar Aktif Bawah Laut
Selain mengembangkan konservasi ikan Torsoro, kawasan kolam Hikamuci sejak 2025 juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan nila dan ikan emas sebagai penopang ekonomi kelompok agar kegiatan konservasi dapat berlangsung secara mandiri dan berkelanjutan.
Social Investment Specialist Star Energy Geothermal Salak Ltd, Haris Nur Azhar, mengatakan pengembangan budidaya ikan komersial menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan sehingga mendukung keberlanjutan program konservasi di tingkat lokal. Kami berharap masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengabaikan upaya menjaga kelestarian lingkungan," kata Haris.
Editor : Fitriansyah