Sukabumi Update

Mata Perih, Kulit Iritasi hingga Sakit Tenggorokan, Ini Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan

Ilustrasi melindungi diri dari paparan abu vulkanik (Sumber : Freepik/@jcomp)

SUKABUMIUPDATE.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas ke sejumlah wilayah. Abu vulkanik bahkan terbawa angin hingga Jawa Barat, termasuk beberapa wilayah di Sukabumi.

Dilansir dari KDP Kota Sukabumi, Di Kabupaten Sukabumi, sebaran abu vulkanik dilaporkan terdeteksi di sejumlah titik seperti Nagrak, Selakopi, Cidahu, dan Cibadak. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama karena abu vulkanik dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu kesehatan apabila terhirup atau mengenai tubuh.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel yang sangat halus dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Kementerian Kesehatan menyebut paparan abu vulkanik dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akut, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan kulit. Lantas, apa saja bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yang perlu diwaspadai?

1. Sakit tenggorokan dan batuk

Salah satu keluhan yang dapat muncul setelah menghirup abu vulkanik adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Partikel abu yang masuk melalui hidung dan mulut dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga menyebabkan tenggorokan terasa kering, gatal atau sakit. Paparan juga dapat memicu batuk sebagai respons tubuh untuk mengeluarkan partikel asing dari saluran pernapasan.

Baca Juga: Cuaca Jabar 7 September 2026, Sukabumi Awal Pekan Potensi Cerah hingga Berawan

2. Mata perih, merah dan berair

Mata termasuk bagian tubuh yang cukup sensitif terhadap paparan abu vulkanik. Partikel halus yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi dengan gejala seperti mata merah, berair, terasa gatal, perih atau seperti terdapat benda asing.

Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak sebaiknya menggunakan kacamata pelindung ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

3. Kulit dapat mengalami iritasi

Abu vulkanik yang menempel pada kulit juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, terutama pada orang yang memiliki kulit sensitif.

Paparan dapat membuat kulit terasa gatal, kering atau mengalami iritasi. Setelah beraktivitas di luar ruangan, masyarakat sebaiknya segera membersihkan tubuh dan mengganti pakaian yang terkena abu.

4. Mengganggu saluran pernapasan

Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan. Pada sebagian orang, paparan dapat menimbulkan hidung tersumbat, bersin, batuk dan rasa tidak nyaman ketika bernapas.

Risikonya perlu mendapat perhatian lebih pada orang yang memiliki gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu.

Kemenkes mengingatkan bahwa anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.

5. Dapat memperburuk keluhan pada penderita penyakit pernapasan

Bagi orang yang sudah memiliki masalah pernapasan, kualitas udara yang memburuk akibat sebaran abu dapat membuat keluhan menjadi lebih berat.

Karena itu, kelompok rentan dianjurkan mengurangi paparan langsung dan sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan ketika kondisi udara sedang dipenuhi abu.

Baca Juga: Kadisdikbud: Paud hingga SMP di Kota Sukabumi Belajar Daring, Dampak Abu Vulkanik GAK

6. Kualitas udara dapat menurun

Sebaran abu vulkanik dapat mempengaruhi kondisi udara di wilayah yang dilaluinya. BMKG terus melakukan pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik Anak Krakatau karena dampaknya dapat meluas mengikuti kondisi angin dan atmosfer.

Masyarakat di wilayah yang terdampak, termasuk kawasan Sukabumi dan sekitarnya, perlu memperhatikan informasi terbaru dari instansi terkait dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara kurang baik.

Untuk mengurangi risiko paparan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar membatasi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan kacamata sebagai perlindungan dari abu vulkanik.

Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi perhatian dan sebaran abu yang mencapai wilayah Jawa Barat, menjaga diri dari paparan abu menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Baca Juga: Paparan Abu Vulkanik GAK Meningkat, Gubernur Jabar Imbau Sekolah Terdampak Terapkan Daring

Sumber: KDP Kota Sukabumi, BMKG, dan berbagai sumber lainnya.

Editor : Silvi Maharani

Tags :
BERITA TERKAIT