SUKABUMIUPDATE.com - Potret infrastruktur di Pedesaan Sukabumi seakan menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Daerah (Pemda) yang tak kunjung usai. Pasalnya, fenomena protes warga hingga potret memprihatinkan kerap kali muncul di setiap periode kepemimpinan.
Berdasarkan catatan redaksi sukabumiupdate.com, fenomena itu sering kali muncul di tengah masyarakat Pedesaan wilayah Sukabumi bagian Selatan, mulai dari aksi protes ibu-ibu yang menanam padi di tengah jalan berlumpur, mengganti nama jalan menjadi ‘Tanjakan Bagong’ hingga fenomena pertaruhan nyawa masyarakat desa yang harus menandu orang sakit menyusuri jalan terjal berbatu hingga seberangi sungai akibat akses jalan yang tidak layak dilalui kendaraan.
Terbaru, dua fenomena memprihatinkan terjadi di Kecamatan Tegalbuleud dan Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, dua pasien ibu pasca melahirkan terpaksa ditandu menggunakan kain sarung dan bambu sebagai penopang menuju fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Bentuk Protes, Emak-emak di Pabuaran Sukabumi Tanam Padi di Tengah Jalan Rusak
Di Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi pada Senin 15 Desember 2025, seorang ibu pasca melahirkan yang mengalami pendarahan hebat harus segera mendapatkan pertolongan medis. Namun apa daya, kondisi jalan berlumpur tak dapat dilalui kendaraan memaksa warga desa menandu pasien menyusuri jalan berlumpur, kebun hingga seberangi sungai.
“Jalan Kabupaten ruas Bangbayang-Cibugel rusaknya sudah parah, kalau hujan, jalan penuh lumpur dan kubangan, kendaraan sama sekali tidak bisa lewat, Jembatan Sungai Cimahpar itu hanyut sejak 4 Desember 2024. Jadi warga terpaksa turun ke sungai dan menyeberang. Benar-benar harus ekstra hati-hati saat menandu pasien,” ujar Dede selaku warga setempat.
Sementara itu, peristiwa serupa juga terjadi di wilayah Desa Mangunjaya, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi pada Kamis 1 januari 2026. Seorang ibu pasca melahirkan terpaksa ditandu menuju puskesmas setempat karena plasenta yang tak kunjung keluar usai melahirkan.
Baca Juga: Jalan Rusak Parah, Ibu di Bangbayang Ditandu Seberangi Sungai Usai Pendarahan Saat Melahirkan
“Persalinan terjadi di rumah, namun setelah bayi lahir, plasenta belum keluar sehingga harus segera dirujuk ke Puskesmas Waluran. Pasien ditandu hingga ke jalan yang aman di Kampung Susukan Cagak, kemudian dibawa menggunakan ambulans Pemdes Mangunjaya ke Puskesmas Waluran. Jarak dari rumah hingga ke mobil ambulans kurang lebih dua kilometer,” ungkap Nopi selaku Bidan Desa Mangunjaya.
Dua Bentuk Protes Warga Untuk Infrastruktur Jalan yang Bobrok.
Pada tahun 2024 lalu, aksi seorang emak-emak menanam padi di tengah kondisi jalan rusak berat dan nampak berlumpur viral di media perpesanan whatsApp. Aksi menanam padi itu disebut sebagai bentuk protes warga terhadap infrastruktur jalan dengan kondisi sangat buruk di Kampung Citalaga, Desa Ciwalat, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi.
“Rusak parah, apalagi musim hujan seperti ini. Oleh karena itu warga protes dengan aksinya menanam padi di ruas jalan yang menghubungkan dengan Desa Sukajaya, Kecamatan Kalibunder,” ungkap Idik salah satu warga desa.
Baca Juga: Jalan Rusak Parah, Seorang Ibu di Waluran Terpaksa Ditandu ke Puskesmas Usai Melahirkan
Protesan serupa dengan gaya berbeda juga dilakukan oleh warga Desa Bantarsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, mereka mengaku kesal dengan kondisi jalan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki. Alhasil, warga bersepakat untuk mengganti nama jalan dengan nama ‘Tanjakan Bagong’ sebuah kritik bernada umpatan.
“Saking kesalnya warga, tiap lewat tanjakan ini sering motor selip, jatuh, bahkan mobil juga susah naik. Pas lagi emosi, sering keluar kata ‘Bagong’ atau Babi. Dari situ akhirnya warga sepakat menyebutnya ‘Tanjakan Bagong’,” ujar Ibay warga setempat.
Editor : Asep Awaludin