Sukabumi Update

Menkes: Masalah Gigi dan Hipertensi Dominasi Hasil CKG Anak

Cek kesehatan gratis (CKG) yang menyasar anak-anak. Foto hanya ilustrasi. (Sumber : Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan mengejutkan dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Masalah kesehatan gigi dan hipertensi (tekanan darah tinggi) menjadi kasus yang paling banyak ditemukan pada anak-anak. Meski begitu, Budi tidak merinci jumlahnya.

"Kalau untuk anak-anak, paling banyak masalahnya gigi. Nomor dua, saya agak kaget, hipertensi," ujar Budi Gunadi Sadikin di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Sementara itu, masalah kesehatan paling banyak ditemukan di orang dewasa adalah hipertensi dan obesitas. Sedangkan lansia paling banyak ditemukan kasus gigi dan hipertensi. "Kalau lansia seperti kami, itu paling tinggi gigi dan hipertensi,” kata Budi.

Menurut Budi, Presiden Prabowo Subianto ingin masyarakat sehat. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengecek kesehatan lewat program CKG. "Kalau ketahuan lebih dini. Pengobatan lebih mudah dan murah," tuturnya.

Baca Juga: 4 Penyakit Jantung yang Bisa Dialami Anak, Orang Tua Perlu Waspada Sejak Dini

Diketahui, program cek kesehatan gratis atau CKG diluncurkan pada Februari 2025. Program itu dirancang sebagai upaya preventif terhadap berbagai penyakit yang banyak terjadi di Indonesia. Jenis pemeriksaan dalam CKG beragam, mulai dari skrining kekurangan hormon, penyakit jantung bawaan, hingga pemeriksaan gizi, telinga, mata, dan tekanan darah. Untuk usia dewasa dan lanjut usia (lansia), fokus pemeriksaan mencakup risiko stroke, jantung, kanker, hingga kesehatan mental dan fisik.

Kementerian Kesehatan menargetkan sebanyak 136 juta warga mengikuti program CKG pada 2026. Target ini hampir dua kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang menjangkau sekitar 70 juta orang.

Selain memperluas jumlah peserta, Kemenkes mulai memperkuat tindak lanjut bagi warga yang hasil pemeriksaannya menunjukkan kondisi kurang sehat atau tidak sehat. Pada 2026, peserta dengan kategori tersebut akan mendapatkan penanganan lanjutan agar kondisi kesehatannya dapat diperbaiki.

“Yang rapornya kuning atau merah harus kita tindak lanjuti supaya kembali menjadi sehat,” kata Budi.

Sumber: Tempo.co

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT