Sukabumi Update

Kabupaten Sukabumi Masuk Status Siaga Kekeringan, Warga Mulai Rasakan Krisis Air Bersih

Ilustrasi Musim Kemarau 2026. | Freepik.com/@sergeycauselove (Sumber : Freepik.com/@sergeycauselove).

SUKABUMIUPDATE.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Jawa Barat pada dasarian II periode 11–20 Juli 2026. Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu daerah yang masuk dalam kategori Siaga.

Berdasarkan peta potensi kekeringan BMKG, wilayah yang masuk kategori Waspada meliputi Kota Bandung, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran, dan Kabupaten Tasikmalaya.

Sementara itu, wilayah dengan kategori Siaga meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kota Bekasi, Kota Cimahi, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Bekasi.

Baca Juga: Teriak Sulit Air Bersih, Warga Cikundul Kota Sukabumi Minta Sumur Bor

BMKG juga menyebutkan, berdasarkan hasil monitoring perkembangan musim, seluruh Zona Musim (ZOM) di Jawa Barat kini telah memasuki musim kemarau. Meski demikian, karakteristik cuaca di setiap daerah dapat berbeda-beda.

Dampak musim kemarau pada tahun ini memang mulai dirasakan di Sukabumi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat sebanyak 2.258 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.022 jiwa mulai terdampak krisis air bersih akibat kekeringan.

Wilayah yang telah mengajukan bantuan air bersih meliputi Desa Bojong, Kecamatan Cikembar; Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug; Desa Sekarwangi dan Kelurahan Cibadak di Kecamatan Cibadak; serta Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung.

Baca Juga: Tak Perlu ke Pemandian Mahal, Mata Air Cimutan Punya Kesegaran Alami dengan Harga Terjangkau

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD sejak akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026, jumlah warga terdampak terus bertambah seiring berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Kondisi serupa juga mulai terjadi di Kota Sukabumi. Krisis air bersih telah dirasakan warga di sedikitnya empat kecamatan. Di Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, ratusan kepala keluarga terpaksa mengandalkan bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu warga terdampak adalah Lina Marlina, warga Kampung Cikundul Hilir RT 01/04, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu. Selama hampir dua bulan terakhir, sumur di rumahnya mengering sehingga ia harus berjuang setiap hari mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan tujuh anggota keluarganya.

Sebelumnya, BMKG pada dasarian I Juli 2026 juga telah menyatakan bahwa Sukabumi telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan peta perkembangan awal musim kemarau di Jawa Barat, hampir seluruh wilayah, termasuk Kabupaten Sukabumi, telah berstatus "Sudah Musim Kemarau".

Baca Juga: Musim Kemarau Kota Sukabumi Mulai Kekeringan, Warga Cikundul Andalkan Bantuan Air Bersih

Secara keseluruhan, sekitar 98 persen zona musim di Jawa Barat telah beralih ke musim kemarau, sementara hanya sekitar 2 persen wilayah yang masih memiliki pola satu musim.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak musim kemarau, seperti berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya potensi kekeringan meteorologis, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan di daerah yang rawan.

Khusus bagi sektor pertanian, BMKG meminta para petani memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar dalam menentukan jadwal tanam, pengelolaan irigasi, serta langkah-langkah adaptasi guna meminimalkan risiko akibat kondisi cuaca.

Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan terus memantau informasi cuaca maupun iklim terkini dari BMKG sebagai langkah antisipasi selama musim kemarau berlangsung.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT