SUKABUMIUPDATE.com - Suara tembakan di Jumat malam 30 Januari 2026, mengagetkan sekaligus memecah hening malam warga Kampung Pamoyanan, Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.
Warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah untuk memastikan kondisi sekitar setelah terdengar letusan tembakan. Namun setelah ditelusuri, suara tersebut berasal dari kegiatan perburuan babi hutan yang dilakukan oleh tim pemburu dari Perbakin dalam rangka pengendalian hama.
Edi, salah seorang warga setempat mengatakan suara tembakan terdengar cukup jelas yang sumbernya dari belakang rumah. Suara letupan tembakan itu pun mengagetkan warga.
“Awalnya kaget, terdengar suara tembakan ‘darderdor’ dari belakang rumah. Warga pada keluar rumah, dikira ada apa,” ujar Edi kepada Sukabumiupdate.com, Sabtu (31/1/2026).
Baca Juga: Bukit Kencana Ciletuh, Spot Favorit Nikmati Sunset Eksotis di Geopark Ciletuh
Ia menjelaskan, lokasi perburuan berada di lahan pertanian yang jaraknya sekitar 300 meter dari pemukiman warga, tepatnya di kawasan Leuweung Pamoyanan. Dari hasil perburuan tersebut, tim pemburu berhasil melumpuhkan total sembilan ekor babi hutan.
Menurut Edi, suara tembakan pertama sudah terdengar sebelum waktu Magrib. Pada saat itu, pemburu berhasil mendapatkan dua ekor babi hutan. Setelah itu, suasana sempat kembali sepi dan tidak terdengar suara tembakan dalam waktu cukup lama.
“Tembakan pertama sebelum Magrib, dapat dua ekor. Setelah itu lama tidak ada suara lagi,” jelasnya.
Namun, sekitar pukul 23.00 WIB, suara tembakan kembali terdengar dan berlanjut hingga malam. Pada sesi perburuan kedua tersebut, pemburu kembali berhasil melumpuhkan tujuh ekor babi hutan, namun babi yang terakhir baru ditemukan pada pagi hari.
Baca Juga: Ngaku Dibegal, Polisi Pastikan Pria Terikat dalam Mobil di Cisaat hanya Rekayasa: Dia mau Nikah
Kemudian babi-babi hutan yang berhasil ditangkap lalu diikat di mobil pemburu yang terparkir di jalan provinsi ruas Tamanjaya–Palangpang, sehingga menarik perhatian warga yang melintas maupun yang datang ke lokasi.
Edi menambahkan, sebagian warga, khususnya para petani, justru merasa senang dengan adanya perburuan tersebut. “Sebagian petani malah senang, karena babi hutan itu selama ini merusak tanaman padi,” katanya.
Ia mengungkapkan, perburuan dilakukan berdasarkan laporan warga yang mengeluhkan banyaknya babi hutan yang merusak huma. Setelah dilakukan pemantauan, populasi babi hutan di kawasan tersebut memang terbilang sangat banyak.
“Awalnya ada laporan warga, katanya banyak babi hutan merusak padi. Setelah dipantau, ternyata benar jumlahnya sangat banyak di Leuweung Pamoyanan,” pungkas Edi.
Editor : Ikbal Juliansyah