SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah bangunan tembok beton yang berdiri di aliran Sungai Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, mendadak viral di media sosial. Narasi yang beredar menuding pembangunan tersebut dilakukan secara sewenang-wenang dan mempersempit badan sungai.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh berbeda dari sekadar isu lingkungan. Pembangunan tembok tersebut ternyata merupakan aksi darurat swadaya untuk menyelamatkan pemukiman warga dari ancaman longsor.
Pantauan di lokasi pada Jumat (6/2/2026), menunjukkan kondisi yang cukup mencekam. Sebuah rumah warga berdinding tembok putih tampak berdiri kritis tepat di bibir tebing sungai yang tergerus parah akibat banjir bandang tahun 2024. Fondasi bangunan tersebut terlihat menggantung di atas aliran sungai yang deras dan berwarna keruh.
Tembok beton yang diperdebatkan tersebut sejatinya adalah Tembok Penahan Tanah (TPT). Struktur ini dibangun mengikuti alur tebing yang hilang diterjang banjir untuk menahan tanah agar tidak semakin ambles.
Warga setempat menegaskan bahwa pembangunan tembok tersebut adalah langkah darurat penyelamatan, bukan kesewenangan.
Baca Juga: Heboh Belatung Ditemukan di Menu Ayam MBG PAUD Palabuhanratu, SPPG Buka Suara
Heris Sponga, warga sekaligus Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, menjelaskan bahwa area yang kini ditembok sejatinya adalah daratan yang hilang akibat banjir bandang.
"Itu teh beton. Bikin beton itu, karena kemarin kan banjir besar. Jadi kalau enggak dibeton, pasti ke rumah warga, termasuk rumah saya juga pasti habis gitu ya," ujar Heris kepada awak media di lokasi.
Ia menyebut, aliran Sungai Ciseureuh telah bergeser drastis, menggerus daratan sejauh 15 hingga 20 meter dan membuat posisi rumah warga berada dalam kondisi sangat berbahaya.
"Antara 15 sampai 20 meter lah kalau ke ujung mah ya (daratan yang hilang). Sekarang mepet ke rumah gitu. Iya, sudah ada (rumah yang menggantung)," jelasnya sambil menunjuk ke arah lokasi.
Heris juga mengungkapkan kekecewaan warga karena belum adanya solusi konkret dari pemerintah setempat. Pembangunan TPT akhirnya dilakukan secara swadaya oleh pemilik lahan, Abdul Sukin alias Pak Atok, dengan biaya pribadi yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
“Ini untuk meringankan pemerintah. Karena faktanya pemerintah cuma datang lihat-lihat, tapi nggak ada solusi. Pak Atok berani berkorban hampir Rp500 juta demi menyelamatkan warga. Kalau enggak dibeton sama ini, ini rumah pasti habis," tegas Heris.
Menurutnya, tembok tersebut murni difungsikan untuk pengamanan aset dan keselamatan lingkungan, bukan untuk pembangunan bangunan baru.
“Ini lahan pribadi yang diamankan. Tidak akan dibangun apa-apa, hanya untuk menahan tanah supaya tidak jadi aliran sungai,” tambahnya.
Kondisi ini, kata Heris, mirip dengan bencana pergeseran sungai yang sebelumnya terjadi di Kampung Kawungluwuk dan Babakan.
Baca Juga: KDM Jelaskan Sebab Warga Babakan Cisarua Korban Banjir Simpenan Tak Dapat Rp10 Juta
Hal senada disampaikan Ruyatna, warga setempat. Ia menjadi saksi bagaimana ganasnya banjir 2024 yang menghanyutkan fasilitas MCK hingga kandang domba.
Hal senada disampaikan warga Kampung Cisaat, Ruyatna, yang menyebut lokasi tersebut dulunya merupakan daratan berbukit, bukan badan sungai. Ia pun menjadi saksi bagaimana ganasnya banjir 2024 yang menghanyutkan fasilitas MCK hingga kandang domba.
"Sepengetahuan saya, dulunya itu emang tanah itu agak berbukit ya. Tapi setelah ada bencana kemarin 2024, itu tergerus oleh luapan Sungai Kali Ciseureuh ini. Sehingga ada satu MCK yang, termasuk kandang domba yang hanyut," kata Ruyatna.
Ia menegaskan, tanah yang kini ditanggul memiliki legalitas kepemilikan, dan pembangunan TPT tersebut menyelamatkan sedikitnya delapan rumah warga di sekitar Sungai Ciseureuh dari ancaman longsor.
"Dan sekarang ini, sama yang punya lahan ditanggul, bukan menanggul Sungai Kali Ciseureuh, tapi mengamankan termasuk pertama aset-aset beliau, dan kedua itu mengamankan warga yang ada di sekitar pemukiman, termasuk Kampung Ciseureuh ini," paparnya.
Ruyatna menambahkan, saat banjir besar terjadi, luapan air hampir menghanyutkan rumah warga. Kehadiran TPT justru disyukuri karena mengurangi risiko bencana susulan.
"Kurang lebih jumlahnya ada delapan rumah. Kalau persisnya, Sungai Kali Ciseureuh ini meluapnya sangat besar, sehingga tergerusnya kandang domba dan MCK itu terhanyut ke bawah aliran Sungai Kali Ciseureuh ini. Dan ini juga sekarang kalau bisa dicek langsung ke lokasi, ada satu rumah yang hampir tergerus, Pak," ceritanya.
"Dan alhamdulillah sekarang udah ditanggul sama pemilik lahan itu, sehingga alhamdulillah warga terbantu juga," pungkasnya.
Camat Simpenan Apresiasi Inisiatif Warga
Camat Simpenan, Supendi, turut menanggapi polemik tersebut. Ia justru memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif warganya dalam membangun TPT sebagai langkah mitigasi bencana.
"Saya sangat mengapresiasi terutama kaitan kepedulian masyarakat terhadap TPT yang ada di sungai tersebut. Menjaga banjir atau abrasi, dengan efisiensi anggaran pemerintah belum tentu bisa menjawab. Kami sebagai pemerintah tentu mendukung," ujar Supendi.
Supendi mengakui proses penganggaran pemerintah membutuhkan waktu lama, sehingga langkah swadaya warga dinilai membantu.
"Bantaran sungai tetap harus diperhatikan, kita juga dari pemerintah kecamatan kalau menunggu anggaran tentu sangat lama prosesnya. Jadi ketika ada masyarakat berinisiatif ya kita berterima kasih," tambahnya.
Selain melindungi rumah warga, Supendi menyebut TPT tersebut juga berfungsi melindungi jembatan milik pemerintah provinsi serta akses menuju kawasan Geopark Ciletuh.
"Kalau tidak dibangun TPT itu akan mengakibatkan banjir kepada masyarakat, dan jembatan juga akan rusak, itu jembatan milik provinsi ya. Kedepannya pemerintah bisa membangun jembatan karena itu jalur provinsi, jalur geopark," paparnya.
Meski demikian, Supendi memberikan catatan tegas kepada pemilik lahan. Ia mewanti-wanti agar bagian atas tembok tersebut tidak dijadikan bangunan permanen.
"Nah harapannya nanti jangan ada bangunan di atasnya ya, karena masuk ke kawasan bantaran sungai. Baiknya ditanam tegakan (pohon) atau sebagai ruang terbuka hijau," pesan Supendi.
Editor : Denis Febrian