SUKABUMIUPDATE.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan selama musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih kering dan panjang dibandingkan biasanya. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dehidrasi, hingga malnutrisi.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengatakan musim kemarau ekstrem dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan air bersih sehingga berdampak pada menurunnya tingkat kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, keterbatasan air bersih dapat meningkatkan konsentrasi virus dan bakteri yang berpotensi memicu berbagai penyakit, terutama diare.
"Ketika pasokan air bersih menurun, risiko penyebaran penyakit akibat kontaminasi bakteri dan virus juga meningkat," ujar Vini, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Panjang, BMKG: 62% Peluang El Nino Jadi Kuat
Selain itu, suhu udara yang lebih panas selama musim kemarau juga meningkatkan risiko dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Dalam kondisi tertentu, paparan panas berlebih dapat menyebabkan heatstroke atau serangan panas yang berbahaya.
Vini mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala heatstroke, seperti suhu tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, kulit terasa panas dan kemerahan, pusing, hingga muntah.
"Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat Celsius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis," katanya.
Penyakit lain yang kerap meningkat saat musim kemarau adalah ISPA. Kondisi ini dipicu oleh kualitas udara yang memburuk akibat debu, asap, maupun polusi yang lebih mudah tersebar saat curah hujan rendah.
Baca Juga: Hadapi El Nino Godzilla dan Krisis Sampah di Jabar, KDM Pimpin Rakor Bersama TNI-BMKG
Selain berdampak pada kesehatan, kemarau panjang juga dapat menyebabkan kekeringan yang berpengaruh terhadap produksi pangan. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko malnutrisi pada kelompok rentan.
Untuk mencegah berbagai penyakit selama musim kemarau, masyarakat dianjurkan menerapkan langkah-langkah preventif, seperti memperbanyak konsumsi air putih, beristirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menggunakan topi atau payung saat beraktivitas di bawah terik matahari.
Dinkes Jabar juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan penghijauan untuk membantu mengurangi dampak musim kemarau.
"Jangan membakar sampah maupun lahan karena dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan," pungkas Vini. (adv)
Sumber: Humas Jabar
Editor : Denis Febrian