Sukabumi Update

Abu Vulkanik Sampai Sukabumi, Jangan Sepelekan Dampaknya bagi Kesehatan, Lakukan 9 Hal Ini

Ilustrasi - Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk abu vulkanik dari aktivitas Anak Gunung Krakatau bagi kesehatan. (Sumber : Freepik/@jcomp)

SUKABUMIUPDATE.com - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik terbawa angin hingga mencapai sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Sukabumi.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat karena paparan abu vulkanik, terutama partikel halus yang terhirup, dapat mengganggu saluran pernapasan serta menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah yang tepat untuk melindungi diri dan meminimalisir dampak kesehatan selama wilayahnya terdampak sebaran abu vulkanik.

Untuk masyarakat yang berada di wilayah terdampak, dikutip dari berbagai sumber, beberapa langkah berikut bisa dilakukan untuk meminimalkan dampaknya:

Baca Juga: Kebakaran di Kawasan Perhutani di Cibitung Sukabumi, Titik Api Masih Terlihat

1. Kurangi aktivitas di luar rumah

Ketika hujan abu terjadi atau udara terlihat berkabut oleh abu, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela agar abu tidak mudah masuk ke rumah. Terutama, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi oleh anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

2. Gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus

Jika harus keluar rumah, gunakan respirator N95 yang terpasang rapat di wajah. Jenis respirator ini direkomendasikan untuk membantu melindungi paru-paru dari abu vulkanik.
Masker biasa mungkin tetap lebih baik daripada tidak menggunakan perlindungan sama sekali, tetapi perlindungannya terhadap partikel abu halus tidak setara dengan respirator partikulat seperti N95.

3. Lindungi mata

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi mata. Karena itu, ketika harus beraktivitas di luar saat terdapat abu, gunakan kacamata pelindung atau goggles. Hindari mengucek mata apabila terkena abu.

Baca Juga: Perempuan 50 Tahun Tewas Diduga Terserempet KA Pangrango di Jalur Rel Cibadak

4. Gunakan pakaian yang menutupi kulit

Kenakan baju lengan panjang dan celana panjang ketika berada di luar. Langkah ini dapat membantu mengurangi kontak abu dengan kulit yang berpotensi menimbulkan iritasi.

5. Jangan sembarangan membersihkan abu

Abu yang sudah mengendap di halaman, kendaraan atau permukaan rumah dapat kembali beterbangan jika disapu atau ditiup dalam kondisi kering. Karena itu, ketika membersihkan abu, gunakan masker atau respirator dan sebisa mungkin hindari membuat abu kembali beterbangan. Untuk area rumah, abu dapat dibersihkan secara hati-hati dengan cara dibasahi dengan air lalu kumpulkan dan buang.

6. Perhatikan kondisi udara di dalam rumah

Menutup jendela dan pintu dapat membantu mengurangi masuknya abu. Jika menggunakan kendaraan, tutup kaca jendela ketika melintasi wilayah yang banyak abunya. Yang perlu diingat, respirator seperti N95 terutama menyaring partikel, bukan gas atau uap vulkanik.

7. Jangan lupa sumber air dan makanan

Abu yang jatuh juga dapat mencemari permukaan dan sumber air. Karena itu, lindungi wadah air agar tidak terbuka terkena abu dan perhatikan kebersihan makanan yang berada di luar ruangan.

8. Waspadai gejala setelah terpapar abu

Paparan abu dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit atau kondisi pernapasan sebelumnya. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk, tenggorokan terasa mengganjal, sesak atau kesulitan bernapas, serta iritasi mata. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, atau keluhan pernapasan yang memburuk, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

9. Ikuti informasi resmi

Yang tidak kalah penting, masyarakat sebaiknya mengikuti perkembangan dari Badan Geologi/PVMBG, BMKG, BPBD setempat, dan pemerintah daerah. Kondisi sebaran abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

Itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak buruk abu vulkanik bagi kesehatan.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT