Sukabumi Update

RSUD Sekarwangi Catat Kunjungan Pasien Naik 30 Persen: Tipes hingga Campak Mendominasi

Katim Evaluasi dan Peningkatan Mutu Pelayanan Medis RSUD Sekarwangi, dr. Dara Respati (Sumber : sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Jumlah kunjungan pasien ke RSUD Sekarwangi Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mengalami peningkatan sekitar 30 persen pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Seiring meningkatnya kunjungan, rumah sakit mencatat kasus penyakit infeksi seperti tifoid, diare, bronkopneumonia pada anak, hingga campak masih menjadi penyakit yang paling banyak ditangani.

Katim Evaluasi dan Peningkatan Mutu Pelayanan Medis RSUD Sekarwangi, dr. Dara Respati, mengatakan peningkatan kunjungan pasien dipengaruhi bertambahnya rujukan serta dibukanya sejumlah layanan baru di rumah sakit tersebut.

"Kunjungan kita tahun 2025 ke tahun 2026 itu kurang lebih 30 persen peningkatan. Karena mungkin banyak pasien yang dirujuk, terus ada beberapa layanan kita yang baru buka juga. Jadi kunjungan banyak dan mungkin Rumah Sakit Sekarwangi dipercaya oleh masyarakat," ujar dr. Dara kepada sukabumiupdate.com, Rabu (15/7/2026).

Baca Juga: Jadwal Timnas Putri Indonesia vs Kamboja, Garuda Pertiwi Incar Juara Grup Piala AFF Wanita 2026

Menurutnya, kasus yang paling banyak ditangani saat ini merupakan penyakit infeksi. Di antaranya tifoid atau yang dikenal masyarakat sebagai tipes, gastroenteritis akut (GEA) atau diare, bronkopneumonia pada anak, hingga campak.

"Ditangani itu paling banyak pasien kasus-kasus infeksi. Seperti tifoid, kalau orang awam bilangnya tipes. Terus mencret, GEA, terus untuk anak-anak batuk pilek atau kita bilangnya bronkopneumonia. Nah, terus kita ini masih dalam kondisi banyaknya pasien campak kalau anak. Campak ini lumayan banyak dan karena memang penyebaran penyakitnya mudah, jadi satu pasien bisa menularkan ke banyak orang," jelasnya.

Ia menuturkan, dibandingkan tahun sebelumnya kasus campak sebenarnya mengalami penurunan. Namun, untuk penyakit infeksi seperti pneumonia, diare, dan tifoid justru mengalami peningkatan.

Baca Juga: MPLS Tak Hanya Mengenal Sekolah, Pelajar di Cibadak Sukabumi Juga Dibekali Siaga Bencana

Dari kelompok usia, anak-anak menjadi pasien terbanyak untuk kasus campak maupun bronkopneumonia. Sementara pada usia produktif, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah tifoid. Adapun pada kelompok lansia, kasus yang dominan berupa penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.

Dara menilai perubahan cuaca serta perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat menjadi faktor yang mempengaruhi tingginya kasus penyakit infeksi. "Satu cuaca, dua perilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat kita perlu ditingkatkan lagi penyuluhan-penyuluhan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat. Contohnya cuci tangan, terus tidak merokok di depan anak-anak," katanya.

Ia menambahkan, kedisiplinan masyarakat terhadap kebiasaan yang sempat diterapkan saat pandemi Covid-19 kini mulai berkurang, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menerapkan etika batuk. Kondisi tersebut dinilai turut mempermudah penyebaran penyakit menular.

Baca Juga: Daftar Akreditasi BAN-PT Kampus di Sukabumi Raya, Hanya Satu Kampus Berstatus Unggul

Terkait campak, Dara menilai salah satu penyebab meningkatnya kasus yang masih ditemukan saat ini berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi beberapa tahun lalu saat pandemi Covid-19.

"Pada saat Covid anak-anak tidak pada divaksin karena susah keluar rumah, posyandu juga tidak ada. Akibatnya sekarang cakupan imunisasinya berkurang sehingga herd immunity tidak tercapai. Vaksin campak bukan berarti membuat seseorang tidak terkena campak, tetapi jika terinfeksi biasanya tidak menimbulkan komplikasi yang berat," ujarnya.

Menurutnya, komplikasi campak dapat berupa dehidrasi, sesak napas, hingga penyebaran infeksi ke otak apabila penderita tidak memiliki kekebalan yang memadai.

Baca Juga: Belum Bangun Koperasi Desa Merah Putih, Pemdes Kademangan Surade Bicara Kendala Lahan

Sementara itu, gejala yang paling sering dikeluhkan pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Sekarwangi adalah demam, sesak napas, dan nyeri perut. Khusus pada pasien anak, keluhan yang paling sering ditemukan berupa demam disertai diare maupun batuk pilek.

Untuk penanganan pasien, RSUD Sekarwangi menerapkan prosedur sesuai standar operasional. Pasien campak ditempatkan di ruang terpisah karena sifat penyakitnya yang mudah menular, sedangkan penyakit lain ditangani sesuai kondisi masing-masing pasien.

"Kalau campak ruangannya yang jelas kita pisahkan sama pasien-pasien yang lain karena menular. Kalau penyakit yang lain, kita sesuai dengan SOP yang berjalan. Misalnya pasien dehidrasi kita rehidrasi, pasien infeksi membutuhkan antibiotik kita berikan antibiotik," katanya.

Baca Juga: DPRD Sukabumi Apresiasi Syukuran Nelayan Ciwaru ke-69, Dorong Pelestarian Budaya Pesisir

Dara menghimbau masyarakat agar kembali menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah sederhana mencegah penyakit menular, terutama di musim kemarau yang saat ini identik dengan meningkatnya kasus batuk pilek dan diare.

Ia juga mengingatkan agar balita rutin datang ke posyandu untuk pemantauan tumbuh kembang dan imunisasi, sementara lansia diminta disiplin mengonsumsi obat penyakit kronis karena kelompok tersebut lebih rentan mengalami komplikasi saat terkena infeksi.

"Trik sederhananya itu sebenarnya saya tetap balik ke pola hidup bersih dan sehat. Hidup bersih dan sehat itu benar-benar ngaruh untuk penyakit-penyakit menular," pungkasnya. (*)

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT