SUKABUMIUPDATE.com - Puskesmas Kabandungan resmi meluncurkan inovasi bertajuk KUCING UNYU (Gunting Kuku untuk Mencegah Kecacingan dan Stunting secara Kontinyu) di SD Cipeuteuy, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Rabu (14/1/2026). Program ini digagas sebagai respons atas masih tingginya kasus cacingan yang berdampak langsung pada tumbuh kembang anak.
Kegiatan peluncuran KUCING UNYU ini dihadiri langsung oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, Cucu Sumintardi, serta melibatkan seluruh kepala desa, kepala sekolah (TK hingga SMP), dan berbagai pemangku kepentingan lainnya baik secara luring maupun daring via Zoom.
Kepala Puskesmas Kabandungan, Ni Nyoman Werti, menjelaskan program tersebut merupakan langkah konkret hasil evaluasi mendalam atas kasus kecacingan yang menimpa almarhumah Balita Raya pada Agustus 2025 silam. Peristiwa memilukan tersebut menjadi momentum bagi Puskesmas untuk memperketat pengawasan kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih anak.
Baca Juga: Disdukcapil Sukabumi Penuhi Hak Adminduk Keluarga Raya dengan Penyerahan Akta Kelahiran
Ia menyebutkan, meski pengobatan cacing massal telah rutin dilakukan secara berkala, angka infeksi kecacingan pada anak-anak di wilayah Kabandungan ternyata masih ditemukan cukup signifikan.
“Setelah pemberian obat cacing, dari hasil pemeriksaan sampel feses sebanyak 432 anak, ternyata masih ditemukan lebih dari 10 persen atau sekitar 44 kasus yang masih mengalami kecacingan. Artinya, pengobatan saja tidak cukup menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, pihaknya kemudian melakukan penelusuran langsung ke lapangan, termasuk ke lingkungan sekitar dan sekolah-sekolah. Dari hasil pemantauan, ditemukan rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama kebiasaan anak-anak yang memiliki kuku panjang dan kotor sehingga berpotensi menjadi media penularan cacing melalui tangan dan makanan.
“Penularan cacing itu banyak terjadi dari kuku tangan yang kotor masuk ke mulut. Saat turun ke lapangan, saya lihat langsung anak-anak kukunya panjang dan hitam. Dari situ saya berpikir, kalau obat tidak menyelesaikan masalah, berarti kita harus bergerak ke akar permasalahannya,” kata Nyoman.
Baca Juga: Puskesmas Kabandungan Sukabumi Jelaskan Kondisi 2 Siswi Terperosok ke Jurang Dalam Keadaan Baik
Ia menuturkan, kondisi lingkungan juga menjadi faktor pendukung tingginya risiko kecacingan, seperti kebiasaan anak berjalan tanpa alas kaki, lantai rumah yang masih tanah, lingkungan yang becek saat hujan, serta jarak kandang ternak yang dekat dengan rumah. Dalam kondisi tersebut, pendekatan sederhana dinilai lebih realistis untuk diterapkan.
“Kalau harus beli sandal untuk semua anak tentu tidak mungkin. Maka dipilihlah cara paling murah, sederhana, dan bisa dilakukan semua orang, yaitu gunting kuku secara rutin,” jelasnya.
Ia memastikan pelaksanaan program kedepannya akan dilakukan secara berkelanjutan. Sekolah diminta menjadwalkan kegiatan gunting kuku minimal satu kali dalam sepekan, sementara pembina desa dari puskesmas akan melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah setidaknya satu kali dalam sebulan.
“Sasaran utama program ini adalah anak-anak TK dan SD, karena balita sudah tercover di posyandu, sementara anak SMP umumnya sudah lebih sadar kebersihan diri,” ujarnya.
Nyoman menegaskan, kecacingan memiliki keterkaitan erat dengan stunting. Anak yang mengalami kecacingan akan kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi karena asupan gizi terbagi dengan cacing di dalam tubuh. Kondisi tersebut juga berisiko terjadi pada ibu hamil dan berdampak pada berat badan bayi saat lahir.
“Jadi gunting kuku ini memang sederhana, tapi dampaknya bisa besar. Ini bagian dari upaya pencegahan kecacingan yang berpengaruh langsung pada pencegahan stunting,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan KUCING UNYU di SD Cipeuteuy dilaksanakan tanpa anggaran khusus dan mengandalkan gotong royong, mulai dari fasilitas sekolah, penampilan siswa, hingga dukungan konsumsi dari berbagai pihak.
“Tantangannya bukan pada edukasinya, tapi pada perubahan perilaku. Itu perlu kesabaran dan konsistensi. Keberhasilan program ini nanti akan dilihat dari evaluasi lanjutan,” ujarnya.
Nyoman kemudian berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan media, dapat terus mendukung dan mempromosikan program KUCING UNYU agar berjalan berkesinambungan.
“Ini harus dilakukan bersama-sama. Semua harus berperan aktif agar tidak ada lagi anak-anak kita yang tertinggal hanya karena persoalan kebersihan dasar,” pungkasnya. (adv)
Editor : Denis Febrian