Sukabumi Update

Isi Surat Wasiat Penjaga Sekolah yang Tewas Tergantung di Warungkiara Beredar, Sebut 2 Nama P3K

Isi tulisan yang diduga dari secarik kertas yang digenggam korban. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Secarik kertas yang diduga surat wasiat milik D (48 tahun) seorang penjaga sekolah yang ditemukan tewas tergantung di belakang sekolah di wilayah Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi ditemukan dalam genggaman tangan korban.

Dilihat sukabumiupdate.com, isi tulisan dalam secarik kertas itu diduga merupakan curahan hati korban selama menjadi penjaga sekolah yang diungkapkan untuk terakhir kalinya.

Baca Juga: Kertas Berisi Dugaan Bullying dan Sebut Guru PPPK, Penjaga Sekolah di Ubrug Sukabumi Tewas Tergantung

Berikut isi tulisannya yang dibuat menggunakan bahasa sunda:

‘Urang mah nyeri hate ku ngan Pak Aep ejeung Bu Meli. Kahiji Pa Aep popolotot wae ka urang tisaprak diangkat jadi P3K. Mitnah ngajual tabung gas, tabung gas anu sakola aya. Urang mah ngajual gas oge lain anu batur, anu urang. Tuluy eta galon oge lain anu sakola, anu barudak sakola anu baheula.

Kadua bu Meli oge tisaprak diangkat jadi P3k ka urang teh popolotot wae, urang mah nyeri hari hayang meuli sapu injuk oge teu dipangmeulikeun, keur kotor mah make sapu kelas teh osok nyentak. Ari ayeuna mah tos diangkat jadi P3k mah hayang make sapu teh nuduhkeun nitah make sapu anu di kelas.

Naon sababna urang kaluar, manehna oge anu dua kudu kaluar. Lamun embung kaluar wani sabaraha kanyenyerian urang, wani duaan 20 juta lamun teu wani kudu kaluar 2 nana. Urang mah nyeri pisan.

Mang mikenkeun buku dina dus, lain anu sakola, anu bu Yiyin jeung printer, infokus, laptop dimana anterkeun atuh tong cicing wae di imah. Terus lamun arek nitah anu gawe tong nitah bah Dayat, sabab aya anu ngomong ka urang ulah nitah nyieun ka manehna eceuk urang Ubrug’

Baca Juga: DPRD Ungkap Pemprov Jabar Hentikan Bantuan untuk Sekolah Swasta Tahun 2026

Berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

‘Saya sangat sakit hati dengan Pak Aep dan Bu Meli. Pertama, Pak Aep sejak diangkat menjadi P3K selalu bersikap galak kepada saya. Saya dituduh menjual tabung gas, padahal tabung gas ada di sekolah. Saya menjual gas juga bukan milik orang lain, tapi milik saya sendiri. Terus galon juga bukan milik sekolah, tapi milik anak-anak sekolah yang dulu.

Kedua, Bu Meli juga sejak diangkat menjadi P3K selalu bersikap galak kepada saya. Saya sampai sakit hati, ingin membeli sapu ijuk saja tidak diperbolehkan. Kalau sedang kotor, saya memakai sapu kelas malah sering dibentak. Tapi sekarang setelah diangkat menjadi P3K, kalau ingin menyapu malah disuruh menggunakan sapu yang ada di kelas.

Alasan saya keluar, mereka berdua juga harus keluar. Kalau tidak mau keluar, berani tidak menanggung rasa sakit hati saya, berani berdua mengganti 20 juta? Kalau tidak berani, harus keluar berdua.
Saya benar-benar sangat sakit hati.

Tolong berikan buku yang di dalam dus itu bukan milik sekolah, tapi milik Bu Yiyin. Begitu juga printer, infokus, dan laptop, tolong antar ke tempatnya, jangan dibiarkan saja di rumah. Lalu kalau ingin menyuruh orang bekerja, jangan menyuruh Bah Dayat, karena ada yang bilang ke saya supaya jangan menyuruh dia, kata orang Ubrug’.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Air Bersih, Warga Sirnamekar Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai Cikaso Sukabumi

Diberitakan sebelumnya, Ketua Rt Setempat, Asep membenarkan bahwa saat ditemukan, petugas mendapati korban dalam keadaan menggenggam secarik kertas di tangan kirinya. Kendati demikian, Asep mengaku tidak mengetahui secara pasti tentang isi surat tersebut.

“Iya, surat wasiat ada di tangannya, cuman kalau isinya saya nggak tahu soalnya nggak dibuka, itu Polsek yang berwenang,” kata Asep.

“Kalau masalah surat wasiat saya nggak mengetahui persis isi suratnya, yang saya tahu korban pengang kertas aja, untuk masalah isinya saya nggak tahu. Cuman memang waktu dibuka sama polisi juga langsung ditutup lagi,” pungkasnya.

Catatan redaksi: Berita ini ditulis dengan tujuan memberikan informasi kepada publik. Redaksi tidak bermaksud mengglorifikasi atau mendorong tindakan mengakhiri hidup dalam bentuk apa pun. Jika Anda atau orang yang Anda kenal memiliki kecenderungan mengakhiri hidup atau masalah kesehatan mental segera cari bantuan dari tenaga profesional, keluarga, atau layanan yang disediakan pemerintah.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT