SUKABUMIUPDATE.com - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda sedang menyita perhatian karena munculnya fenomena tak biasa. Permukaan kawah tampak membentuk pola menyerupai telur ceplok. Bagian tengah berwarna beda, kontras dengan area di sekitarnya.
Pemandangan itu terlihat ketika GAK mulai memasuki fase yang relatif lebih tenang setelah mengalami rangkaian erupsi dalam beberapa pekan terakhir.
Daryono, sebagai edukator mitigasi bencana, mengatakan fenomena kawah GAK yang terlihat seperti telur ceplok terjadi karena interaksi air yang menggenang di dasar kawah dengan gas vulkanik, terutama senyawa sulfur atau belerang, serta batuan dan mineral hasil alterasi hidrotermal.
Lewat unggahan di akun media sosialnya pada Minggu (20/9/2026), Daryono menyebut warna kuning pada bagian tengah berkaitan dengan sulfur dan material mineral yang terbentuk atau terlarut akibat aktivitas vulkanik. Sementara bagian putih di sekelilingnya merupakan batuan dan mineral yang mengalami alterasi oleh fluida dan gas panas.
Baca Juga: Riset Robot Pencari Korban Bencana Antar Dua Pelajar Sukabumi ke Final KREASI di UGM
"Genangan air menempati bagian terendah kawah. Sementara proses kimia dan pengendapan mineral di sekitarnya menciptakan kontras warna yang dari udara terlihat sangat menyerupai kuning telur dengan putih telur," kata pria yang pernah menjabat posisi strategis di BMKG itu.
"Jadi, fenomena ini merupakan proses geokimia alami di lingkungan kawah vulkanik aktif. Bukan sesuatu yang aneh, misterius, atau pertanda bahaya," lanjut Daryono.
Menurut dia, urutan peristiwa ini kira-kira dimulai dari erupsi besar GAK pada 3 September 2026, lalu aktivitas permukaan mereda, kemudian rekaman udara menampilkan genangan kawah dengan pola kuning-putih. Selanjutnya, video tersebut beredar pada 18 September 2026, sehingga pada 19 September 2026 pemberitaannya meluas dan mayarakat ingin mengetahui sebabnya.
"Catatan penting: istilah “telur ceplok” tampaknya adalah sebutan publik utuk penampakan visual tersebut, bukan nama fenomena vulkanologi resmi. Saya menyebutnya: “genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, batuan (acid-sulfate alteration)," kata Daryono.
Fenomena ini dapat muncul atau berubah setelah episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan.
Editor : Oksa Bachtiar Camsyah