Sukabumi Update

Tidak Batuk, Tidak Pilek tapi Demam? Kenali Penyebab yang Mungkin Terjadi

Ilustrasi mengalami demam (Sumber: pexels.com/@cottonbro studio) (Sumber : pexels.com)

SUKABUMIUPDATE.com - Demam sering dikaitkan dengan flu atau pilek. Namun, tidak semua orang yang mengalami demam akan disertai batuk, hidung tersumbat, atau pilek. Kondisi ini bisa terjadi karena demam pada dasarnya merupakan respons tubuh terhadap berbagai kondisi, terutama ketika sistem kekebalan sedang melawan sesuatu yang dianggap mengganggu tubuh.

Pada orang dewasa, suhu tubuh 38 derajat Celcius atau lebih umumnya dikategorikan sebagai demam. Selain suhu tubuh meningkat, seseorang bisa mengalami menggigil, berkeringat, sakit kepala, nyeri otot, lemas, atau kehilangan nafsu makan. Lantas, apa penyebab demam jika tidak disertai batuk dan pilek?

Infeksi di Bagian Tubuh Lain

Infeksi tidak selalu menyerang saluran pernapasan. Infeksi pada bagian tubuh lain juga dapat menyebabkan demam.

Misalnya, infeksi saluran kemih dapat menyebabkan demam dan terkadang disertai nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil. Infeksi saluran pencernaan juga dapat menimbulkan demam, terutama jika disertai diare, muntah, atau sakit perut.

Karena itu, tidak adanya batuk dan pilek bukan berarti tubuh tidak sedang mengalami infeksi. Berbagai penyakit infeksi dapat memiliki gejala yang berbeda-beda.

Baca Juga: Sering Cek HP Begitu Bangun Tidur? Kebiasaan Ini Bisa Memengaruhi Pikiran

Infeksi Virus atau Bakteri

Virus dan bakteri merupakan penyebab umum demam. Gejala yang muncul sangat bergantung pada jenis infeksi dan bagian tubuh yang terdampak.

Tidak semua infeksi virus menimbulkan gejala seperti pilek atau batuk. Demikian pula dengan infeksi bakteri. Seseorang mungkin lebih dulu mengalami demam, lemas, sakit kepala, atau nyeri tubuh sebelum gejala lain muncul. Karena itu, perkembangan gejala selama beberapa hari juga perlu diperhatikan.

Tubuh Sedang Mengalami Peradangan

Demam juga dapat berkaitan dengan kondisi peradangan tertentu. Beberapa kondisi peradangan, termasuk rheumatoid arthritis, dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Pada kondisi seperti ini, demam biasanya tidak berdiri sendiri.

Efek Obat atau Setelah Vaksinasi

Peningkatan suhu tubuh juga dapat menjadi efek dari obat tertentu maupun beberapa jenis vaksinasi.

Karena itu, jika demam muncul setelah mulai mengonsumsi obat baru atau setelah mendapatkan vaksin, informasi tersebut penting disampaikan kepada tenaga kesehatan. Jangan menghentikan obat yang diresepkan secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.

Baca Juga: Real Madrid Menang 3-2 atas Elche, Carlos Espi Cetak Gol Penentu di Menit 90+1

Terlalu Lama Berada di Lingkungan Panas

Tidak semua kondisi tubuh yang terasa panas merupakan demam akibat infeksi. Paparan panas berlebihan atau heat exhaustion juga dapat menyebabkan suhu tubuh meningkat.

Kondisi ini perlu diperhatikan terutama setelah melakukan aktivitas fisik berat di cuaca panas. Jika tubuh sangat panas disertai kebingungan, sakit kepala berat, muntah berulang, atau kondisi kesadaran berubah, diperlukan pertolongan medis segera.

Demam ringan sering kali dapat membaik dalam beberapa hari. Sementara itu, istirahat dan mencukupi kebutuhan cairan dapat membantu tubuh melewati masa pemulihan.

Namun, jangan mengabaikan demam jika suhunya tinggi, tidak kunjung membaik, atau justru semakin berat. Pada orang dewasa, cari pertolongan medis jika suhu mencapai 39,4 derajat Celsius atau lebih, terutama jika disertai sakit kepala berat, leher kaku, ruam, kebingungan, muntah terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, sakit perut, atau nyeri saat buang air kecil.

Baca Juga: Jembatan Kompa Dibangun Ulang DPU Sukabumi, Akses Parungkuda-Cipangulaan Bakal Lebih Lebar

Sumber: Mayo Clinic

Editor : Silvi Maharani

Tags :
BERITA TERKAIT