Sukabumi Update

Hidup Sebatang Kara, Nenek Lansia di Purabaya Sukabumi Tempati Rumah Nyaris Ambruk

Kondisi rumah serta Nenek Sarkiah, seorang lansia sebatang kara di Purabaya Sukabumi yang tempati rumah nyaris ambruk. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Di sudut Kampung Cicurug, Desa Margaluyu, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah rumah panggung berukuran sekitar 3 x 4 meter yang tampak rapuh termakan usia. Dinding kayu mulai keropos serta atap yang bocor di setiap sudut ruangan menjadi tempat Sarkiah bernaung, seorang lansia 75 tahun yang hidup seorang diri.

Lebih dari 20 tahun, Sarkiah menempati rumah tersebut. Seiring waktu, hampir seluruh material bangunan lapuk. Bahkan, bagian belakang atap rumahnya sudah ambruk. Saat hujan turun, rumah itu tak lagi mampu memberi rasa aman.

“Kalau hujan, nenek biasanya berpindah-pindah mencari bagian yang aman di tengah ruangan rumah, soalnya yang belakang sudah tidak aman, begitupun dengan ruang kamarnya,” ujar Osa (35 tahun), cucu Sarkiah, kepada Sukabumiupdate.com, Selasa (3/2/2026).

Baca Juga: Akses Jalan Nasional Palabuhanratu–Sukabumi Lumpuh Akibat Pohon Tumbang di Bantargadung

Diketahui, Sarkiah memiliki tiga orang anak, namun ketiganya sudah berkeluarga dan tinggal di rumah yang berbeda meski masih di wilayah Desa yang sama. Anak Sarkiah menyebut telah berupaya membawa ibunya untuk tinggal bersama, namun Sarkiah memilih tetap menempati rumah tersebut dengan alasan banyaknya kenangan bersama mendiang suami.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Sarkiah mengandalkan pemberian dari anak-anaknya. Dengan penghasilan seadanya, mereka menyisihkan sebagian untuk kebutuhan makan sang ibu. Namun kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat mereka belum mampu memperbaiki rumah yang kian hari semakin mengkhawatirkan.

“Bukan anak-anaknya tidak mau memperbaiki rumah, tapi memang kondisinya serba kekurangan,” kata Osa.

Bantuan Sosial dari Pemerintah Setempat.

Menurut Osa, beberapa tahun lalu, Sarkiah sempat menerima bantuan sosial berupa uang tunai sebesar Rp400 ribu dan sebuah kartu bantuan. Namun bantuan tersebut hanya diterima satu kali. Kini, kartu bantuan itu pun sudah tidak diketahui keberadaannya.

“Dulu memang pernah ada bantuan, tapi cuma sekali itu saja. Setelahnya tidak pernah lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Nasib Hulu Sukabumi dan Ancaman Alih Fungsi Lahan

Rumah Sarkiah juga pernah direhabilitasi, namun hanya sebatas penggantian kayu atap. Perbaikan itu dilakukan sudah lama, saat kakek Osa masih hidup. Lima tahun lalu, sang kakek meninggal dunia, meninggalkan Sarkiah seorang diri di rumah yang semakin renta.

Osa mengungkapkan, pihak pemerintah desa sempat datang untuk mensurvei kondisi rumah neneknya. Petugas mengambil beberapa foto rumah, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang dirasakan keluarga.

“Waktu itu dari desa datang, rumah difoto-foto, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi,” katanya dengan nada berharap.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Desa Margaluyu, Kamal, menyampaikan bahwa rumah Sarkiah sebenarnya sudah masuk dalam usulan bantuan. “Di cek di database sudah diusulkan, tinggal menunggu giliran. Insyaallah tahun sekarang bisa terwujud,” ujarnya singkat.

Kini, di usianya yang senja, Sarkiah hanya bisa menunggu. Ia berharap ada perhatian dan bantuan agar bisa tinggal dengan aman dan layak. Sementara itu, rumah panggung kecil di Kampung Cicurug terus berdiri dalam kondisi rapuh menjadi potret nyata kemiskinan yang masih tersisa di pelosok Sukabumi.

Editor : Asep Awaludin

Tags :
BERITA TERKAIT