SUKABUMIUPDATE.com - Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya perubahan kondisi sistem magma di bawah kawasan Krakatau dari waktu ke waktu.
Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa magma Gunung Anak Krakatau memiliki karakter lebih basaltik, lebih panas, dan tersimpan pada kedalaman yang jauh lebih besar dibandingkan magma pada periode Old Krakatau dan Young Krakatau.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami evolusi sistem magmatik Krakatau, termasuk perubahan komposisi magma, temperatur, kondisi oksidasi, hingga kedalaman tempat magma tersimpan.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Adrin Tohari, mengatakan pemahaman terhadap dinamika Krakatau diperlukan karena kawasan tersebut memiliki kaitan erat dengan keselamatan masyarakat pesisir serta aktivitas pelayaran di Selat Sunda.
Baca Juga: "Harus Ugal-ugalan di Jalan”, Alasan Driver Maxim Sukabumi Protes Program Turbo
“Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi geologi dan vulkanologi, tapi juga dalam kaitannya dengan keselamatan masyarakat, aktivitas pelayaran, serta potensi bahaya yang dapat berdampak pada wilayah pesisir,” ujar Adrin dikutip dalam keterangan resmi BRIN.
Penelitian mengenai kondisi magma di bawah Krakatau kemudian dipaparkan Peneliti Ahli PRKG BRIN, Aditya Pratama. Penelitian bertajuk “Magma Storage Conditions Beneath Krakatau, Indonesia: Insight from Geochemistry and Rock Magnetism Studies” tersebut telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Earth Science pada 2023.
Menelusuri Kondisi Magma dari Batuan
Aditya menjelaskan, Krakatau merupakan sistem gunung api yang memiliki sejarah aktivitas panjang. Salah satu letusan terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883. Letusan tersebut mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Sagaranten Sukabumi, Motor vs Mobil Satu Orang Tewas Terkapar
Dalam sejarah geologinya, sistem Krakatau setidaknya mengalami dua kali caldera-forming eruption atau letusan yang membentuk kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau ke-6 dan pada 1883.
Setelah letusan besar 1883, Anak Krakatau kemudian muncul pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau.
“Setelah letusan besar 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau. Kondisi tersebut mendorong pertanyaan penting dalam penelitian, yakni bagaimana kondisi penyimpanan magma berubah dari periode Old Krakatau, Young Krakatau, hingga Anak Krakatau, serta pada fase mana Anak Krakatau berada dalam siklus evolusi sistem kaldera,” jelas Aditya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti menganalisis sampel batuan dari sejumlah pulau di kawasan Krakatau, yakni Pulau Sertung, Panjang, Rakata, dan Anak Krakatau.
Baca Juga: Minta Stop Pendaftaran Mitra Baru di Sukabumi dan Tuntutan Lain, Ini Jawaban Maxim Pusat
Analisis dilakukan menggunakan berbagai metode, mulai dari pengamatan batuan melalui mikroskop, analisis geokimia, pemeriksaan komposisi mineral dan gelas vulkanik, hingga pengukuran sifat kemagnetan batuan.
“Salah satu pendekatan penting dalam penelitian ini adalah geothermobarometri, yang digunakan untuk memperkirakan tekanan dan temperatur saat mineral mengalami kristalisasi,” kata Aditya.
Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan kedalaman tempat magma tersimpan dan menyusun gambaran mengenai sistem saluran magma atau magma plumbing system Krakatau pada berbagai periode.
Dapur Magma Anak Krakatau Diperkirakan Lebih Dalam
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan cukup jelas antara magma Old Krakatau, Young Krakatau, dan Anak Krakatau.
Magma Old dan Young Krakatau didominasi komposisi andesitik hingga dasitik dengan kandungan SiO₂ sekitar 63–68 persen berat. Komposisi tersebut menunjukkan magma telah mengalami proses diferensiasi lebih lanjut.
Baca Juga: Angkot Tabrak Motor usai Gagal Nyalip di Tikungan Cicurug Sukabumi, 3 Orang Luka
Sementara itu, magma Anak Krakatau memiliki komposisi basaltik dengan kandungan SiO₂ sekitar 50 persen berat. Magma tersebut dikategorikan lebih primitif atau belum banyak mengalami diferensiasi.
“Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa sistem magma Krakatau menjadi semakin mafik dari periode Old menuju Anak Krakatau. Kondisi ini ditafsirkan sebagai indikasi adanya pasokan magma baru dari kedalaman ke dalam sistem magmatik di bawah Anak Krakatau,” ujar Aditya.
Perbedaan juga terlihat dari perkiraan kedalaman penyimpanan magma.
Pada Old Krakatau, tekanan penyimpanan magma diperkirakan sekitar 14–72 MPa atau setara dengan kedalaman sekitar 0,6–2,9 kilometer.
Sementara Young Krakatau (Anak Krakatau) diperkirakan memiliki tekanan penyimpanan sekitar 26–84 MPa atau setara dengan kedalaman 1,1–3,4 kilometer.
Adapun Anak Krakatau menunjukkan tekanan yang jauh lebih tinggi, yakni sekitar 185–665 MPa. Angka tersebut diperkirakan berkaitan dengan kedalaman penyimpanan magma sekitar 7,4–26,6 kilometer di bawah permukaan.
Baca Juga: Polres Sukabumi Tetapkan Sekretaris Dishub Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Siswi PKL
Dengan kata lain, berdasarkan model penelitian tersebut, magma Anak Krakatau diperkirakan tersimpan jauh lebih dalam dibandingkan sistem magma Old dan Young Krakatau.
“Selain berada pada kedalaman yang lebih besar, temperatur magma Anak Krakatau yang diperkirakan mencapai 916–1.034°C juga secara umum lebih tinggi dibandingkan Old dan Young Krakatau,” ungkap Aditya.
Magma Lebih Panas dan Basaltik
Berdasarkan keseluruhan hasil analisis, sistem magma Old dan Young Krakatau digambarkan memiliki karakter relatif dangkal, lebih teroksidasi, dan lebih dingin.
Sebaliknya, Anak Krakatau menunjukkan karakter magma yang lebih dalam, panas, dan lebih tereduksi.
Perbedaan tersebut juga didukung oleh hasil pengukuran sifat kemagnetan batuan. Sampel Anak Krakatau memiliki nilai magnetic susceptibility tertinggi yang berkaitan dengan dominasi mineral titanomagnetite yang kaya besi.
Sementara itu, Old Krakatau menunjukkan medan saturasi yang lebih tinggi. Temuan tersebut mencerminkan perbedaan karakter mineral magnetik dan konsisten dengan analisis oksida Fe-Ti yang dilakukan dalam penelitian.
Menurut Aditya, keseluruhan hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan kondisi magma dalam perjalanan evolusi sistem Krakatau.
Baca Juga: Andre Taulany Ungkap Alasan Yakin Menikah dengan Amanda Rigby: Dia Baik
Anak Krakatau dalam Fase Inkubasi
Dalam interpretasi penelitian tersebut, Anak Krakatau ditempatkan pada fase inkubasi dalam siklus evolusi kaldera. Sementara Old dan Young Krakatau dikaitkan dengan fase maturasi.
Pada fase inkubasi setelah letusan 1883, magma baru yang bersifat mafik dipandang mengisi kembali sistem magmatik. Kondisi tersebut disertai aktivitas erupsi yang relatif kecil namun berlangsung cukup sering.
Aditya menjelaskan, apabila proses diferensiasi magma terus berlangsung, sistem Anak Krakatau secara konseptual dapat bergerak menuju fase maturasi.
Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat menjadi bagian dari evolusi menuju caldera-forming eruption berikutnya.
Namun, ia menegaskan bahwa interpretasi tersebut menggambarkan evolusi sistem magmatik dan bukan prediksi mengenai kapan letusan besar akan terjadi.
“Dari keseluruhan hasil analisis, penelitian menempatkan Anak Krakatau pada fase inkubasi dalam siklus evolusi kaldera, sementara Old dan Young Krakatau dikaitkan dengan fase maturasi,” kata Aditya.
Editor : Ikbal Juliansyah