Sukabumi Update

Dari Hulu ke Hilir, Pemkab Sukabumi Genjot Upaya Capai Zero New Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi saat mendampingi Wabup Andreas dalam Rapat Evaluasi Penanganan Stunting Tingkat Jabar di Gedung Sate. (Sumber: Prokompim Pemkab Sukabumi)

SUKABUMIUPDATE.com - Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, menghadiri Rapat Evaluasi Penanganan Stunting Tingkat Provinsi Jawa Barat di Aula Repeh Rapih, Gedung Sate, Bandung, Selasa (7/4/2026). Pertemuan ini menjadi ajang sinkronisasi target penurunan prevalensi stunting di Jawa Barat agar mencapai di bawah 10 persen pada tahun 2026.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, dalam arahannya menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan prioritas utama. Ia menekankan penguatan Program Makan Bergizi (MBG) sebagai bentuk intervensi efektif untuk mencegah munculnya kasus stunting baru (zero new stunting).

"Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga penyuluh di lapangan harus diperkuat. Perhatian khusus wajib diberikan pada kesehatan ibu hamil, mulai dari pemenuhan gizi hingga pemeriksaan rutin," tegas Erwan.

Menanggapi arahan tersebut, Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sukabumi kini tengah mengarahkan fokus utama pada wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting yang masih tinggi. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pengajuan bantuan melalui mekanisme Build-Operate-Transfer (BOT) terkait Pemberian Makanan Tambahan (PMT).

Baca Juga: Dinkes Sukabumi Siapkan 6 Transformasi Kesehatan, Target Tambah Puskesmas hingga Digitalisasi Layanan

Dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi menjadi salah satu dari empat daerah yang telah resmi mengajukan program tersebut untuk memperkuat asupan gizi kelompok rentan.

"Kami berharap program ini bisa terlaksana pada bulan Mei mendatang, dengan sasaran utama ibu menyusui dan ibu hamil agar janin serta bayi mendapatkan nutrisi terbaik," ujar Andreas.

Lebih lanjut, Andreas menjelaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya dilakukan melalui intervensi gizi di sisi hilir. Menurutnya, akar permasalahan atau sisi hulu harus dibenahi melalui pembangunan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.

“Hulunya itu adalah pembangunan lingkungan, mulai dari sanitasi yang layak, ketersediaan air bersih, hingga akses infrastruktur jalan. Lingkungan yang sehat adalah fondasi utama,” jelasnya.

Selain aspek infrastruktur fisik, Andreas juga menyoroti pentingnya perubahan perilaku dan kepatuhan terhadap regulasi kesehatan. Ia menekankan bahwa penguatan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menurunkan angka stunting secara komprehensif.

"Kawasan Tanpa Rokok menjadi satu kesatuan dalam upaya kita menciptakan generasi sehat. Dengan sinergi antara perbaikan lingkungan dan intervensi gizi, kami optimis angka stunting di Kabupaten Sukabumi akan turun secara signifikan," pungkasnya. (adv)

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT