SUKABUMIUPDATE.com – Kondisi bangunan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Cicayur yang berlokasi di Kampung Ciwalat, Desa Sukajaya, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, kian memprihatinkan. Sekolah yang memiliki empat ruang kelas, satu ruang kantor, dan satu gudang tersebut seluruhnya mengalami kerusakan cukup parah.
Saat ini MIS Cicayur menampung sekitar 80 siswa. Namun, keempat ruang kelas yang tersedia sudah tidak lagi layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kerusakan paling parah terlihat pada bagian atap yang bocor, dinding yang retak, serta lantai kelas yang belum dikeramik.
Salah satu pengajar MIS Cicayur, Yeni Nuraeni, mengungkapkan bahwa ruang kelas untuk siswa kelas satu dan dua bahkan belum dikeramik dan hanya diplester. Perbaikan tersebut dilakukan menggunakan dana pribadi para guru.
“Ruang kelas satu dan dua itu belum dikeramik, cuma diplester saja, itupun pakai uang pribadi. Kebetulan saya mengajar di kelas itu,” ujar Yeni kepada Sukabumiupdate.com, Jumat (6/2/2026).
Baca Juga: TKA Terintegrasi ANBK, Disdik Kota Sukabumi Siapkan Sistem Evaluasi Baru Siswa
Ia menjelaskan, keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah terpaksa menggabungkan beberapa tingkat kelas dalam satu ruangan. Kelas satu dan dua digabung, begitu pula kelas lima dan enam.
“Kalau cuaca ekstrem dan hujan deras, atap bocor parah, anak-anak terpaksa diliburkan karena takut ambruk,” tambahnya.
Kondidi bagian dalam ruangan kelas MI Swasta Cicayur Sukabumi yang nampak tidak layak.
Selain atap yang bocor, kondisi bangku dan meja belajar juga sudah tidak layak pakai. Bahkan, di setiap ruang kelas dipasang penyangga di bagian tengah ruangan untuk mencegah bangunan roboh.
“Penyangga itu dari bambu dan kayu, karena gentengnya sudah lama rusak. Dari pertama saya mengajar tahun 2008, kondisi atap memang sudah rusak,” jelasnya.
Baca Juga: Disdik Kota Sukabumi Sosialisasikan TKA ke Sekolah, Tekankan Prinsip Sukarela dan Ramah Anak
Yeni juga menuturkan bahwa ruang kelas enam sebelumnya sempat mendapatkan bantuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Namun, saat ini kondisi atap ruangan tersebut kembali mengalami kerusakan.
Tak hanya kondisi bangunan, kesejahteraan tenaga pengajar pun menjadi persoalan. Yeni mengaku mulai mengajar sejak 2008 dengan honor awal hanya sebesar Rp150 ribu per bulan. Saat ini, honor yang diterimanya sebesar Rp800 ribu per bulan, dan itu pun baru berjalan sekitar tiga tahun terakhir.
“Pengangkatan guru juga sulit. Saya ngajar dari 2008, baru tahun ini ada panggilan PPG sertifikasi,” ungkapnya.
Dengan jarak rumah sekitar 700 meter dari sekolah, Yeni mengaku setiap hari berjalan kaki demi tetap menjalankan pengabdian sebagai tenaga pendidik.
Baca Juga: Gempa Tektonik M6,4 Guncang Pacitan Jatim dan Sekitarnya, Atap Rumah Ambruk
Sementara itu, Kepala Desa Sukajaya, Ade Firman, membenarkan kondisi sarana pendidikan MIS Cicayur yang dinilainya sangat memprihatinkan. Ia menyebutkan bahwa pihak desa setiap tahun telah mengusulkan perbaikan sekolah tersebut melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes).
“Setiap tahun kami masukan dalam Musrenbangdes. Namun karena MIS berada di bawah naungan Kementerian Agama, dalam hal ini Depag Kabupaten Sukabumi, kewenangannya ada di sana,” kata Ade Firman.
Ia menambahkan, selama ini perbaikan yang dilakukan hanya bersifat sementara dan ala kadarnya, seperti perbaikan atap yang rusak.
“Keberadaan sekolah ini sangat diharapkan oleh masyarakat. Kami berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun para donatur untuk membantu perbaikan sarana pendidikan MIS Cicayur,” pungkasnya.
Editor : Asep Awaludin