SUKABUMIUPDATE.com - Melihat anak seusianya sudah mampu berjalan bahkan berlari, sementara buah hati sendiri belum juga melangkah, sering kali membuat orangtua merasa cemas. Padahal, kemampuan berjalan pada anak tidak selalu berkembang di usia yang sama.
Setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang berbeda, sehingga penting bagi orangtua untuk memahami kapan kondisi ini masih tergolong normal dan kapan perlu diwaspadai.
Kapan Anak Dikatakan Terlambat Jalan?
Secara umum, anak mulai belajar berjalan pada rentang usia 12 hingga 17 bulan. Sebagian anak sudah bisa berjalan stabil di usia 12–14 bulan, sementara yang lain baru benar-benar lancar mendekati usia 17 bulan. Orangtua baru perlu waspada apabila anak telah memasuki usia 18 bulan tetapi belum mampu berjalan sama sekali.
Namun, penilaian tidak hanya berfokus pada kemampuan berjalan. Perkembangan motorik kasar lainnya juga perlu diperhatikan. Misalnya, apakah anak sudah bisa berdiri sendiri, menarik benda, bangkit dari posisi duduk, atau mendorong mainan sambil berdiri. Jika kemampuan ini sudah muncul, biasanya perkembangan anak masih berada dalam batas wajar.
Baca Juga: 10 Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari agar Gejala GERD Tidak Semakin Parah
Pada anak yang lahir prematur, orangtua sebaiknya menggunakan usia koreksi saat menilai perkembangan. Artinya, usia perkembangan disesuaikan dengan perkiraan tanggal lahir normal, bukan usia kalender.
Penyebab Anak Terlambat Berjalan
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami keterlambatan berjalan, yakni:
1. Faktor genetik. Jika orangtua atau anggota keluarga memiliki riwayat terlambat berjalan saat kecil, kemungkinan kondisi serupa dapat terjadi pada anak. Dalam kasus ini, keterlambatan biasanya tidak berbahaya dan anak tetap berkembang secara normal.
2. Gangguan Perkembangan
Anak tidak hanya terlambat berjalan, tetapi juga mengalami keterlambatan pada aspek motorik lain, bahasa, atau kemampuan sosial. Kondisi seperti tonus otot yang rendah (hipotonia) dapat membuat tubuh anak lebih lemas sehingga sulit menopang berat badan saat belajar berjalan.
3. Kelainan Pada Otot
Keterlambatan berjalan pada anak bisa juga disebabkan oleh kelainan pada otot, sistem saraf, seperti cerebral palsy ringan.
4. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan anak turut berperan, termasuk masalah selama kehamilan, kelahiran prematur, infeksi serius, kekurangan gizi, penyakit kuning berat, hingga cedera kepala.
Baca Juga: Perkembangan Anak Usia 10 Tahun: Ciri, Perubahan, dan Cara Mendukungnya
5. Faktor lingkungan
Anak yang terlalu sering berada di boks bayi, jarang diberi kesempatan bergerak bebas di lantai, atau terlalu bergantung pada alat bantu seperti baby walker dapat mengalami keterlambatan dalam melatih otot dan keseimbangan tubuh.
Cara Melatih Anak yang Terlambat Jalan di Rumah
Jika dokter mengatakan anak mengalami keterlambatan berjalan, orang tua dapat melakukan stimulasi sederhana di rumah. Salah satunya dengan memancing anak melangkah menggunakan mainan favorit yang diletakkan agak jauh dari jangkauan. Cara ini membantu melatih keberanian dan koordinasi tubuh anak.
Orang tua juga bisa menyediakan alat bantu dorong yang aman, seperti kursi ringan atau meja kecil, sambil tetap mengawasi dari dekat. Mengulurkan tangan dan memberi dukungan emosional saat anak mencoba berjalan juga sangat membantu meningkatkan rasa percaya dirinya.
Hal terpenting adalah memberikan apresiasi atas setiap usaha anak, sekecil apa pun. Hindari memarahi atau membandingkan anak dengan anak lain. Jatuh saat belajar berjalan adalah hal yang wajar, sehingga orangtua perlu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Baca Juga: 9 Minuman Alami untuk Membersihkan Usus dan Menjaga Pencernaan Sehat
Anak dikatakan terlambat berjalan jika belum mampu berjalan sama sekali di usia 18 bulan. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor genetik, kondisi medis, hingga lingkungan. Dengan stimulasi yang tepat, dukungan emosional, dan pengawasan dokter bila diperlukan, sebagian besar anak dapat mengejar ketertinggalannya dan berkembang dengan baik sesuai tahap usianya.
Sumber: hellosehat
Editor : Emi Amelia