Sukabumi Update

7 Penyebab Ruam Popok dari Ringan hingga Parah yang Perlu Diketahui Orang Tua

Ilustrasi Penyebab Ruam Popok dari Ringan hingga Parah yang Perlu Diketahui Orang Tua (Sumber: pexels.com/@RDNE Stock project)

SUKABUMIUPDATE.com - Ruam popok adalah masalah kulit yang sangat umum dialami bayi, terutama pada tahun-tahun awal kehidupannya. Kondisi ini ditandai dengan kemerahan, iritasi, hingga luka di area yang tertutup popok. 

Meski sering dianggap sepele, ruam popok bisa berkembang dari ringan menjadi parah jika tidak ditangani dengan tepat. 

Berikut ini berbagai penyebab ruam popok yang penting dipahami oleh orang tua.

1. Iritasi akibat Urine dan Feses

Penyebab paling umum ruam popok adalah kontak kulit yang terlalu lama dengan urine dan feses. Kelembaban yang terperangkap di dalam popok dapat merusak lapisan pelindung kulit bayi. 

Saat urine dan feses bercampur, dapat terbentuk zat yang bersifat iritatif dan memicu peradangan ringan hingga sedang, terutama jika popok jarang diganti.

Baca Juga: 7 Cara Mudah Menanamkan Rasa Empati pada Anak Sejak Dini agar Tumbuh Lebih Peduli

2. Gesekan dan Popok yang Terlalu Ketat

Popok yang ukurannya tidak sesuai atau terlalu ketat dapat menyebabkan gesekan terus-menerus pada kulit bayi. Gesekan ini membuat kulit menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi, terutama di area lipatan paha, bokong, dan pinggang.

3. Infeksi Jamur atau Bakteri

Lingkungan popok yang hangat dan lembab merupakan tempat ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang. Infeksi jamur, terutama dari jenis Candida, sering muncul setelah ruam iritasi tidak kunjung membaik. 

Selain itu, infeksi bakteri meski jarang juga dapat menyebabkan ruam popok yang lebih parah dan membutuhkan penanganan medis.

4. Reaksi Alergi terhadap Produk Perawatan

Kulit bayi dapat bereaksi terhadap bahan tertentu dalam popok, tisu basah, sabun, deterjen, losion, atau krim. 

Ruam akibat alergi biasanya muncul secara tiba-tiba dan dapat menyebar luas di area popok. Produk dengan pewangi dan bahan kimia keras lebih berisiko memicu reaksi ini.

5. Perubahan Pola Makan

Saat bayi mulai mengkonsumsi makanan pendamping ASI, perubahan konsistensi dan frekuensi buang air besar dapat terjadi. Feses yang lebih asam atau lebih sering dapat meningkatkan risiko iritasi kulit. 

Baca Juga: Mengenal Windburn: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dan Pencegahannya

Hal ini juga dapat dialami bayi yang ibunya menyusui dan mengkonsumsi makanan tertentu.

6. Penggunaan Antibiotik

Antibiotik dapat memengaruhi keseimbangan bakteri baik di dalam tubuh bayi. Kondisi ini memungkinkan jamur berkembang lebih cepat, sehingga meningkatkan risiko ruam popok akibat infeksi jamur. Ruam juga bisa kambuh meskipun sebelumnya sudah membaik.

7. Kondisi Medis Tertentu

Dalam kasus yang jarang, ruam popok dapat berkaitan dengan kondisi medis seperti dermatitis seboroik, psoriasis pada anak, atau gangguan penyerapan nutrisi tertentu. Ruam akibat kondisi ini biasanya tidak membaik dengan perawatan rumahan biasa dan memerlukan evaluasi dokter.

Ruam popok pada bayi  dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari iritasi sederhana hingga infeksi dan alergi. Mengenali penyebabnya sejak dini membantu orang tua mengambil langkah pencegahan dan penanganan yang tepat. 

Baca Juga: 11 Khasiat Air Rebusan Daun Pandan untuk Menjaga Kesehatan Tubuh

Dengan menjaga kebersihan, sering mengganti popok, serta memilih produk yang lembut untuk kulit bayi, resiko ruam popok dapat diminimalkan dan kenyamanan bayi tetap terjaga.

Sumber: verywellhealth

Editor : Emi Amelia

Tags :
BERITA TERKAIT