TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Sukabumi Update

Apun Gencay, Wanita Cantik Asal Sukabumi dalam Tewasnya Bupati Cianjur

Fani Hatinda memerankan Apun Gencay pada 2020. Pentas monolog ini menjadi bagian peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. | Foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com via kumparan.com

SUKABUMIUPDATE.com - Kecantikan wanita Sukabumi bukan bahasan baru. Bahkan sejak dulu, keindahan paras perempuan dari daerah ini menjadi perbincangan. Tak jarang, keistimewaan tersebut juga justru memicu kontroversi, salah satunya dialami gadis Cikembar bernama Apun Gencay. Kecantikannya membutakan mata seorang ningrat yang menjabat Bupati Cianjur.

Pengamat sejarah Sukabumi Irman Firmansyah mengatakan kecantikan Apun Gencay konon menjadi pemicu terbunuhnya Raden Aria Wiratanudatar III. Kisah pembunuhan ini sebenarnya memiliki beberapa versi, salah satunya soal kisah cinta terlarang. "Yang tak banyak terungkap justru adalah sosok Apun Gencay-nya," kata Irman kepada sukabumiupdate.com beberapa waktu lalu.

Irman yang juga penulis buku "Soekaboemi the Untold Story" mengatakan tidak banyak sumber sejarah yang mencatat sosok Apun Geuncay. Menjadi wajar jika yang berkembang tentang Apuy Gencay kebanyakan fiktif dan dilebih-lebihkan. Nama Apun Gencay sendiri lebih banyak terabadikan lewat lakon drama, karya carita pondok, dan cerita lisan dari mulut ke mulut sebagai sosok legenda (bukan sejarah).

Baca Juga: Dua Wisatawan Tewas Tenggelam, Mbah Jalun dalam Sejarah Situ Gunung Sukabumi

Irman yang juga Ketua Yayasan Dapuran Kipahare menuturkan Raden Aria Wiratanudatar III--cucu Raden Aria Wiratanudatar I-- diangkat menjadi Bupati Cianjur pada tahun 1707 (memerintah hingga 1726). Ketika itu, wilayah yang kini Sukabumi merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kadipaten Cianjur.

Nama asli Raden Aria Wiratanudatar III adalah Raden Astramanggala. Ia diangkat menjadi bupati pada 1707 saat ayahnya, Raden Aria Wiratanudatar II, meninggal dunia. Ketika Wiratanudatar III naik takhta, ibu kota Cianjur yang berada di Pamoyanan sudah mulai mundur. Maka strategi pertama Wiratanudatar III adalah memindahkan ibu kota dari Pamoyanan ke kampung Cianjur, sampai saat ini.

Raden Aria Wiratanudatar III termasuk bupati berprestasi dalam pandangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sebab, ia selalu menyetor kopi yang terbesar ke VOC. Namun di Sukabumi, masa pemerintahan Wiratanudatar III diwarnai banyak pemberontakan petani, terutama di wilayah Jampang, akibat penerapan tanam paksa kapas dan kopi yang merugikan dan membuat petani tersiksa.

Baca Juga: Angan Bung Karno di Sukabumi: Sulap Palabuhanratu Jadi Las Vegas Indonesia

Irman menyebut setidaknya ada dua versi yang paling dikenal di balik kematian Raden Aria Wiratanudatar III. Pertama ia meninggal pada 1726 karena ditusuk condre (senjata kuno khas Sunda semacam belati) oleh pemberontak yang merasa menderita karena sistem tanam paksa. Salah satu pemicunya adalah kasus bayaran kopi pada VOC yang seharusnya 17,5 gulden, hanya dibayar 12,5 gulden. Sementara yang 5 gulden dipakai Raden Aria Wiratanudatar III.

"Satu versi lain soal kematian Raden Aria Wiratanudatar III adalah masalah cinta, yaitu berhubungan dengan Apun Gencay," kata Irman.

Editor : Oksa Bachtiar Camsyah

Tags :
BERITA TERKAIT