Sukabumi Update

Meteor di Langit Jawa: Peneliti BRIN Ungkap Asal dan Prediksi Titik Akhir Bintang Jatuh

Ilustrasi. Meteor | Foto: Pixabay

SUKABUMIUPDATE.com - Sabtu malam 11 Juli 2026, banyak warga di pulau Jawa yang menjadi saksi fenomena meteor jatuh, termasuk di Sukabumi Jawa Barat. Bola api yang melintas di langit jawa, disaksikan oleh warga Sukabumi, sekitar pukul 21.30 WIB.

Oksa (30) mengaku menyaksikan langsung fenomena tersebut saat dalam perjalanan pulang dari Palabuhanratu bersama istri dan anaknya. Menurut dia, benda bercahaya itu tampak seperti bola api yang bergerak turun di langit.

"Barusan saya baru banget pulang dari Palabuhanratu sama istri dan anak. Di jalan terlihat jelas melihat sesuatu yang jatuh, bentuknya kayak bola api. Sempat ragu juga, jangan-jangan apa gitu. Kalau petasan rasanya enggak mungkin," ujarnya kepada Sukabumiupdate.com, Minggu (12/07/2026).

Baca Juga: DPMD Sukabumi Evaluasi Kinerja 381 Pemdes Lewat Anugerah Desa Mubarokah 2026

Ia mengatakan peristiwa tersebut terlihat saat melintas di kawasan Warungkiara sekitar pukul 21.30 WIB. Fenomena tersebut menjadi perbincangan luas di media sosial. Banyak warga mengunggah video yang memperlihatkan sebuah objek bercahaya melesat di langit di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, dengan sebagian melaporkan suara dentuman beberapa saat objek tersebut melintas.

Brin Ungkap Data

Berdasarkan analisis ilmiah yang dilakukannya, peneliti astronomi dan astrofisika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer bumi. Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi.

"Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar dan tampak sebagai meteor," kata Thomas, melalui keterangan tertulis yang dibagikannya pada Minggu malam, 12 Juli 2026.

Baca Juga: Diskominfo dan BPS Perkuat EPSS Kota Sukabumi, Fokus Pengelolaan Data 3 Dinas

Profesor riset yang pernah menjabat Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional itu menerangkan bahwa proses pijaran mulai terjadi ketika batuan antariksa memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer di atas permukaan bumi. Pada fase tersebut, material batuan mulai mengalami ablasi atau pengikisan akibat suhu yang sangat tinggi sehingga menghasilkan cahaya terang.

Berdasarkan analisis lintasannya, meteor yang terlihat pada Sabtu malam bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Dituturkan Thomas, meteor tersebut pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari wilayah Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB. Saat itu meteor masih cukup tinggi sehingga tampak sebagai objek kecil putih.

Ketika memasuki atmosfer yang lebih rapat, objek tersebut semakin terang dan mulai memperlihatkan perubahan warna yang berbeda-beda di berbagai lokasi pengamatan. Di Majalengka, meteor dilaporkan tampak biru. Selanjutnya objek yang sama terlihat di kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB dan Tasikmalaya. Ketika melintas di wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, sejumlah warga menyaksikan meteor memancarkan cahaya hijau yang sangat terang. 

Baca Juga: Rayakan 6 Tahun Pernikahan, Dinda Hauw-Rey Mbayang Nikmati Pesona Curug Cikanteh

"Variasi warna tersebut merupakan fenomena yang umum terjadi pada meteor karena dipengaruhi oleh komposisi mineral penyusunnya serta kondisi atmosfer yang dilalui," ujar Thomas. Dia mencontohkan warna hijau umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar pada suhu tinggi selama proses masuk ke atmosfer. "Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan." 

Dari rangkaian pengamatan yang dihimpun, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara hingga akhirnya kehilangan kecepatannya dan kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.

Di wilayah Jawa Barat bagian timur, sejumlah warga Cirebon dan Kuningan melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Thomas menjelaskan bahwa suara tersebut bukan berasal dari ledakan di permukaan, melainkan gelombang kejut (sonic boom) yang terbentuk ketika meteor melaju dengan kecepatan sangat tinggi di atmosfer bawah yang lebih rapat.

Baca Juga: Memahat Jiwa di Balik Bangku Sekolah: Ketika Guru Inspiratif Mendobrak Kaku Kurikulum

"Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara," kata Thomas sambil menambahkan, "Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan."

Thomas menjelaskan bahwa fenomena meteor jatuh seperti pada Sabtu malam sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa dalam skala astronomi. Pada 5 Oktober 2025, misalnya, fenomena bola api yang berasal dari Hujan Meteor Draconid juga menjadi pemberitaan karena terlihat di langit Cirebon.

Faktanya, Thomas mengatakan, setiap hari bumi menerima jutaan batuan dalam berbagai ukuran dari antariksa, tetapi sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga habis terbakar di atmosfer dan hanya tampak sebagai "bintang jatuh". 

Baca Juga: Prancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026: Les Bleus Bidik Final Kelima dalam Delapan Turnamen

Ia menambahkan bahwa atmosfer bumi berfungsi sebagai pelindung alami yang sangat efektif terhadap benda-benda antariksa. Sebagian besar meteoroid (batuan antariksa yang masuk ke bumi) habis terbakar sebelum mencapai permukaan.

"Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah memahami fenomenanya secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang tidak benar," kata Thomas. 

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT