Sukabumi Update

Dermaga Bagalbatre: Kisah Rempah dan Perpindahan Manusia di Selatan Sukabumi

Foto Dermaga Bagalbatre di Pantai Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, pada masa kolonial, setelah diubah oleh AI. | Foto: KITLV

SUKABUMIUPDATE.com - Dermaga Bagalbatre di Pantai Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, menjadi salah satu bukti sejarah penting yang hingga kini masih mewarnai keindahan pesisir selatan.

Bangunan bekas dermaga peninggalan zaman kolonial Belanda ini sekarang hanya menyisakan bongkahan batu yang menjorok ke laut dengan panjang kurang lebih 200 meter, namun tetap menyimpan cerita panjang masa lalu.

Pemerhati sejarah sekaligus pengembang Artificial Intelligence (AI) asal Kecamatan Ciracap, Agis Prayudi, mengatakan Dermaga Bagalbatre bukan hanya objek wisata, melainkan saksi bisu kehadiran kolonial di ujung Sukabumi.

“Bangunan tua ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Dari cerita orang tua dulu, Bagalbatre pernah menjadi pelabuhan transit tentara Belanda untuk mengangkut hasil rempah-rempah,” kata dia kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (13/12/2025).

Baca Juga: Meluncur 14 Desember! Jaka Lalana Siap Membuka Lanskap Eksotis Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur

Ia menyebut dermaga itu juga menjadi bagian awal kisah perpindahan warga dari Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dibawa Belanda untuk bermukim di Ujunggenteng, sebelum diberangkatkan ke Suriname atau Kalimantan.

Keunikan Dermaga Bagalbatre semakin terasa saat kondisi laut surut ekstrem. Pada momen tertentu, air dapat surut hingga sekitar 20 kilometer dari bibir pantai menuju deburan ombak, sehingga warga dan pengunjung dapat berjalan lebih dekat dan menyaksikan langsung sisa-sisa bangunan.

“Ketika surut, pengunjung bisa benar-benar merasakan bagaimana posisi dan fungsi dermaga itu di masa lalu. Sensasinya sangat berbeda,” kata Agis.

Lokasi Dermaga Bagalbatre terbilang mudah dijangkau. Dari Kota Sukabumi, pengunjung menempuh perjalanan sekitar 90 kilometer atau kurang lebih tiga jam. Sementara dari Jakarta, jaraknya 200-an kilometer. Akses utamanya melalui jalan provinsi ruas Surade–Ujunggenteng sepanjang 23,4 kilometer dengan kondisi jalan cukup baik.

Dalam catatan sejarah, salah satu penggagas Dermaga Bagalbatre adalah Charles Edgar (Eddy) du Perron, sastrawan dan penulis esai Hindia Belanda. Berdasarkan sumber Wikipedia dan arsip koran Het Vederland terbitan 12 September 1911, E du Perron dikenal sebagai tokoh yang memiliki simpati besar terhadap gerakan nasionalisme Indonesia.

Ia lahir di Meester Cornelis (kini Jatinegara) pada 2 November 1899 dan merupakan keturunan Huguenot Prancis yang bermigrasi ke nusantara sebagai pegawai VOC.

E du Perron bersahabat dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ernest Douwes Dekker dan Sutan Sjahrir. Karya terkenalnya antara lain Het land van herkomst (1935) atau Tanah Asal-usul, serta sejumlah novel, puisi, dan esai yang kritis terhadap kolonialisme.

“Fakta bahwa tokoh seperti Eddy du Perron pernah terlibat atau memiliki keterkaitan dengan kawasan ini menambah nilai historis Dermaga Bagalbatre,” jelas Agis.

Untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda, Agis memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), melalui media sosial yang dikelolanya yakni Sejarah Jampang. Ia melakukan restorasi foto dan video lama agar visual sejarah di Kabupaten Sukabumi, termasuk tokoh penggagas dermaga, dapat dinikmati dengan lebih hidup dan berwarna.

“Kami membuat foto atau video yang direstorasi menggunakan AI, supaya masyarakat bisa menikmati sejarah dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami,” katanya.

Editor : Oksa Bachtiar Camsyah

Tags :
BERITA TERKAIT