Sukabumi Update

13 Motif Ber-HAKI, Bangkitkan Kembali Batik Pakidulan Warisan Geopark Ciletuh

Kepala Desa Purwasedar, Defi Susandi saat mengunjungi sanggar Batik Pakidulan. (Sumber : Dok Pemdes Purwasedar).

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah Desa (Pemdes) Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, berinisiatif membangkitkan kembali kerajinan khas Geopark Ciletuh Palabuhanratu berupa Batik Pakidulan. Upaya ini dilakukan untuk menghidupkan kembali potensi budaya sekaligus ekonomi kreatif desa yang sempat mati suri sejak pandemi Covid-19.

Kepala Desa Purwasedar, Defi Susandi, mengatakan Batik Pakidulan merupakan warisan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah serta daya saing tinggi. Bahkan, batik khas Purwasedar ini pernah mengharumkan nama Kabupaten Sukabumi hingga ke kancah internasional.

“Batik Pakidulan didirikan pada tahun 2016 di Kampung Cikaret, Desa Purwasedar. Pada awal berdirinya, geliatnya sangat terasa dengan adanya sanggar batik dan puluhan warga yang terlibat sebagai pengrajin batik tulis,” ujar Defi Susandi kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: Lindungi Warga dari Banjir dan Longsor, Pemprov Jabar dan BMKG Gelar Modifikasi Cuaca

Saat itu, Kampung Cikaret dikenal luas dengan sebutan Kampung Batik Purwasedar. Keberadaan sanggar Batik Pakidulan juga menjadi bagian dari daya tarik budaya di kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu.

Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, aktivitas Batik Pakidulan perlahan meredup hingga nyaris tidak terdengar lagi. Kondisi tersebut diperparah setelah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni Bio Farma, yang sebelumnya berperan sebagai bapak angkat, tidak lagi memberikan pendampingan.

Batik Pakidulan. | Dok Pemdes PurwasedarBatik Pakidulan. | Dok Pemdes Purwasedar.

“Sejak ditinggal Bio Farma, praktis tidak ada lagi aktivitas produksi. Padahal, di masyarakat masih ada warga yang memiliki keterampilan membatik tulis,” ungkapnya.

Setelah vakum selama beberapa tahun, Pemdes Purwasedar kini kembali berupaya menggerakkan para pengrajin lokal. Menurut Defi, sebagian pengrajin sebenarnya masih aktif membuat batik tulis, meski dalam jumlah yang sangat terbatas.

Baca Juga: Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI

“Kendalanya selama ini adalah peralatan dan bahan kain. Itu yang menjadi fokus kami untuk dicarikan solusi agar para pengrajin bisa kembali produktif,” jelasnya.

Batik Pakidulan sendiri memiliki lebih dari 50 motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya lokal Geopark Ciletuh. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 motif telah resmi terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Adapun motif-motif yang telah memiliki HAKI antara lain Engkang-engkang, Centreng (Jurang), Manuk Mupuk, Karang Bolong, Rereng Cimarinjung, Beulah Kopi, Penyu Midang, Tapak Liman, Rereng Bintang Laut, Lauk Pari, Tegal Sabuk, Mutiara Laut Kidul, serta Waffle.

Defi menambahkan, selama ini produksi Batik Pakidulan tidak pakem, hanya produksi masih terbatas. Pada masa jayanya, sedikitnya 35 ibu-ibu warga setempat bisa terlibat dalam proses produksi ketika pesanan sedang banyak. Namun kini, pesanan hanya berkisar beberapa potong saja.

“Kondisi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, di mana banyak pesanan yang tidak dibayar. Sekarang kami dari pemdes membantu mempromosikan, mencari investor, serta menggerakkan PKK, baik untuk belajar membatik maupun untuk keperluan seragam batik,” terangnya.

Selain itu, jajaran Pemdes Purwasedar juga didorong untuk menggunakan Batik Pakidulan sebagai bentuk dukungan nyata. Bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin belajar atau berkunjung ke sanggar Batik Pakidulan, Pemdes membuka kesempatan dengan ketentuan biaya tertentu.

Pemdes Purwasedar berharap kebangkitan kembali Batik Pakidulan tidak hanya berperan dalam pelestarian budaya lokal, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa melalui sektor ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

“Ini bukan sekadar soal batik, tetapi tentang identitas, kebanggaan daerah, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Defi Susandi.

 

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT