SUKABUMIUPDATE.com - Buku Broken Strings yang ditulis oleh aktris Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan publik hingga viral di media sosial.
Para pembaca buku sampai netizen ramai membahas isi dari buku Broken Strings milik Aurelie Moeremans yang dapat diakses secara gratis. Buku ini tersedia dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris.
Broken Strings merupakan memoar yang dituangkan oleh Aurelie ke dalam bentuk tulis mengenai pengalaman traumatis dan menyakitkan yang ia alami saat berumur 15 tahun.
Mengutip dari Suara.com, dalam buku terbarunya tersebut, Aurelie Moeremans secara berani mengungkap masa remajanya yang pahit karena menjadi korban grooming mantan kekasihnya yang kala itu sudah berusia 29 tahun.
Dalam buku itu pula, Aurelie mengaku menjadi korban manipulasi, kontrol dari pelaku tersebut dan kemudian secara perlahan menyelamatkan dirinya.
"Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun," kata Aurelie dalam kolom komentarnya dikutip dari Suara.com pada Senin, (12/01/2026).
Baca Juga: Aurelie Moeremans Ceritakan Trauma Child Grooming Lewat Buku Broken Strings
Setelah merilis buku tersebut, Aurelie merasa terus diganggu oleh pihak tertentu, yang diduga adalah mantan kekasihnya.
"Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya, justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas," ungkap Aurelie.
Sebagai informasi, tak lama setelah potongan memoar Aurelie viral di media sosial, akun Instagram mantan kekasih Aurelie, Roby Tremonti ikut menjadi perhatian. Meski menggunakan nama samaran, publik mengaitkan pelaku grooming, Bobby dengan Roby Tremonti berdasarkan riwayat hubungan masa lalu Aurelie.
Roby diketahui mengunggah kutipan bernuansa hukum yang menyinggung soal tuduhan, pencemaran nama baik, dan konsekuensi hukum dari pernyataan di ruang publik. Ia menegaskan, meski buku tersebut tidak mencantumkan namanya, namun berdampak pada reputasi dirinya.
“Dampak dari buku tersebut membuat akun Instagram saya mendapatkan komentar-komentar fitnah yang super liar,” ujarnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Roby menyinggung fenomena pembentukan opini publik di era digital.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur, aka cancel culture bahasa modern sekarang,” tulisnya.
Baca Juga: Mengenal Child Grooming: Modus Pelecehan Anak yang Sering Tak Disadari Orang Tua
Selain mengunggah kutipan hukum, Roby juga tampak membatasi kolom komentar di akun Instagram-nya. Beberapa unggahan hanya dapat dikomentari oleh akun tertentu, sementara unggahan lain menonaktifkan komentar sepenuhnya.
Pembatasan ini diduga sebagai upaya menghindari perdebatan terbuka di tengah derasnya arus opini warganet. Tak sedikit pula yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk perlindungan diri dari hujatan warganet atas perilakunya di masa lalu.
Sumber: Suara.com
Editor : Octa Haerawati