SUKABUMIUPDATE.com - Peristiwa bencana alam yang terjadi pada Desember 2025 lalu di sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi mengakibatkan banyak infrastruktur jalan hingga jembatan penyeberangan rusak. Akibatnya, aktivitas masyarakat menjadi terhambat bahkan siswa harus bertaruh nyawa karena terpaksa menyeberangi harus menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah.
Seperti diketahui, potret memilukan terjadi kepada sejumlah pelajar di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, mereka terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi sungai Cimandiri menggunakan perahu karet milik BPBD akibat jembatan penyeberangan yang putus diterjang luapan air sungai pada 28 Desember 2025 lalu.
Selain itu, berdasarkan informasi yang diterima sukabumiupdate.com, para pelajar yang datang dari berbagai kampung itu setiap hari harus menyebrangi sungai menggunakan perahu karet, mengingat jalur darat alternatif menuju sekolah harus ditempuh belasan kilometer dan akan menguras banyak waktu.
Baca Juga: Tak Ditemukan Tanda Keberadaan 3 Korban, Operasi SAR di Tambang Emas Pongkor Ditutup
Hal tersebut dibenarkan oleh Popi, salah satu orang tua siswa yang setiap hari harus mengantar anaknya pergi ke sekolah dengan penuh kekhawatiran sungai kembali meluap.
“Kalau pulang lewat sana harus mutar jauh. Kalau mutar bisa hampir tiga kali lipat jaraknya, jadi saya lewat sini saja,” ujar Popi kepada sukabumiupdate.com, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, saat debit air Sungai Cimandiri meningkat, satu-satunya jalur alternatif adalah melewati area perusahaan PT Siam Cement Group (SCG) dengan izin pihak perusahaan.
“Kalau sungai meluap, terpaksa mutar lewat SCG. Tidak setiap hari bisa menyeberang. Rumah saya di Desa Tanjungsari, jadi bolak-balik hanya untuk antar anak sekolah. Kadang pagi harus menunggu lama, akhirnya saya pulang dulu,” keluhnya.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan perbaikan jembatan agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal serta pendidikan dan keselamatan anak terjamin.
Editor : Asep Awaludin