SUKABUMIUPDATE.com - Kasus keracunan makanan membuat keberadaan bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus kembali menjadi perhatian. Kedua bakteri tersebut sama-sama dapat menyebabkan gangguan setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, tetapi jenis gejala dan waktu munculnya keluhan dapat berbeda. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika terpapar E. coli dan Bacillus cereus?
E. coli Bisa Menyebabkan Diare hingga Komplikasi Serius
coli merupakan bakteri yang sebenarnya dapat ditemukan di saluran pencernaan manusia dan hewan. Sebagian besar jenisnya tidak berbahaya, tetapi beberapa strain dapat menyebabkan penyakit, terutama gangguan saluran pencernaan. Penularannya dapat terjadi melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
Dilansir dari CDC, infeksi E. coli yang menyebabkan diare dapat menimbulkan diare berair atau berdarah, kram perut yang cukup berat, muntah, dan terkadang demam ringan. Gejala umumnya mulai muncul sekitar tiga hingga empat hari setelah terpapar, meski waktunya dapat berbeda.
Pada jenis tertentu, khususnya Shiga toxin-producing E. coli atau STEC, infeksi dapat berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome (HUS). Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan dalam kasus berat dapat mengancam nyawa.
Baca Juga: Antisipasi Keracunan, Ini 7 Tanda Makanan Sudah Tidak Aman Dikonsumsi Meski Belum Bau
Bacillus cereus Sering Berkaitan dengan Makanan yang Tidak Disimpan dengan Tepat
Berbeda dari E. coli, Bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang dapat ditemukan di tanah, sayuran, serta berbagai makanan mentah maupun olahan. Bakteri ini dapat berkembang ketika makanan yang sudah dimasak dibiarkan atau disimpan pada kondisi yang tidak sesuai.
Keracunan B. cereus dapat muncul dalam dua pola utama. Tipe muntah biasanya menyebabkan mual dan muntah yang muncul relatif cepat, sekitar 30 menit hingga enam jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Sementara itu, tipe diare dapat menyebabkan diare berair, kram, dan nyeri perut, dengan gejala yang umumnya muncul sekitar enam hingga 15 jam setelah konsumsi. Keluhan akibat B. cereus biasanya berlangsung sekitar satu hari dan dapat membaik dengan sendirinya.
Dampaknya bagi Tubuh
Ketika bakteri atau toksinnya masuk melalui makanan, tubuh dapat memberikan respons berupa gangguan pada sistem pencernaan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami diare, muntah, mual, dan nyeri atau kram perut.
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah dehidrasi, terutama jika muntah atau diare terjadi berulang kali. Kehilangan cairan dapat menyebabkan mulut kering, rasa haus berlebihan, jarang buang air kecil, urine berwarna lebih gelap, hingga pusing ketika berdiri.
Pada infeksi E. coli tertentu, komplikasi dapat menjadi lebih serius karena dapat mempengaruhi ginjal. Sementara itu, keracunan B. cereus pada umumnya bersifat ringan dan sementara.
Baca Juga: Mual hingga Diare, Kenali Gejala Keracunan Makanan yang Perlu Diwaspadai
Cara Mengurangi Risiko Keracunan Makanan
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan dan permukaan tempat mengolah makanan, memisahkan makanan mentah dari makanan siap santap, memasak makanan dengan benar, serta segera menyimpan makanan pada suhu yang aman.
Makanan yang mudah rusak tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang. Langkah sederhana dalam pengolahan dan penyimpanan makanan dapat membantu mengurangi risiko penyakit akibat makanan.
Pada akhirnya, E. coli dan Bacillus cereus sama-sama dapat menyebabkan keracunan makanan, tetapi dampaknya pada tubuh tidak selalu sama. Karena itu, penting memperhatikan gejala yang muncul dan segera mencari pertolongan apabila kondisi semakin berat.
Baca Juga: Dewan Jabar Yusuf Maulana Serap Keluhan Pembudi Daya Lele di Palabuhanratu
Sumber: CDC
Editor : Silvi Maharani